Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kiat Peraih Juara Liga Puisi; Devi Baca sebelum Tidur, Tiar Datangkan Pelatih

Syaifuddin Mahmud • Jumat, 4 November 2022 | 23:30 WIB
GURU SMPN: Bakhtiar Kusumahadi. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
GURU SMPN: Bakhtiar Kusumahadi. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
RADAR BANYUWANGI – Tuntas sudah event Liga Puisi yang berlangsung selama tiga hari di Grha Pena, Jawa Pos Radar Banyuwangi (JP-RaBa), Kamis (3/11). Juara 1 kategori siswa diraih Devi Fathihatul Asliha dari MTsN 1 Banyuwangi. Sedangkan untuk kategori guru, juara satu disabet Moh. Bakhtiar Kusumahadi dari SMPN 1 Banyuwangi.

Senyum bahagia terpancar dari wajah Devi Fathihatul Asliha. Siswa kelas 9 MTsN 1 Banyuwangi itu sukses menyabet gelar juara 1 Liga Puisi 2022. Devi menyisihkan ratusan peserta lain, mulai dari babak penyisihan hingga final.

Meski masih tergolong pemula dalam bidang puisi, Devi tampil luar biasa. Tiga dewan juri, yakni Iqbal Baraas, Fatah Yasin Noor, dan Desy Ariyani, memberikan nilai tertinggi untuk Devi. ”Senang sekali bisa juara. Terus terang, saya harus banyak belajar lagi soal puisi,” ujarnya usai menerima piala juara 1 di studio podcast Radar Banyuwangi TV.

Devi mengaku, membaca puisi bukan bidang yang dia kuasai. ”Ketika ditunjuk ikut Liga Puisi, saya berpikir tidak akan bisa melewatinya. Terus terang membaca puisi bukan basic saya. Beruntung ada guru yang mau mengajari dan membimbing membaca puisi,” kata pelajar yang tinggal di Kelurahan Gombengsari, Kecamatan Kalipuro itu.

Photo
Photo
SISWI MTSN: Devi Fathihatul Asliha. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

Berbagai persiapan dia lakukan. Mulai dari menyesuaikan intonasi, memahami makna puisi, hingga belajar gestur. Devi pun memutuskan judul puisi yang akan dibaca adalah Ketika Senja Wong Agung Wilis Menyalak dan Puisimu Tak Pernah Mati. Menurut Devi, dua judul puisi tersebut memiliki pesan yang menyentuh.

Ketika mendapat informasi lolos babak final dari layar handphone yang dia genggam, Devi tidak sadar air matanya sampai menetes. Jangankan mendapatkan juara, membayangkan lolos hingga final saja tidak pernah ada dalam pikirannya.

Devi menyadari saingan yang mengikuti lomba puisi adalah anak-anak hebat. Apalagi, salah satu peserta, yakni teman satu sekolahnya, pernah lolos lomba baca puisi hingga tingkat provinsi. ”Ketika saya baca informasi lolos final, saya langsung teriak, bahkan menangis. Mama sampai terkejut,” katanya.

Suara yang mulai serak menjadi bukti betapa besar kerja kerasnya selama mempersiapkan Liga Puisi. Gadis berusia 14 tahun itu harus berlatih untuk dua event sekaligus, yakni Liga Puisi dan lomba selawat. Dia sempat bingung harus membagi waktu antara lomba selawat atau Liga Puisi. ”Akhirnya, saya lebih mengutamakn Liga Puisi telebih dahulu,” imbuhnya.

Meski dikenal sebagai newbie dalam dunia baca puisi, Devi memiliki trik jitu, yakni membaca puisi sebelum tidur dan sesudah salat Subuh. ”Sebelum tidur membaca puisi sebanyak tiga kali. Setelah salat Subuh dibaca lima kali, tanpa harus membaca dengan keras. Yang penting pakai penghayatan supaya bisa memahami makna puisinya,” ungkapnya.

Ada semangat luar biasa dalam diri Devi. Dia harus tampil all-out karena tak mau mengecewakan guru dan keluarganya. Devi memiliki tanggung jawab besar sebagai satu-satunya perwakilan dari sekolah yang lolos di babak final. Alasan lain yang membuatnya tetap semangat adalah baju yang dia kenakan saat final merupakan pinjaman dari guru kelas. ”Saya merasa sungkan kalau tidak mendapat juara,” akunya polos.

Sebagai pemula dalam bidang puisi, Devi ingin berpesan kepada teman-temannya agar tidak takut mencoba. ”Kita harus membangun percaya diri dulu, jangan mudah menyerah. Semua usaha terbaik harus diiringi doa. Buktinya saya sendiri bisa, maka teman yang lain juga harus bisa,” tegasnya.

Kunci sukses meraih juara juga diungkapkan, Moh. Bakhtiar Kusumahadi, juara 1 Liga Puisi kategori guru. Tiar –begitu dia biasa dipanggil— menyukai puisi sejak masih duduk di bangku SD. ”Kalau untuk lomba tidak pernah mengikuti. Cuma pernah terlibat workshop membaca puisi dan teater,” ujarnya.

Bagi Tiar, Liga Puisi 2022 adalah kompetisi perdana yang pernah diikuti. Karena masih pemula, Tiar banyak menemui kendala selama mempersiapkan lomba tersebut. ”Kendala utamanya adalah cara memahami makna puisi,” ungkap guru SMPN 1 Banyuwangi yang tinggal di Kelurahan Klatak tersebut.

Pria berusia 29 tahun itu mengaku menyukai hal-hal tentang keindahan, seperti fotografi hingga sajak. Dia sadar bahwa puisi tidak sekadar melukiskan keindahan. Kesedihan juga bisa terkandung di dalam puisi. ”Banyak sekali cerita tentang legenda Banyuwangi. Ternyata banyak hal yang tidak saya ketahui setelah membaca buku penuh puisi indah tersebut,” ungkapnya.

Tiar mempersiapkan lomba puisi bersama siswa dan guru lain. Bahkan, dia sampai memanggil pelatih baca puisi untuk memberikan masukan ketika latihan. ”Kita belajar bersama, kalau ada kesalahan atau kekurangan bisa diperbaiki bersama,” katanya.

Guru Bahasa Indonesia tersebut mengaku memiliki strategi dalam mengikuti Liga Puisi. ”Seperti kata Pak Fatah Yasin Noor. Misalnya kita renang, ya harus masuk ke kolam renang. Mau tidak mau saya harus menyelami dulu isi puisinya. Dengan begitu puisi tersebut menjadi pakaian bagi saya karena sudah menyatu,” ucap Tiar.

Terdapat dua judul puisi yang dia baca saat perlombaan. Yakni Rahim Suci Bunda Sri Tanjung dan Di Hatiku Ada Palestina. Dari kedua judul puisi tersebut, Tiar merasa semakin menyukai dunia sastra puisi.

Tiar berpesan kepada pencinta puisi  ntuk tidak merasa rendah diri. Dia berharap agar setiap orang tetap semangat untuk meningkatkan kompetensi dalam diri. ”Sebenarnya semua sudah dimiliki di dalam diri, hanya tinggal bagaimana cara memolesnya,” tandasnya. (cw4/aif/c1) Editor : Syaifuddin Mahmud
#Sastra #liga puisi #Literasi #merdeka belajar