Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Pelukis Muda Siliragung Berjuang Memperebutkan Hype Award di MBA Jakarta

Agus Baihaqi • Sabtu, 15 Oktober 2022 | 14:35 WIB
PELUKIS MUDA: Leni Kariatul Masruroh dan karya lukisannya yang terpajang di ruang tamu rumahnya di Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Siliragung, Kamis (13/10). (Lugas Rumpakaadi/Radar Genteng)
PELUKIS MUDA: Leni Kariatul Masruroh dan karya lukisannya yang terpajang di ruang tamu rumahnya di Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Siliragung, Kamis (13/10). (Lugas Rumpakaadi/Radar Genteng)
SILIRAGUNG, Radar Genteng – Leni Kariatul Masruroh, 23, asal Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Siliragung mulai melukis sejak SMP. Kegemarannya itu, terus dilakukan hingga menjadi mahasiswa di Universitas Negeri Malang (UM). Dan kini, tengah berjuang memperebutkan Hype Award di Museum Basoeki Abdullah, Jakarta.

Pagi itu di rumah yang bercat putih, terlihat seorang perempuan muda sedang berdiri di pintu. Mengenakan baju merah dengan celana hitam, kedua mata cewek itu terus memandangi tamunya yang datang.

Sambil mengumbar senyum, cewek berkerudung itu  mempersilahkan masuk ke rumahnya, dan langsung memperlihatkan sejumlah lukisan yang terpajang di ruang tamu. “Ini lukisan sejak saya masih SMP,” cetus cewek yang tak lain Leni Kariatul Masruroh, 23, saat wartawan Jawa Pos Radar Genteng mampir ke rumahnya di Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Siliragung, kemarin (13/10).

Dengan telaten Leni menunjukkan dan menerangkan berbagai karya lukisan yang berjejer di ruang tamu. Di antara lukisan itu, ada potret kucing, bunga, dan lukisan lain yang susah diterjemahkan oleh orang awam. “Ini lukisan yang berkarakter, saya suka sekali seperti ini,” katanya seraya menunjukkan lukisan daun dan batang kayu.

Kegemaran Leni pada seni lukis, sebenarnya sejak kecil. Saat belum sekolah, sering corat coret di dinding rumahnya. Dan bakat itu, mulai tampak saat masuk ke SMP. Gurunya yang melihat bakat melukis, memintanya menorehkan coretan pada kanvas. “Saat itu saya melukis kupu-kupu,” ujarnya.

Setelah melukis kupu-kupu itu, Leni tidak pernah melukis lagi dan lebih menekuni pelajaran di sekolahnya. Baru saat masuk ke SMAN 1 Pesanggaran, kegemaran melukis dilanjutkan. “Saya melukis saja, disimpan di rumah dan memenuhi tugas sekolah,” terangnya.

Sadar akan kegemaran pada seni lukis, selepas SMA mendaftar ke Universitas Negeri Malang (UM) pada jurusan Seni Rupa. Di kampusnya ini, pengetahuan soal seni lukis semakin terasah. “Saya beberapa kali ikut pameran lukisan,” kata perempuan yang kini aktif mengajar di SMK dekat rumahnya itu.

Leni mengaku kali pertama ikut pameran lukisan saat masih semester IV pada 2018. Saat itu, ada pameran di Gedung Wanita Banyuwangi dalam rangka Hari Jadi Banyuwangi. Pada 2022 ini, juga mengikuti pameran lukisan yang digelar Dewan Kesenian Malang (DKM) di Malang, dan pameran lukisan di Jakarta. “Pameran ini hampir berbarengan, yang di Jakarta lukisan rest area laku Rp 2 juta,” katanya bangga.

Sejak 26 September hingga akhir Oktober ini, Leni kembali mengikuti pameran di Museum Basoeki Abdullah (MBA) Jakarta. Pada pameran ini, dianggap sangat penting karena dilombakan. “Penilaian dilakukan dengan vote secara daring untuk memperebutkan Hype Award,” ujarnya.

Dalam pameran lukisan untuk memperebutkan Hype Award di MBA ini, Leni harus bersaing dengan puluhan pelukis lain dari berbagai daerah di Indonesia. “Saya satu-satunya pelukis dari Banyuwangi yang ikut pameran itu,” cetusnya.

Sambil menyelesaikan kuliahnya, Leni yang kini bergabung dengan komunitas pelukis Satu Sama Banyuwangi, sering mengikuti pameran lukisan. Melalui komunitas ini, mulai memiliki karakter tersendiri pada lukisan-lukisan yang dibuatnya. “Dulu saya lebih suka potret realis, seperti gambar bunga, kucing, dan kupu-kupu, kalau sekarang suka surealis yang berkarakter,” katanya.

Tema yang selalu diangkat Leni dalam lukisannya harapan. Tema itu muncul dari keresahan hatinya sebagai generasi muda yang lebih fokus mengejar keduniawian. “Padahal ada hal lain yang lebih penting daripada itu,” ungkapnya. (cw3/abi) Editor : Agus Baihaqi
#Hype Award #Pelukis Muda #seni rupa #MBA Jakarta