Tarian Seblang Bakungan yang dibawakan Supani Selasa lalu (19/7) rupanya menjadi tarian pemungkas. Pada Senin Legi yang jatuh tepat pada kalender 10 Sura, Supani berpulang.
Berdasarkan hitungan pribadinya, usia Supani 74 tahun. Namun, jika mengacu KTP, usianya baru 68 tahun. Supani meninggal dunia di rumah adiknya, Jumai, di Dusun Watu Ulo, Desa Rejosari, Kecamatan Glagah. Sebelum meninggal, Supani sempat mengeluhkan sakit di perut. Dia meninggal sekitar pukul 16.00.
”Saya dikabari adiknya Mbah Supani sekitar pukul 16.30. Adiknya juga kaget karena posisi Mbah Supani seperti orang tidur biasa,” kata Ketua Adat Kelurahan Bakungan, Heri Purwoko, 52.
Pria yang menjadi ketua adat sejak tahun 2020 itu mengaku sempat menemani hari-hari terakhir sebelum Supani meninggal. Apalagi, sejak menjadi ketua adat, Kang Pur— panggilan akrab Heri Purwoko— terus memantau semua kebutuhan Supani. Sejak Sabtu malam (6/8), Supani minta diantar ke rumah adik bungsunya di Dusun Watu Ulo.
Tetangga Supani, Rohilah, mengabari Kang Pur tentang keinginan penari seblang itu. Baru pada Minggu siang, Supani bisa diantar ke rumah adiknya. ”Hari Minggu hujan terus, berhenti sebentar hujan lagi. Tapi Mbah Supani minta tetap diantar. Mbah Supani senang sekali, mulai dari ujung gang sudah memanggil-manggil adiknya,” kata Kang Pur.
Setelah berada di rumah adiknya, Kang Pur mendapat kabar Supani mengeluh sakit perut. Karena sudah tahu kebiasaan Supani yang enggan dibawa ke puskesmas, Kang Pur mengajak seorang mantri kesehatan dari Bakungan ke rumah adik Supani di Watu Ulo. ”Mbah Supani tidak mau ke dokter, ke puskesmas juga tidak mau. Apalagi ke rumah sakit. Saya tawari menolak. Kalau dibawakan mantri, dia mau,” kisah Kang Pur.
Setelah diobati, Supani sempat berbincang dengan Kang Pur. Dari pembicaraan itu, Supani sempat berucap jika dirinya mau pamit. Belum selesai Supani berucap, Kang Pur sudah memotong pembicaraan. ”Saya bilang supaya Mbah Supani tidak membicarakan itu. Dia lalu meminta saya memutarkan video seblang. Padahal selama ini tidak pernah minta. Saya putarkan yang ada di HP,” kenang Kang Pur.
Sebelum meninggalkan Supani, Kang Pur sempat menunggu penari seblang yang menari sejak tahun 2014 itu makan. Tak lupa dia berpesan kepada Jumai agar menjaga Supani selama tinggal di rumahnya. ”Besoknya saya kaget ditelepon Pak Jum. Mbok koyone sing ono. Begitu katanya, saya lalu ke sana. Ternyata Mbah Supani sudah meninggal dunia. Dia tidak sempat sakit parah, cuma seperti orang tidur biasa,” tutur Kang Pur.
Kabar meninggalnya Supani cepat tersiar ke masyarakat. Puluhan orang datang ke rumah Jumai. Mereka ingin memberikan penghormatan terakhir kepada penari seblang bertubuh jangkung itu. ”Mbah Supani dimakamkan di Watu Ulo. Warga di sana sangat menghormati beliau. Ada tokoh masyarakat yang mengatakan kalau Mbah Supani ini pahlawan karena ikut melestarikan ritual Seblang Bakungan,” imbuhnya.
Supani adalah putri kedua dari Seblang Misnah yang meninggal pada tahun 2002. Seblang Misnah adalah generasi Seblang Bakungan kedelapan. Supani menggantikan Bohana yang meninggal dunia setelah menjadi seblang selama 3 tahun berturut-turut sejak tahun 2011 hingga 2013.
Menurut Kang Pur, firasat kepergian Supani terasa dari beberapa keanehan yang sempat terjadi jelang penampilan terakhirnya pada bulan Juli lalu. Dimulai dari orang yang kerasukan di sumber penawar saat ritual seblang akan digelar. Kemudian, bokor berisi dupa yang dibawa oleh pengudang seblang sempat terjatuh akibat tersenggol. Kejadian ini, kata Kang Pur, tak pernah terjadi sebelumnya, bahkan sejak dirinya masih menjadi bagian dari panitia selamatan seblang.
Tertinggalnya satu gending, yaitu gending Dongsrok, saat ritual Seblang Bakungan ikut menjadi firasat kematian Supani. ”Pada penampilan pertama Seblang Bakungan pada Minggu (17/7), tarian Mbah Supani kelihatan lempe. Begitu menginjak tarian kedua setelah ada gending yang terlupa, Mbah Supani terlihat enerjik. Dia kelihatan semringah. Mungkin itu firasat kalau akan jadi tarian terakhirnya,” kenang kakek dua cucu itu.
Pasca meninggalnya Supani, sesepuh adat Bakungan menunggu hasil rembukan dari pihak keluarga, siapa yang akan menjadi penerus seblang berikutnya. Biasanya, keluarga akan menunggu kedatangan arwah Agung Nyoman Dewi atau Mbah Dewi yang akan merasuki salah satu keturunanya yang akan meneruskan tugas sebagai penari Seblang Bakungan. ”Nanti kalau sudah ada, kita akan mendatangi rumah keluarga Mbah Supani. Biasanya akan ada tes dulu dari pawang untuk memastikan penerus seblang. Yang jelas masih dari keturunan seblang,” kata pegawai Dinas Sosial Banyuwangi itu.
Adik Supani, Jumai mengaku tidak punya firasat apa pun tentang kedatangan ajal yang menjemput kakak perempuannya itu. Seperti yang diceritakan Kang Pur, Supani minta dibawa ke rumahnya di Watu Ulo. Setelah menginap sehari semalam, kakaknya kemudian meninggal dunia. ”Tidak ada firasat apa-apa, kok tumben minta diajak ke rumah,” ceritanya.
Setelah kematian Supani, pihak keluarga akan menunggu datangnya petunjuk tentang siapa penerus Seblang Bakungan. Biasanya akan ada salah satu keturunan yang nantinya dirasuki oleh Mbah Dewi, si penari Seblang Bakungan yang pertama. ”Ada dua orang yang bisa meneruskan jejak Mbah Supani. Yang satu namanya Wati, tinggal di Bakungan, umurnya sekitar 60 tahun. Satu lagi namanya Itah, tinggal di Pendarungan. Umurnya 70 tahun. Dua duanya masih keturunan Mbah Dewi,” tandasnya. (fre/aif/c1) Editor : Syaifuddin Mahmud