Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Jadi Pengembala Bebek, Kakek Ini Puluhan Tahun Tidur di Pinggir Sawah

Edy Supriyono • Sabtu, 19 November 2022 | 20:04 WIB
MENGHITUNG BEBEK: Tutun, warga Desa Gebangan, Kecamatan Kepongan, memastikan jumlah bebek yang baru masuk ke kandangnya, di pinggir Jalan Raya Desa Landangan kecamatan Kapongan, Kamis (17/11). (HUIMAIDI/JPRS)
MENGHITUNG BEBEK: Tutun, warga Desa Gebangan, Kecamatan Kepongan, memastikan jumlah bebek yang baru masuk ke kandangnya, di pinggir Jalan Raya Desa Landangan kecamatan Kapongan, Kamis (17/11). (HUIMAIDI/JPRS)
JAWA POS RADAR SITUBONDO – Musim panen padi di Desa Landangan, Kecamatan Kapongan, dimanfaatkan Tutun, untuk melepasliarkan ratusan ekor bebek petelur yang diternaknya. Untuk menjaga bebek tersebut, kakek 52 tahun itu harus menginap di pinggir sawah hingga berminggu-minggu dan tidur di gubuk yang terbuat dari terpal.

Keberadaan Tutun di lokasi tersebut tidak sendirian. Dia berdua bersama teman senasibnya yang juga memiliki ratusan bebek. Keduanya sama-sama tidur di pinggir sawah untuk menjaga bebeknya agar tidak hilang.

“Setiap malam, saya tidur di gubuk. Kalau urusan digigit nyamuk sudah biasa, teman setia saya ya autan. Tidur di pinggir sawah jangan berteman dengan obat nyamuk, tetap digigit,” kata Tutun, Kamis (17/11).

Tutun mengaku, keberadaannya di lokasi tersebut sudah dua minggu. Terhitung sejak musim panen padi hingga saat ini. Dan itu sudah biasa dilakukan untuk mengenyangkan bebek peliharannya. “Saya pelihara bebek sejak bujangan, sekarang sudah punya empat cucu, ya tetap pelihara bebek petelur,” kata Tutun.

Dikatakan Tutun, memelihara  bebek tersebut memang harus mencari sawah yang sudah dipenen. Dan harus siap berpindah tempat. Sebab, begitu musim tanam bebek tersebut harus di pindahkan ke tempat lain.

“Rumah saya banyak, ada di Desa Landangan, ada di Mangaran, Pokoknya di setiap tempat ada orang memanen padi saya pasti pindah lokasi. Setiap pindah tempat saya harus bermalam. Di setiap tempoat saya bisa menginap hingga 2 minggu bahkan lebih,” ujar tutun.

Kata Tutun, bebek tersebut bisa saja tidak dilepasliarakan. Caranya, dibelikan pakan setiap hari. Hanya  saja hasilnya sangat mepet dengan uang pakan bebek tersebut. sebab, untuk memberi pakan ratusan bebek butuh jagung dan bubuk padi sepuluh kilogram. Sedangkan pendapatan menjual telur tiap hari dapat Rp 150 ribu. “Kalau dibelikan pakan tidak cukup hasil dan modalnya. Jadi harus dilepasliarkan, biar keluarga  bisa makan juga,” cetus Tutun.

Masih kata Tutun, untuk penghasilan setiap hari, dia dengan pejabat hanya kalah gaya saja. Betapa tidak, dalam satu hari tutun bisa dapat keuntungan Rp 150 perhari. Jika dikali satu bulan bisa dapat Rp 4,5 juta.

“Masalah penghasilan sudah cukup, kalau UMR (Upah Minimum Regional ) Situbondo kan hanya Rp 2 juta lebih, saya dapat 4 juta lebih dalam satu bulan. Tapi tidak pulang dari sawah tiap malam,” pungkas Tutun sambil tertawa lepas. (hum/pri) Editor : Muhammad Khoirul Rizal
#Pengembala Bebek #Tidur di Sawah #Bebek Petelur