Rusdiyanto cukup lama melewati masa kritisnya. Saat pertama ditujuk rumah sakit Asembagus, dia langsung dimasukan ke ruang operasi. Setelah itu dipindah ke ruang ICU hingga tiga hari. “Korban sudah melewati fase kritisnya, sekarang (kemarin) korban sudah pindah dari ruang ICU ke ruang Mawar nomor 5. Artinya korban sudah dinyatakan membaik,” kata Kepala ICU di rumah sakit Asembagus, Yusuf Indriadi Nur Widodo.
Pertama kali dibawa, kata dia, kondisi korban sudah sangat lemah. Tubuhnya juga berlumuran darah. Apalagi jika melihat luka iris di tiga bagian tubuhnya. Yaitu tangan, leher dan perut. “Irisan yang dilakukan korban tidak sampai kena pembuluh darah yang besar. Urat nadinya juga tidak sampai terpotong,” kata Yusuf, sekaligus teman akrab korban selama tugas di Puskesmas Jangkar.
Hingga kini, belum bisa dipastikan kapan Rusdiyadi diperbolehkan pulang. Karena bekas jahitanya masih basah dan butuh kontrol rutin dari tim medis. Selain itu korban juga membutuhkan perawatan gizi secara teratur.
“Untuk pemulihan mas Rudi itu relatif. Karena harus dilihat dari kondisi mas Rudi. Semisal menunggu luka sembuh total tidak mungkin di sini (rumah sakit) terus. Kalau rawat jalannya masih menunggu benar-benar stabil,” tegas Yusuf.
Dia juga tidak bisa memastikan berapa luka jahitan yang dialami korban. Apalagi dia merupakan kode etik kedokteran yang tidak boleh disampaikan kepada siapapun kecuali kepada pihak keluarga. “Untuk luka jahitnya saya tidak tahu karena saya tidak mengikuti hal tersebut. Hanya saja yg mengurus ada teman saya. Meskipun saya tahu, juga tidak boleh sembarangan bilang,” cetus Yusuf.
Diberitakan sebelumnya, Rudiyanto, warga Desa/Kecamatan Jangkar, mencoba mengakhiri hidupnya dengan mengiris leher dan perutnya menggunakan silet, Jumat lalu (27/1). Beruntung, karyawan Puskesmas Jangkar, itu berhasil diselamatkan oleh orang tuanya sendiri dan dievakuasi ke rumah sakit Asembagus. (hum/pri) Editor : Muhammad Khoirul Rizal