Corak warna pada tubuhnya sangat indah. Ada yang berwarna merah kombinasi putih dan oranye, kuning keemasan kombinasi hitam dan merah, dan beragam corak menawan lain. Tak ayal, ikan koi digandrungi banyak orang. Tidak hanya di Banyuwangi dan Indonesia, melainkan di berbagai belahan dunia. Bahkan, ikan koi merupakan salah satu komoditas ikan hias air tawar primadona di pasar internasional.
Nah, di Banyuwangi ternyata ada satu dusun berjuluk ”Kampung Koi”. Tepatnya Dusun Selorejo di Desa Kaligondo, Kecamatan Genteng. Sejak beberapa tahun lalu banyak warga di kampung ini yang memiliki hobi memelihara ikan koi sebagai hiasan di rumah masing-masing.
Namun, seiring berjalannya waktu, hal itu berubah tatkala salah satu pemuda setempat, yakni Lanang Ribowo, mengetahui Pemkab Banyuwangi menggeber program Jagoan Tani tahun 2020 lalu. Dia pun menangkap peluang bahwa hobi warga di kampungnya itu bisa ditingkatkan menjadi ladang penghasilan.
Lanang pun lalu tergerak untuk mendaftar menjadi peserta Jagoan Tani. Hobi memelihara koi itu lantas dikonsep sedemikian rupa sebagai potensi desa yang dia ikutkan dalam program tersebut. Dia pun mengajak pemuda setempat untuk mendaftar. Dari situlah cikal bakal berdirinya kelompok pembudi daya ikan koi di kampung tersebut.
”Kalau memelihara ikan koi sudah dari dulu. Namun, masih belum ke arah budi daya. Mungkin istilahnya hanya senang memelihara saja,” ujar Lanang saat bertemu Bupati Ipuk Fiestiandani di lokasi pembudidayaan ikan koi di Dusun Selorejo beberapa waktu lalu.
Nah, pada ajang Jagoan Tani itu para peserta dikenalkan dengan beragam pengetahuan baru dari para mentor yang notabene merupakan praktisi skala nasional. Pengetahuan dimaksud meliputi teknik budi daya pertanian sampai teknik pemasaran. ”Saat kami ikut Jagoan Tani, kami dapat banyak ilmu, termasuk strategi pasar. Dari sini saya lantas terpikir untuk mencoba memasarkan koi yang selama ini dipelihara masyarakat secara online,” ungkapnya.
Lanang kemudian membentuk Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Tirta Berdaya Kampung Selorejo. Oleh rekan-rekannya, dia ditunjuk sebagai ketua pokdakan tersebut.
Sejak saat itulah masyarakat diperkenalkan dengan beragam metode penjualan. Ada yang menjual ikan per ekor, ada pula yang menjual indukan ikan koi. Namun, yang paling menarik adalah penjualan model lelang untuk ikan koi yang memiliki spesifikasi spesial.
”Ikan koi yang spesial dan layak ikut kontes biasanya kita lelang di akun media sosial kami. Dari lelang inilah kami akan mendapatkan tawaran tertinggi dari para pembeli. Sehingga keuntungan yang bisa warga dapat berkali-kali lipat,” tutur Lanang.
Kini dia merasakan transaksi ikan koi secara daring mulai ramai. Tidak hanya dari Banyuwangi, tetapi juga dari berbagai penjuru daerah. Bahkan, merambah sampai ke Pulau Bali. ”Alhamdulillah, kini warga mulai banyak yang antusias untuk budi daya ikan koi. Tidak lagi hanya sebatas peliharaan,” ujarnya.
Lanang menambahkan, masyarakat setempat telah memperluas upaya budi daya ikan koi. Ada yang memanfaatkan akuarium di dalam rumah, kolam di pekarangan, hingga sistem mina padi di persawahan. Jenis ikannya pun beragam. Antara lain jenis shiro utsuri, slayer, ochiba shigure, koi shusui, koi geromo, dan juga koi showa sanshoku.
Bupati Ipuk Fiestiandani pun mengapresiasi inisiatif warga Selorejo tersebut. Pencetus program Jagoan Tani itu mengatakan, jika anak muda diberi ruang berkreasi maka akan membuahkan hasil yang maksimal. ”Pesan saya, jangan mudah puas. Terus belajar dan berinovasi. Tentu nantinya akan mendapatkan hasil yang lebih dahsyat lagi,” ujarnya berpesan.
Selain itu, Ipuk juga terus mengajak anak muda untuk terus bergelut di dunia pertanian dengan mengedepankan aneka inovasi dan sentuhan teknologi informasi yang sangat digemari anak-anak muda dewasa ini. Hal itu sebagai upaya untuk memperkuat ketahanan pangan serta peningkatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Banyuwangi.
”Berikan ilmu dan pengalaman kalian untuk mengembangkan dunia pertanian yang ada di kampung-kampung kalian. Ini tidak hanya akan menjadi ladang penghasilan, namun juga menjadi sarana pengabdian. Karena pertanian adalah amat penting untuk ketahanan pangan kita,” tuturnya.
Ipuk menyebutkan bahwa Pemkab Banyuwangi melalui sejumlah dinas terkait berupaya untuk menjadi inkubator bisnis anak-anak muda. ”Untuk ilmu pertaniannya, bisa berkonsultasi di Dinas Pertanian dan Pangan. Kalau untuk pengembangan bisnis dan pemasaran, bisa datang ke Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan (Diskop-UMP). Ada juga Rumah Kreatif Banyuwangi yang siap untuk mendampingi branding dan promosi online,” pungkasnya. (sgt/aif/c1) Editor : Syaifuddin Mahmud