Begitu tiba di petilasan, beberapa warga yang terdiri dari sembilan pria dewasa dan seorang wanita langsung berdoa. Setelah itu mereka menyantap menu pecel pitik yang sudah disediakan. Salah seorang sesepuh kampung masuk ke dalam petilasan. Sembari membakar dupa, sesepuh bernama Sukar itu berdoa di dalam petilasan.
Salah seorang warga Kemiren Haidi Bing Slamet menceritakan, ritual tersebut merupakan tradisi yang dilakukan masyarakat Kemiren, terutama yang punya hajat khusus. Begitu hajatnya terpenuhi, biasanya warga Kemiren akan melakukan selamatan di petilasan Buyut Cili yang merupakan sesepuh kampung.
Dengan menu selamatan berupa pecel pitik, warga Kemiren mengucapkan syukur kepada Allah SWT dengan cara berziarah ke makam leluhur. "Yang punya hajat hari ini saya. Alhamdulillah sudah terkabul. Saya percaya Buyut Cili sebagai jembatan kelahiran kami," kata Haidi.
Pria yang ahli bermain musik tradisional itu mengatakan, ada beberapa hal yang harus disiapkan sebelum menggelar selamatan. Salah satunya pecel pitik yang dimasak tanpa boleh dicicipi selama proses pengolahan. Selain itu, perempuan yang memasak pecel pitik juga harus dalam keadaan suci. ”Tidak boleh sedang datang bulan,’’ imbuhnya.
Setelah masakan matang, pemilih hajat lalu memanggil kerabat atau tetangga. Mereka diajak selamatan dan makan di lokasi petilasan Buyut Cungking. Pecel pitik yang dihidangkan juga harus habis, tidak boleh tersisa. Jika terpaksa tidak habis, harus diberikan kepada para tetangga. "Ritual ini harus mengajak sesepuh atau juru kunci petilasan sebagai pemimpin doa selamatan. Alhamdulillah hajat saya berkesenian diberi kelancaran. Jadi saya bisa menggelar ritual seperti sekarang,’’ tandasnya. (fre/aif) Editor : Syaifuddin Mahmud