Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Pelestarian Pencak Sumping Terkendala Tempat, Anak-Anak Berlatih di Jalanan

Syaifuddin Mahmud • Selasa, 23 Agustus 2022 | 13:03 WIB
BIBIT-BIBIT PENDEKAR: Anak-anak dan pemuda Dusun Mondoluko, Desa Tamansuruh berlatih pencak sumping di jalan kampung desa setempat, pekan lalu. (Qowim for Radar Banyuwangi)
BIBIT-BIBIT PENDEKAR: Anak-anak dan pemuda Dusun Mondoluko, Desa Tamansuruh berlatih pencak sumping di jalan kampung desa setempat, pekan lalu. (Qowim for Radar Banyuwangi)
GLAGAH, Radar Banyuwangi – Ada penampilan yang berbeda dari tradisi pencak sumping di Dusun Mondoluko, Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, pada bulan Juli lalu. Puluhan anak-anak unjuk gigi memamerkan jurus-jurus pencak sumping. Mereka adalah generasi penerus tradisi leluluhur Dusun Mondoluko.

Anak-anak usia belasan tahun begitu serius berlatih silat di jalanan Dusun Mondoluko, Desa Tamansuruh, awal pekan lalu. Tak ada padepokan khusus. Tak ada tempat latihan, apalagi aula. Meski minim sarana pendukung, anak-anak begitu bersemangat berlatih.

Dengan aba-aba yang diberikan pelatih, anak-anak begitu lincah memainkan satu-persatu gerakan jurus. Kepalan tangan berulang kali diayunkan yang dikombinasi dengan gerakan kaki yang menyesuaikan kuda-kuda jurus pencak.

Semilir angin yang menggesek dedaunan kelapa seolah ikut menghitung satu-persatu bagian jurus yang diperagakan para pesilat cilik itu.

Sudah dua bulan ini puluhan anak yang tinggal di Dusun Mondoluko berlatih silat atau pencak. Sebagai generasi pewaris bela diri asli masyarakat Oseng, apa yang dilakukan anak-anak Mondoluko seolah menjadi sebuah pemandangan yang menarik. Pencak sumping terus dilestarikan di desa yang berjarak 20 kilometer arah barat kota Banyuangi tersebut.

Aktivitas anak-anak berlatih pencak sumping digagas oleh Azis Marsuki, 30. Pria yang juga  praktisi pencak sumping itu mengaku cukup prihatin minimnya regenerasi di tempat tinggalnya. Padahal, Dusun Mondoluko adalah tempat munculnya tradisi pencak sumping yang sudah turun-temurun sejak zaman penjajahan Belanda.

Pendekar yang akrab disapa Mamar itu mulai mengumpulkan anak-anak muda yang berminat belajar pencak sumping. Mereka kemudian diajak untuk berlatih agar warisan budaya itu tak hilang dari Mondoluko. "Kalau membicarakan orang bisa pencak sumping, hampir sekampung di Mondoluko bisa main pencak. Tapi tidak semuanya bersedia mengajari. Saya khawatir kalau tidak ada yang meneruskan, tradisi ini bisa punah," kata Mamar.

Dalam dua bulan terakhir, Mamar berhasil mengajak 25 anak. Mulai yang masih berusia 5 tahun sampai 18 tahun. Termasuk dua anak perempuan Mamar yang masih duduk di bangku SD ikut latihan. Karena belum memiliki tempat, anak-anak tersebut berlatih di jalan-jalan kampung. "Kalau ada mobil lewat, latihan  berhenti dulu. Tidak ada tempat, jadi latihan di jalan,’’ kata bapak dua anak itu.

Materi yang diberikan mulai teknik dasar pencak. Mulai tangan kosong sampai memainkan senjata seperti klewang dan belati. Jika berbakat, anak-anak bisa menguasai teknik dasar selama sepekan. Jika tidak fokus dan banyak bergurau, waktu yang dibutuhkan bisa lebih lama, bahkan sampai bertahun-tahun. ”Pencak sumping beda dengan lainnya. Gerakannya lebih ke bela diri seni yang yang diiringi tabuhan kendang dan alat music,’’ kata Mamar yang sehar-harinya sebagai pedagang jantung pisang itu.

Mamar kerap mendapat undangan untuk menampilkan pencak sumping di beberapa acara. Terutama acara yang berhubungan dengan ritual bermain pencak tersebut terkadang diberikan kepada anak-anak yang berlatih. Beberapa yang dianggap sudah mahir, kadang diajak ikut tampil di acara undangan. "Biasanya orang yang mengundang butuh dua sampai empat orang. Orang tua yang mahir bermain pencak sumping, kadnag juga ikut turun,"kata relawan Ambilan KIB itu.

Perkumpulan anak-anak yang dilatih pencak sumping sampai sekarang belum memiliki nama resmi. Mamar punya rencana menamakan Gepat, akronim dari Generasi Penerus Adat Tradisi. Nantinya, Gepat akan digunakan untuk mewadahi orang-orang yang ingin mempelajari pencak sumping dari dasar. "Sebenarnya ada perguruan, tapi itu berisi pendekar yang sudah tua. Rata-rata sudah punya jurus rahasia sendiri-sendiri yang namanya perguruan Cibagor,"imbuhnya.

Mamar berharap, ke depan ada intervensi Pemkab Banyuwangi untuk memberikan perhatian kepada generasi penerus pencak sumping Mondoluko. Setidaknya, anak-anak bisa punya tempat latihan yang bisa digunakan dengan leluasa. "Harapan saya budaya ini tetap hidup. Semoga nanti bisa punya tempat latihan sendiri, tidak lagi di jalan," harapnya.

Ketua Adat Dusun Mondoluko Rahayis mengatakan, munculnya tradisi pencak sumping tidak lepas dari cerita turun-temurun tentang kisah berdirinya dusun tersebut. Pada zaman penjajahan Belanda, Buyut Ido yang merupakan pemimpin cikal bakal Mondoluko, yakni Dusun Tegal Alas, terluka dan tewas saat berduel dengan tentara Belanda. Sejak saat itu, rakyat Tegal Alas berinisiatif belajar pencak silat untuk membela diri. Kala itu Buyut Ido terluka (luko) sampai tubuhnya terkoyak (modol-modol) hingga  melatar belakangi penamaan Dusun Mondoluko.

”Sejak saat itu rakyat rutin belajar silat. Mulai anak-anak sampai dewasa, baik laki-laki maupun perempuan. Sampai sekarang earga Mondoluko tetap melestarikan pencak silat sebagai bela diri yang di pelajari oleh warga," tandas Rahayis. (fre/aif) Editor : Syaifuddin Mahmud
#Silat Sumping #Hiburan #seni #olahraga #pencak silat