Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Dulu Bangunan Bandara Banyuwangi Mungil, Kini Jawara Arsitektur Top Dunia

Rahman Bayu Saksono • Rabu, 7 September 2022 | 21:37 WIB
SEMPIT: Terminal lama Bandara Banyuwangi saat belum dibongkar. (Dok.Radar Banyuwangi)
SEMPIT: Terminal lama Bandara Banyuwangi saat belum dibongkar. (Dok.Radar Banyuwangi)
RADAR BANYUWANGI – Terminal Bandara Banyuwangi awalnya hanya bangunan mungil. Selanjutnya, diperluas sedikit lantaran penumpang kian banyak. Kini, terminal lama itu sudah rata aspal, berubah menjadi apron. Yang muncul berikutnya adalah bangunan terminal ramah lingkungan yang fenomenal.

Bandara Banyuwangi menjadi salah satu gedung yang paling populer di Bumi Blambangan. Betapa tidak, bangunan di Desa/Kecamatan Blimbingsari itu sudah masuk Jajaran 20 Arsitektur Terbaik Dunia dalam ajang Aga Khan Awards for Architecture (AKAA) 2022.

Desain interior terminal Bandara Banyuwangi dirancang minim sekat dengan dinding berupa kisi-kisi dari kayu ulin bekas kapal untuk memperlancar sirkulasi udara serta sinar matahari. Tak cuma berfungsi sebagai penunjang infrastruktur, tapi juga menjadi daya tarik wisata.

Terminal bandara yang dibangun pemerintah kabupaten berkolaborasi dengan arsitek Andra Matin ini menarik perhatian dunia. Bukan hanya karena desainnya yang mengadopsi bentuk udeng alias ikat kepala suku Oseng. Melainkan juga karena bangunannya yang mengusung konsep hijau dan ramah lingkungan (green building).

Pembangunan gedung terminal Bandara Banyuwangi ini dimulai pada tahun 2015 silam. Pembangunan terminal baru ini memanfaatkan dana APBD Provinsi Jawa Timur senilai Rp 22,5 miliar dan APBD Kabupaten Banyuwangi senilai Rp 10,5 miliar. Anggaran sebanyak itu dipergunakan untuk pembangunan terminal, aksesori, elektrikal, musala dan area parkir.

Terminal ini mengusung konsep hijau dan ramah lingkungan. Hal ini ditandai dengan penghawaan udara yang alami, penanaman tanaman di atap terminal, konservasi air dan sunroof untuk pencahayaan alami di siang hari. ”Ketika saya masuk tahun 2017 masih bangunan terminal lama. Lumayan kecil,” ungkap Kepala AirNav Banyuwangi Suri Fikriansyah.

Kala itu, kata Suri, Bandara Banyuwangi sudah melayani rute Jakarta ke Banyuwangi. Rute ini pertama kali diisi oleh maskapai NAM Air pada 16 Juni 2017 menggunakan pesawat Boeing 737-500 berkapasitas 150 tempat duduk. Meski bangunan terminal lama masih kecil, namun untuk bangunan kantor Airnav sudah cukup representatif yakni berada di tower yang masih berdiri kokoh sampai saat ini.

Photo
Photo
ATAP UDENG: Terminal Bandara Banyuwangi karya arsitek Andra Matin dikenal sebagai bandara yang hijau dan ramah lingkungan. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

Mulai tahun 2017 itu, kemudian dibuka rute langsung Jakarta–Banyuwangi. Garuda Indonesia juga mengisi rute ini pada 8 September 2017 menggunakan pesawat Bombardier CRJ1000 NextGen. Maskapai Citilink kemudian membuka penerbangan rute ini pada 15 Februari 2018 yang melayani penerbangan 2 kali sehari menggunakan Boeing 737-500 dan kemudian menggunakan Airbus A320 pada 9 Agustus 2018.

”Kalau operasional penerbangan tidak banyak berpengaruh. Hanya terminal lama yang dibongkar karena layanan semakin padat dan menempati terminal baru yang lebih besar dan memadai,” kata Suri.

Bangunan terminal bandara lama itu berada di lokasi apron pesawat saat ini. Dekat dengan landasan pacu. Maklum, awal beroperasi kapasitas penumpang pesawat juga masih minim, hanya berkisar puluhan. Namun, seiring dengan tumbuh pesatnya pengguna jasa layanan moda transportasi udara, keberadaan terminal baru menjadi sebuah keniscayaan.

Secara fungsional dan daya guna, bangunan terminal baru memang lebih tertata. Terminal bandara ini menggunakan energi sehemat mungkin sesuai konsep rumah tropis yang mengutamakan penghawaan alami. Pengelolaan dan pemeliharaannya efisien karena tak banyak menyedot energi, hampir tidak pakai pendingin ruangan. Pelat beton atap juga lebih awet karena terlindung dari panas langsung dengan adanya tanaman.

Terminal bandara lebih menonjolkan desain pasif untuk menghemat energi daripada menggunakan teknologi penghemat konsumsi energi. Desain interior dikonsep minim sekat untuk memperlancar sirkulasi udara dan sinar matahari. Juga ada kolam-kolam ikan untuk mengoreksi tekanan udara sehingga suhu ruang tetap sejuk.

Pada 22 Desember 2017, Bandara Banyuwangi yang berada di bawah pengelolaan Kemenhub melalui Unit Pelayanan Bandar Udara (UPBU diserahkan pengelolaannya dari Kementerian Perhubungan ke BUMN pengelola bandara PT Angkasa Pura II (Persero). Alih kelola ini untuk mempercepat pengembangan bandara tersebut. Dengan dikelola AP II, pengembangan bandara yang mempunyai terminal hijau pertama di Indonesia itu bisa lebih cepat dilakukan sehingga berdampak pada perekonomian daerah.

PT Angkasa Pura II (Persero) menginvestasikan Rp 300 miliar untuk pengembangan Bandara Banyuwangi. Angkasa Pura resmi mengelola operasional Bandara Banyuwangi. Anggaran tersebut, salah satunya digunakan untuk pembangunan beberapa fasilitas bandara.

Pertama, menambah luas apron seluas 18 ribu meter persegi. Dengan tambahan luas apron, bandara bisa menampung parkir tujuh pesawat tipe 737, terdiri atas satu wide body dan enam narrow body. Pesawat bisa parkir menginap di Banyuwangi. Selain berfungsi sebagai bandara komersial, Bandar Udara Banyuwangi juga digunakan untuk keperluan pendidikan penerbangan.  (ddy/bay/c1) Editor : Rahman Bayu Saksono
#bandara banyuwangi #Tata Kota #Infrastruktur