Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ini Cerita Pilu Para Korban Banjir di Kelurahan Sobo, Banyuwangi

Ali Sodiqin • Kamis, 20 Oktober 2022 | 23:35 WIB
PASRAH: Pasutri Nur Setyo (pakai peci) dan Masriah (daster hijau) melihat kondisi rumahnya sesudah diterjang banjir di Kelurahan Sobo, Kecamatan Banyuwangi, Selasa (18/10). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
PASRAH: Pasutri Nur Setyo (pakai peci) dan Masriah (daster hijau) melihat kondisi rumahnya sesudah diterjang banjir di Kelurahan Sobo, Kecamatan Banyuwangi, Selasa (18/10). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
RADAR BANYUWANGI – Air bah menerjang. Menggenangi permukiman di sejumlah wilayah di pusat kota Banyuwangi, Senin pagi (17/10). Mulai surut, memang. Namun, berbagai kerusakan dan duka yang dirasakan warga terdampak tak serta-merta berlalu.

Hujan deras melanda. Mengguyur wilayah Kota Banyuwangi dan sekitarnya. Sejak Minggu sore (16/10) hingga Senin pagi (17/10).

Senin dini hari, rasa waswas mulai saya rasakan. Namun, kala itu, saya mencoba meyakinkan diri sendiri, bahwa semua akan baik-baik saja.

Sayang beribu sayang, kekhawatiran tersebut menjadi kenyataan. Senin pagi, gawai terus berdering. Pesan singkat WhatsApp datang bertubi-tubi, mengabarkan banjir yang melanda sejumlah titik di Kota Banyuwangi.

Salah satu wilayah terdampak banjir cukup parah adalah Kelurahan Sobo, Kecamatan Banyuwangi. Tepatnya, di Perumahan Sutri. Banjir di perumahan tersebut bukan kali pertama terjadi. Namun, banjir kali ini merupakan yang terparah dalam kurun beberapa tahun terakhir.

Salah satu warga setempat yakni Siti Nurhidayati mengaku tidak menduga banjir yang datang akan sebesar itu. Wanita paro baya tersebut mengaku pasrah ketika benjir menerjang rumahnya. ”Saya hanya banyak berzikir dan berharap semoga masih diberi keselamatan,” ujarnya sembari termenung di dalam kediamannya, Selasa pagi (18/10).

Wanita yang kerap dipanggil Titik tersebut masih merasa syok kala mengingat suara air yang seakan-akan memaksa masuk rumahnya. ”Dari balik pintu belakang, suara air sangat keras seperti mau mendobrak pintu dapur rumah saya,” ujarnya.

Titik harus berjuang sendiri ketika air berhasil menerobos pintu belakang rumahnya. Dia berusaha sekuat tenaga agar tidak tenggelam dan terbawa arus air yang deras. ”Saya menaiki kursi sambil berpegang erat pada terali jendela rumah,” kata ibu satu anak tersebut.

Titik tidak bisa menahan air mata ketika menceritakan perjuangannya seorang diri di tengah kekalutan malam itu. Bahkan, ketika dia jatuh dari kursi dan hampir terseret arus, Titik terus memanggil mendiang suaminya. ”Abah, Abah, Abah,” ujarnya menirukan kondisi malam saat air datang.

Banjir bandang tidak hanya merusak tembok belakang dan dapur rumah Titik. Beberapa rumah warga lain turut menjadi korban keganasan banjir dari luapan Sungai Sobo itu.

Seperti yang dialami oleh Nur Setyo. Dia harus merelakan dapur rumahnya diterjang banjir. Bahkan, fondasi rumahnya hanyut tergerus derasnya air. ”Hilang sudah bagian belakang rumah, tanah ini saja sampai cekung sebesar ini,” tuturnya seraya menunjuk ke arah dapur rumahnya.

Pria yang akrab disapa Tyo tersebut mengaku pasrah ketika tahu salah satu motor miliknya hanyut terbawa arus Sungai Sobo. ”Satu motor saya tidak terselamatkan. Tidak tahu sekarang di mana,” imbuhnya.

Warga lain yakni Sumarni terduduk lemas ketika melihat sejumlah warga dan petugas bahu-membahu membersihkan sisa banjir di depan rumahnya. ”Saya bingung harus bagaimana, semua barang-barang saya hanyut terbawa air,” ujarnya dengan nada bergetar.

Dia bersama sang suami, Paimin, hanya dapat berharap ada bantuan yang datang ke lingkungan mereka. ”Semoga ada bantuan yang segera datang,” harapnya.

Sementara itu, banjir tidak hanya melanda kawasan Perumahan Sutri. Perumahan Taman Puring di Kelurahan Sobo juga tak luput jadi sasaran air bah.

Salah satu warga Perumahan Taman Puring, yakni Muhammad Reza Fairus Abadi mengakui, banjir tahun ini berbeda dibandingkan banjir tahun sebelumnya. ”Tahun ini parah, banjir terjadi di saat hujan masih intens,” ujarnya.

Untungnya, Reza sudah mengantisipasi kemungkinan terjadinya banjir. Sehingga, kerugian yang dia alami dapat diminimalkan. ”Dibelain tidak tidur untuk antisipasi, karena tahun lalu banjir terjadi karena hujan selama sehari penuh,” imbuhnya.

Di sisi lain, berbagai pihak bergotong royong membantu para warga yang terdampak banjir. Seperti yang terus dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Banyuwangi Ilzam Nuzuli mengatakan, fokus utama yang jadi perhatian pihaknya kini yakni pembersihan bekas banjir dan penyaluran makanan untuk warga. ”Saat ini kami sedang berupaya secepat mungkin membersihkan rumah warga dari sampah yang terbawa banjir,” ujarnya.

Ilzam menyebut, kegiatan pembersihan telah dimulai sejak Senin lalu. ”Kami menargetkan kegiatan pembersihan selesai dalam tiga hari,” pungkasnya. (cw4/sgt/c1) Editor : Ali Sodiqin
#Korban Banjir #banjir #air bah #cuaca ekstrem