Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Nur Laili Azizah, Sosok Ibu Tangguh yang Jadi Driver Ojek Online

Ali Sodiqin • Jumat, 23 Desember 2022 | 21:08 WIB
JEMPUT PENUMPANG: Nur Laili Azizah, driver ojek online asal Dusun Jalen, Desa Setail, Kecamatan Genteng, hendak menjemput penumpangnya, Rabu (21/12). (SALIS ALI/JPRG)
JEMPUT PENUMPANG: Nur Laili Azizah, driver ojek online asal Dusun Jalen, Desa Setail, Kecamatan Genteng, hendak menjemput penumpangnya, Rabu (21/12). (SALIS ALI/JPRG)
RADAR GENTENG - Sosok ibu-ibu tangguh sejatinya selalu ada di setiap sudut kota. Di wilayah kecamatan Genteng, salah satu kota tersibuk di Kabupaten Banyuwangi, sosok ibu yang menginspirasi dengan selalu berjuang demi kelanjutan hidup bisa dilihat dari Nur Laili Azizah.

Terik matahari, terpaan bulir hujan, hingga dinginnya angin malam, tak pernah sekalipun menyusutkan semangat Laili, sapaan akrab ibu dua orang anak itu, untuk bekerja.

Bukan seperti pekerjaan ibu-ibu pada umumnya, Laili memilih jalan hidup sebagai seorang driver ojek online sejak tiga tahun yang lalu. Tiap hari, menggunakan sepeda motornya, wanita berhijab yang tinggal di Dusun Jalen, Desa Setail, Kecamatan Genteng, itu menggerus aspalan kota demi mendapatkan pundi-pundi rupiah.

Usianya yang sudah 35 tahun. Memang masih cukup produktif untuk membantu suaminya, Saiful Anwar, 40, bekerja. Alasan yang masuk akal. Karena dia dan suami masih harus membesarkan dua orang anak, M. Ardi Yusron, 14, dan Melisa Dewi Nur Azizah, 12.

Seakan tak peduli dengan kondisi kesehatan, Laili yang mengaku pernah bekerja di sawah, hingga buruh di pabrik rengginang itu, bekerja keras sejak matahari terbit sampai sore hari. Jaket biru berlogo perusahaan ojek online setia menemani perjalanannya yang tak hanya mengantar penumpang, melainkan juga barang, dan makanan.

Laili menuturkan, sejak pagi buta, dia harus segera bangun menyiapkan segala keperluan rumah tangga. "Bangun tidur, beres-beres rumah. Lalu antar anak sekolah. Sekalian dengan itu, saya berangkat ngojek," kata Laili kepada Jawa Pos Radar Genteng.

Dalam sehari, Laili mengaku bisa mendapatkan empat hingga lima orderan dari para customer yang wajib berkelamin perempuan juga. Dia memang mengaku tidak pernah mengambil orderan dari customer laki-laki. "Kalau ada yang order, biasanya saya lempar ke driver lain," terangnya.

Banting tulang seharian, penghasilan Laili hanya cukup untuk makan dan jajan anak-anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP). "Sehari bisa dapat Rp 100 ribu lebih. Tapi ini kan cuma niat bantu cari penghasilan tambahan," katanya.

Laili memang tak punya pilihan lain selain mencari penghasilan tambahan. Biaya sekolah anak pertamanya di SMP Cordova yang sekaligus nyantri di Pondok Pesantren (Ponpes) Mambadi'ul Ihsan, Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari, tidak murah. "Suami saya kerja di Bali. Ikut orang di bengkel las. Pendapatannya buat biaya mondok dan sekolah anak. Sedangkan pendapatan saya buat makan sama kebutuhan di rumah," cetusnya.

Tentu, pekerjaan Laili itu terbilang cukup sulit. Selain ia tidak dapat mengurus anak-anaknya dengan maksimal, pekerjaannya berkonsekuensi mengalami kecelakaan. "Pernah sekitar tiga kali kecelakaan. Untungnya tidak fatal. Selain itu, yang bikin berat ya kalau dapat orderan cukup jauh," ungkapnya.

Laili mengaku pernah mendapat orderan mengantar barang ke Kecamatan Wongsorejo, hingga ke wilayah Jember. "Dua daerah itu sementara jadi yang paling jauh. Tapi sebanding dengan penghasilan yang didapat," ujarnya.

Untungnya, meski pekerjaan tersebut berisiko, ia selalu mendapatkan support penuh dari suami, orang tua, hingga mertuanya. "Saya sejak dulu memang aktif (bekerja). Tidak jarang dianggap tomboy. Makanya keluarga kasih support saja," ucapnya.

Yang bikin geleng-geleng lagi, Laili ternyata tak hanya menekuni satu pekerjaan itu saja. Ia juga lihai dalam membuat aneka kue. Sehingga tak jarang mendapatkan pesanan kue tart. "Dalam sebulan bisa dapat orderan kue tiga sampai empat kali. Lumayan, ngejalanin hobi (buat kue) sekaligus dapat uang," paparnya.

Laili mengatakan, mendapatkan orderan kue tart artinya ia harus libur ngojek. Membuat kue sudah seperti healing kecil baginya. "Kerja di jalan kan capeknya minta ampun. Pas dapat orderan kue ini bisa sekalian istirahat. Asal izin dan target orderan (berkaitan dengan kontrak ojek online) terpenuhi. Libur ngojek dulu pasti tidak masalah," Jelasnya.

Sebagai seorang ibu, sosok Laili yang menginspirasi itu sudah selaiknya menjadi panutan dan inspirasi bagi keluarganya.

Sementara itu, momen hari ibu yang tepat hari ini, ternyata menjadi hari yang spesial bagi Laili. Pasalnya, tepat hari ini, ia berulang tahun. "Saya lahir pas hari ibu. Makanya 22 Desember, selalu berkesan bagi saya," paparnya.

Ia sendiri memandang hari ibu adalah hari yang sangat penting. Meski sosok ibu harus dikasihi setiap saat, ia menyebut jika momen hari ibu harus tetap dirayakan. "Untuk sekadar memberikan hadiah, atau mengungkapkan rasa sayang ke ibu kita tentu tidak masalah. Yang jelas kalau untuk mengasihi ibu, harusnya setiap hari," Ungkap dia.

Ia sendiri berharap agar ibu-ibu lain yang punya tanggungan hidup sepertinya, bisa terus semangat. "Selain saya, banyak ibu-ibu lain yang harus banting tulang. Semoga bisa semangat terus, demi kehidupan keluarga," pungkasnya. (sas/als) Editor : Ali Sodiqin
#Ibu Tangguh #Hari Ibu #Driver Ojol