Ahmad Syaifuddin Amin atau yang biasa disapa Amin, tercatat mahasiswa S2 di Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Lulusan S1 di Fakultas Ushuluddin UIN KH Ahmad Shidiq Jember tersebut, satu dari dua peserta MTQ tingkat nasional XXIX yang berasal dari Kabupaten Banyuwangi.
Selain Amin, peserta MTQ tingkat nasional yang juga dari Banyuwangi Riskiyatul Fitriyah, 18, asal Dusun Balerejo, Desa Bumiharjo, Kecamatan Glenmore yang juga santri Pondok Pesantren Darussalam, Blokagung, Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari. Dalam perlombaan itu, Riski berhasil menyabet juara pertama Musabaqoh Fahmil Quran (MFQ).
Sama dengan Riski, perjuangan Amin sebelum menjadi yang terbaik dalam lomba tafsir Bahasa inggris itu, ternyata cukup panjang dan berat. Amin yang berdomisili di Jakarta, harus bolak-balik Jakarta-Surabaya dan Malang untuk mendapat pembinaan dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim.
Tahapan sampai bisa mengikuti MTQ tingkat nasional pun sama. Amin harus melewati banyak tahapan. Ia harus berjuang di tingkat kabupaten, provinsi, dan kemudian sampai di tingkat nasional. Hanya saja, pengalaman Amin yang sudah berulangkali mengikuti berbagai kejuaraan itu, mungkin sedikit meringankan bebannya untuk bisa menjadi yang terbaik. Dari pengakuannya, anak pasangan suami istri (pasutri) almarhumah Junaidi dan Sofiatun, 53, itu selama ini sudah sering mengikuti lomba-lomba serupa.
Sebelumnya, pada 2020, Amin pernah mengikuti MTQ yang digelar di Sumatera Barat. Amin yang didaftarkan di kategori 30 juz Alquran, gagal membawa gelar juara. “Alhamdulillah, pada MTQ tingkat nasional 2022 di Kalimantan Selatan ini berhasil juara,” katanya pada Jawa Pos Radar Genteng, kemarin (23/10).
Amin sudah puluhan kali menyabet gelar juara dalam berbagai lomba. Dari Tahun 2013, puluhan lomba sudah ia menangkan. Rinciannya, juara 1 CCQ Pekan Tilawatil Qur’an RRI se-eks Karesidenan Besuki 2016, juara 1 Musabaqah Hifzhil Hadits LPPBMM IAIN Jember 2017, juara 1 MHQ 10 Juz LPPBMM IAIN Jember 2017, “Pernah juga jadi finalis Musabaqah Hifzhil Hadits di Kedutaaan Besar Kerajaan Saudi Arabia pada 2016,” katanya.
Selain itu, Amin juga pernah menjadi juara 1 MFQ tingkat Jawa Timur dalam Festival Quran UIN Sunan Ampel Surabaya 2015, juara 1 MFQ tingkat Jawa Timur dalam MTQ Banyuanyar 2015, juara harapan I MHQ 20 Juz MTQ Provinsi Jatim 2015, juara I Khitobah ‘Arabiyyah Musabaqah Robithotul Ma’ahid Islamiyyah (RMI) NU Banyuwangi 2014, dan juara 1 Khitobah Bahasa Arab Musabaqah RMI NU 2013.
Tidak itu saja, peraih juara 1 tafsir Bahasa Inggris MTQ Nasional di Kalimantan Selatan 2022 itu, juga pernah menjadi juara 1 MHQ antar pesantren se ASEAN di Pondok Pesantren Darun Najah Pusat 2018, juara 1 tafsir Bahasa Inggris MTQ tingkat Provinsi Jatim 2021, juara 1 MHQ 30 Juz dan tafsir Bahasa Arab tingkat Provinsi di Masjid Namira Lamongan 2017, juara 1 MHQ 30 Juz Prosalina FM se eks Karesidenan Besuki 2017, juara 1 MHQ 20 Juz Prosalina FM se eks Karesidenan Besuki 2017, juara 1 CCQ Pekan Tilawatil Qur’an RRI se-Korwil Nusantara X 2016.
Banyaknya kejuaraan yang diikuti oleh Amin itu, ternyata bukan tanpa alasan. Sejak dulu, ia ingin menjadi seseorang yang prestatif. “Saya juga ingin membanggakan orang tua, guru, dan masyarakat Banyuwangi,” katanya.
Untuk menjadi sang juara, Amin mengaku selalu terpacu untuk bisa mempelajari sesuatu dengan lebih intens. Ketika persiapan lomba, tidak cukup dengan belajar sekilas, tapi harus sampai mendalam. “Setiap persiapan mengikuti lomba, terutama lomba tafsir, saya akan baca banyak buku,” terangnya.
Membaca buku, itu salah hobi dari laki-laki yang saat ini tengah cuti dalam menempuh pendidikan S1 di Universitas Islam Madinah. “Saya suka jalan-jalan, dan membaca buku itu jadi hobi saya,” ungkapnya.
Mental kompetitif dan pemenang Amin, sudah dipupuk oleh almarhum Junaidi, bapaknya. Sejak masih belajar di Madrasah Aliyah (MA), Amin kerap diminta abahnya untuk tampil di depan umum. “Sering dilatih public speaking, biasanya diminta ceramah,” ucapnya.
Tak jarang, Amin mengeluh lantaran abahnya terkesan memaksa untuk menjadi penceramah di acara haflah atau tasyakuran khatmil Alquran. “Sejak dulu, aku emang gak suka diekspos. Termasuk capaian dan prestasiku,” terangnya.
Meski merasa sedikit terpaksa, Amin mengaku tak bisa menolak permintaan abahnya, untuk mengikuti perlombaan dan menjadi penceramah. “Akhirnya tetap nurut saja, tetep jadi pembicara, tapi pakai teks ceramah milik abah,” cetusnya.
Didikan itulah yang kemudian membangun mental Amin. Tempaan abahnya dengan memaksa tampil sebagai penceramah, banyak membantunya hingga berhasil memenangi banyak perlombaan. “Itu memberi pengalaman berharga sampai bisa juara MTQ tingkat Nasional,” katanya.
Banyak mendapat penghargaan, tidak membuat anak ke tiga dari lima bersaudara itu lupa dengan akar rumput. Ia bercita-cita bisa mewujudkan pendidikan berkualitas yang berbasis Alqur’an dan accesible untuk masyarakat menengah ke bawah. “Semoga setelah ini bisa segera mewujudkan cita-cita itu,” pungkasnya. (sas/abi) Editor : Agus Baihaqi