Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Harga BBM Mahal, Nelayan Muncar Pilih Berburu Ikan Pinggiran

Rahman Bayu Saksono • Selasa, 27 September 2022 | 19:06 WIB
RAMAI: Deretan perahu nelayan di Pelabuhan Minapolitan Muncar, Banyuwangi. (Dok.Radar Banyuwangi)
RAMAI: Deretan perahu nelayan di Pelabuhan Minapolitan Muncar, Banyuwangi. (Dok.Radar Banyuwangi)
RADAR BANYUWANGI – Bahan bakar minyak (BBM) tak hanya dipakai kendaraan bermotor di darat. Ribuan perahu nelayan di Pelabuhan Minapolitan Muncar, juga mengonsumsi solar.

Kenaikan harga BBM semakin dirasakan nelayan di Banyuwangi. Harga BBM yang naik, menyebabkan biaya operasional naik berlipat ganda. Sementara hasil ikan tangkapan belum pasti.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Cabang Banyuwangi Hasan Basri mengatakan, dalam beberapa dekade terakhir sumber daya ikan di Muncar menipis karena ekosistem yang rusak.

Biasanya, dalam jarak 1 mil nelayan sudah mendapatkan ikan. Namun, dalam dekade terakhir ikan sulit didapatkan. Nelayan harus menempuh jarak 5 mil baru bisa mendapatkan ikan.

Kondisi itu tentu menyebabkan jarak tempuh dan operasional BBM juga ikut bertambah. ”Saat ini sekali berangkat perahu 5 ribu GT ke bawah itu butuh 45 liter. Dulu 1 mil sudah dapat ikan, saat ini lebih sulit dan harus menempuh jarak yang lebih jauh. Itu sudah terasa sejak 2010,” ungkap Hasan.

Meski sudah menempuh jarak yang cukup jauh, hasil tangkapan nelayan tetap tidak menentu. Kadang cukup banyak, kadang juga tak memperoleh hasil sama sekali. ”Pengeluaran sudah pasti untuk BBM dan biaya makan minum. Kadang pulang dapat ikan dijual cuma laku paling Rp 500 ribu. Itu belum dipotong solar dan biaya untuk makan dan lain-lain. Hasilnya sangat tipis,” jelasnya.

Salah seorang nelayan, Mansur mengaku, saat ini dia enggan melaut karena tidak mampu membeli solar. Ibarat pepatah, besar pasak daripada tiang. Biaya operasional lebih besar ketimbang penghasilannya. Karena itu, untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, dia memilih mencari ikan di tepian yang tidak membutuhkan biaya besar.

Apalagi, imbuh Mansur, saat ini di perairan Selat Bali sedang musim ikan jenis teri putih yang harganya lumayan bagus. Satu kilogram bisa dibeli seharga Rp 20 ribu. ”Selain ikan jenis teri, juga sedang musim ikan tangkapan lainnya seperti jenis tongkol yang harganya juga lumayan baik,” ucapnya.

Nasib para nelayan Banyuwangi seperti terombang-ambing. Mereka tidak bisa menuntut harga ikan hasil tangkapan naik seperti halnya harga BBM yang melambung. Para nelayan hanya bisa mencari ikan dan menjual kepada pengepul untuk kemudian dijajakan ke pasar-pasar. Sedangkan yang menentukan harga ikan naik atau turun adalah kondisi pasar. ”Kalau bisa BBM jenis solar ini jangan dinaikkan, kami para nelayan juga kesusahan, dan semoga ada solusi bagi kami para nelayan di Banyuwangi,” tandas Mansur. (ddy/bay/c1) Editor : Rahman Bayu Saksono
#BBM Naik #Berburu Ikan Pinggiran #Nelayan Muncar