Perjuangan Arkandaffa dan Yusril mengikuti ajang lomba bergengsi Asian Science & Mathematics Olympiad for Prymary and Secondary Schools (ASMOPSS) mewakili Indonesia tahun 2022 tingkat Asean akhirnya membuahkan hasil yang sangat memuaskan.
Mereka bahkan tak menyangka bisa sukses meraih capaian yang gemilang itu. Daffa dan Yusril menghabiskan waktu selama empat hari untuk mengikuti lomba sains dan matematika yang diselenggarakan di Bangli, Bali tersebut.
ASMOPSS tahun 2022 seharusnya diselenggarakan di Vietnam. Karena terkendala Covid-19 yang mulai meningkat, negara tersebut menutup akses dan dialihkan di Indonesia. Kegiatan tersebut berlangsung selang beberapa hari kegiatan KTT G20 ditutup.
Yusril menuturkan, sebelum mengikuti perlombaan ASMOPSS, dia lebih dulu mengikuti seleksi tingkat nasional secara online. ”Dari peserta 30, yang lolos hanya 8 anak dan langsung ke Bali ikut lomba,” ujar Yusril.
Untuk mengikuti lomba matematika tingkat Asean tersebut, Yusril berlatih soal secara mandiri dan kursus. Meski sudah berlatih soal dan terbiasa mengikuti lomba, dia mengaku masih merasa gugup. ”Sebelumnya ikut lomba Olimpiade Singapore & Asia Schools Math Olympiad secara online dan dapat medali emas. Dalam lomba ASMOPSS saya masih sedikit nervous,” tuturnya.
Berbeda dengan Yusril, Daffa yang memiliki kemampuan khusus di bidang sains tersebut mengaku tidak gugup. ”Meskipun soalnya lumayan sulit, semua berjalan lancar, seperti mengikuti lomba-lomba sebelumnya,” jelasnya.
Sejak duduk di bangku SD, Daffa terbiasa mengikuti perlombaan. Levelnya tidak hanya wilayah kabupaten atau provinsi, tapi sudah skala nasional. Tahun 2021, dia berhasil mempersembahkan medali emas untuk kompetisi Sains Nasional (KSN).
”Hari pertama mengerjakan tes teori untuk kategori individual. Ada 20 soal pilihan ganda, 10 isian singkat, dan 10 uraian. Soalnya sangat sulit, tapi bisa saya jawab. Ada beberapa soal yang saya lewati,” bebernya.
Usai mengikuti ASMOPSS, peserta diajak berwisata ke beberapa tempat seperti Desa Panglipuran dan Alun-Alun Bali. Daffa mengungkapkan, lomba yang diikuti kali ini sangat mengesankan. Peserta bisa berkenalan dan dapat teman baru dari kota dan negara yang berbeda. ”Kami dikumpulkan dengan teman-teman dari berbagai kota di Indonesia. Ini pengalaman yang sangat menyenangkan,” kata Daffa.
Orang tua Yusril, Marenta, mengaku senang anaknya bisa meraih prestasi yang menggembirakan. Dia bersyukur mendapat karunia Tuhan berupa anak yang sehat dan cerdas. ”Sejak awal saya telah menemukan bakat Yusril. Saya bisa lebih mudah mengarahkan Yusril sesuai minat dan bakatnya,” ujarnya.
Sehari-harinya, Marenta menerapkan pola asuh yang sedikit berbeda dengan anak-anak yang lain. Dia memberikan kemerdekaan kepada sang anak untuk belajar sesuai dengan minat dan bakatnya. ”Mungkin Yusril sangat menonjol di mapel matematika, tapi dia juga mengalami kesulitan di mata pelajaran lain. Tidak saya paksakan harus bisa dan sama seperti pelajaran lainnya,” jelasnya.
Hal senada diungkapkan oleh Jatu Maynar, orang tua Daffa. Selama ini, Jatu memberikan kebebasan kepada sang putra untuk memilih dan menekuni sesuatu yang bermanfaat untuk putranya. ”Bentuk kasih sayang yang saya berikan salah satunya selalu memberi dukungan, memotivasi, dan memberikan fasilitas yang dibutuhkan,” bebernya.
Jatu berharap, prestasi yang didapatkan putranya bisa berlanjut terus hingga jenjang yang lebih tinggi. Prestasi tersebut diharapkan bisa memberikan manfaat kepada tiap orang di sekitarnya. ”Sebagai ibu selalu mendoakan dan berusaha membimbing hingga Daffa bisa mencapai apa yang dicita-citakan,” kata Jatu.
Kepala SMPN 1 Banyuwangi Ahmad Sodiq mengaku bangga memiliki dua siswa yang begitu bertalenta. Didikan orang tua yang luar biasa dan diberkahi kecerdasan, mampu memberikan kontribusi dan dampak positif bagi sekolah. ”Dua murid ini sangat sesuai dengan visi dan misi sekolah, yaitu berwawasan global. Saya berharap ke depan mereka bisa lebih bersinar. Adik-adik kelasnya dapat meniru dan menjadi inspirasi,” tandas Sodiq. (mg5/aif/c1) Editor : Syaifuddin Mahmud