Ikawangi merupakan perkumpulan warga Banyuwangi yang tersebar di berbagai daerah di tanah air dan mancanegara. Mereka berkomitmen memberikan kontribusi dan terus mengembangkan budaya khas Oseng, meski jauh dari tanah leluhur.
Salah satunya yakni Ikawangi Banjarbaru yang sudah eksis sejak tahun 1984. Ikawangi Banjarbaru diinisiasi oleh Mustaqim, warga asal Banyuwangi kota.
Ketua Ikawangi Banjarbaru Sumito mengatakan, saat ini sangat sulit mengajak anggota Ikawangi yang tinggal di Banjarbaru meski hanya sekadar berkumpul. ”Kalau di grup WhatsApp sampai sekarang anggotanya tetap banyak. Tapi, yang standby ikut kegiatan tak sampai 20 orang,” ujarnya.
Sumito mengaku bergabung dengan Ikawangi pada tahun 2006. Kala itu, dia dan sang istri baru setahun merantau di Kalimantan. Sumito masih belum mengerti struktur organisasi serta kegiatan Ikawangi. Namun, menurutnya paguyuban ini dinilai sangat membantu warga Banyuwangi yang tinggal di perantauan.
Berkat perhatian Sumito, akhirnya anggota Ikawangi menunjuk dia sebagai ketua Ikawangi Banjarbaru. ”Saya akui dengan adanya Ikawangi Banjarbaru semakin menumbuhkan rasa persaudaraan di perantauan. Meski hampir tidak ada kegiatan, setidaknya sebulan sekali kami selalu menyempatkan untuk berkumpul,” tutur Sumito sembari tersenyum.
Sumito pun memperlihatkan beberapa foto kegiatan Ikawangi. Pada bulan Oktober 2022, dia dan anggota Ikawangi Banjarbaru mendapat kunjungan dari pejabat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi serta tim Kesenian Banyuwangi dalam acara perhelatan MTQ Nasional XXIX di Kalimantan Selatan. Pertemuan tersebut berlangsung di Kiram Park, Karang Intan, Banjar, Kalimantan Selatan. ”Rasanya senang sekali dulur-dulur Ikawangi Banjarbaru berkesempatan kumpul dan mengikuti pawai kegiatan MTQ,” jelasnya.
Pria kelahiran Desa Wonorejo (perbatasan Banyuwangi dan Situbondo) itu mengatakan, kegiatan akbar Ikawangi Banjabaru yang terakhir yakni ikut terlibat dalam pergelaran Gandrung Sewu Nusantara yang digelar secara online pada 19 Desember tahun lalu. ”Ikawangi dari berbagai negara dan provinsi ikut pergelaran Gandrung Sewu Nusantara. Dari Eropa, Taiwan, dan negara lain. Kebetulan dari Ikawangi Banjarbaru, kami tampil di kantor Gubernur Banjarbaru,” kata Sumito.
Sumito mengaku bangga masyarakat Banyuwangi di seluruh dunia bisa ikut berpartisipasi dalam pergelaran tersebut. Ikawangi mempercayakan pelatih gandrung kepada Sri Hartati. Berhubung wawasan tarian gandrung masih minim, Tatik kemudian meminta bantuan kepada guru seni budaya yang dia kenal. ”Kala itu kami diputarkan musik tarian gandrung langsung dari Banyuwangi lewat Zoom. Terhubung dengan Ikawangi dari berbagai daerah dan negara,” ujarnya.
Sekadar diketahui, Gandrung Sewu Nusantara digelar di tengah pandemi Covid-19. Di Banyuwangi, event spektakuler ini dipusatkan di halaman Pendapa Swagata Blambangan. Sebanyak 75 penari gandrung dari berbagai sanggar tari unjuk kebolehan menari Gandrung Kembang Menur di halaman pendapa bupati.
Secara serentak, atraksi seni ini diikuti penari dari 22 kota di Indonesia di bawah bendera Ikawangi di masing-masing kota plus Hongkong. Jumlah penarinya 250 orang yang menggambarkan peringatan Harjaba ke-250.
Musik pengiring tersentral di pendapa bupati. Selanjutnya, para penari dari berbagai kota tersebut menari di tempatnya masing-masing. Dari Ikawangi Surabaya, Jakarta, Malang, Lampung, Palembang, Sorong, Mimika, dan Nabire ikut menyiapkan tarian di tempat masing-masing. Ada pula dari Banjarmasin, Tarakan, Banjarbaru, Samarinda, Balikpapan, hingga Hongkong.
Sumito yang sehari-harinya bekerja di salah satu perusahaan tambang itu berharap, ke depannya Ikawangi Banjarbaru bisa memiliki struktur organisasi yang jelas. Selain itu, makin rukun dan tetap guyub sesuai slogan yang dimiliki, yaitu Seduluran Selawase.
”Sebenarnya saya juga minim pengetahuan tentang organisasi. Saya sangat berharap Ikawangi di mana pun berada, terutama daerah Banjarbaru selalu rukun, saling membantu, dan menumbuhkan rasa kekeluargaan. Terus terang, kita sama-sama tinggal di perantauan,” kata Sumito. (aif/c1) Editor : Syaifuddin Mahmud