Tahun 2015 menjadi tahun kelabu bagi Slamet Hariyono. Prajurit TNI yang bertugas di Kanminvetcad V/23 Banyuwangi itu mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kebutaan permanen.
Musibah itu terjadi tak lama setelah Slamet keluar dari kediamanya di Perumahan Puri Brawijaya, Kelurahan Kebalenan. Slamet harus mendapatkan perawatan intensif setelah mengalami kecelakaan lalu lintas. Dia menjalani operasi vital di bagian tempurung kepalanya.
Operasi itu berhasil menyelamatkan nyawa Slamet, tapi dia harus rela kehilangan penglihatanya akibat efek kerusakan saraf mata dari kecelakaan tersebut. Musibah itu menjadikan pukulan cukup berat bagi kehidupan Slamet. Cobaan semakin bertambah manakala istri tercinta yang seharusnya mendampingi saat sakit justru meninggalkanya. "Waktu itu saya drop, tubuh sudah tidak terawat. Semuanya terasa berakhir saat itu," ucap Slamet saat ditemui di kantornya, Kamis lalu (7/7.
Beruntung, Slamet memiliki lingkungan kerja yang peduli dengannya. Di tengah keterpurukan, teman satu kantor dan pimpinannya tak henti-hentinya memberikan dukungan kepada bapak satu anak itu. Mereka berusaha membangkitkan semangat hidup Slamet.
Dukungan moril tersebut membuat Slamet bisa keluar dari keterpurukan. Sampai kemudian, pimpinanya memberikan kesempatan untuk ikut program rehabilitasi bagi prajurit TNI yang mengalami kecacatan akibat tugas atau sakit. Slamet memilih program rehabilitasi di bidang massage. Sepulang dari pelatihan, Slamet diserbu banyak orang yang ingin menggunakan jasanya.
Apalagi, Slamet begitu berbakat dalam urusan pijat-memijat. Banyak pasien -baik dari masyarakat umum maupun sesama kalangan militer – mengaku cocok dengan pijatan Slamet, terutama yang mengalami keluhan di bagian otot. Seperti sakit pinggang, keseleo, dan pusing-pusing. Prajurit TNI AD yang lama bertugas di Papua itu kerap diminta mengobati orang dengan keluhan sakit maag. "Awalnya yang mencoba dipijat teman-teman sekolah, kemudian tetangga, dan berlanjut ke teman kerja. Sekarang sudah semakin banyak yang minta dipijat, dari berbagai kalangan," imbuhnya.
Dalam sehari, Slamet membatasi pasien yang dipijat, maksimal empat sampai lima orang. Slamet tak pernah memasang tarif untuk jasa pijat otot tersebut. Apalagi yang menggunakan jasanya adalah orang-orang yang notabene berasal dari kalangan menengah ke bawah. "Kalau yang minta bantuan semisal tukang serabutan dan dia tidak bekerja karena sakit, dimana hati nurani saya kalau dia harus bayar?. Yang penting saya dijemput, selesai diantar pulang. Cukup itu saja. Kadang tak kasih tahu kalau dompet saya masih ada isinya, tidak usah bayar," tuturnya.
Slamet mengaku puas ketika pasien yang dipijat bisa sembuh. Jasa pijat itu, kata dia, sesuai dengan tugasnya sebagai anggota TNI yang harus membantu masyarakat. "Saya disekolahkan dan dibiayai negara untuk belajar ilmu pijat. Ibaratnya ilmu ini gratis, tugas saya membantu masyarakat. Kalau yang memberi uang punya mobil Mercy, baru saya terima uangnya," kata Slamet sembari tertawa.
Menurut Slamet, keahlian pijat refleksi yang kini ditekuni sebagai babak baru dalam hidupnya. Apalagi setelah melihat banyak orang bisa memanfaatkan jasanya, Slamet termotivasi untuk bisa terus berbuat baik kepada masyarakat. Dia mengaku terus belajar agar bisa menemukan teknik baru dalam dunia pijat refleksi.
Dalam kesehariannya, Slamet sudah terbiasa hidup mandiri. Dia harus memasak sendiri, mencuci pakaian, menyapu, serta beribadah ke masjid. Aktivitas itu mulai dijalani sejak masuk tempat rehabilitasi untuk prajurit yang mengalami kecacatan. "Kita (TNI) saat latihan dulu ada namanya gerak malam. Melakukan semua aktivitas tanpa penerangan. Anggap saja saya sedang menjalani gerak malam yang terus terjadi," ujar Slamet.
Di usianya yang masih 46 tahun, Slamet ingin terus menjadi prajurit TNI yang bermanfaat. Mantan anggota Kompi Perhubungan Korem 173 Biak itu ingin menguasai teknik massage khusus tulang. Saat ini dia baru menguasai teknik mengobati kesalahan otot. "Dukungan kesatuan membuat saya bersemangat untuk bisa terus bermanfaat. Saya bisa seperti ini juga karena mereka," tuturnya.
Kepala Kantor Minvetcad V/23 Banyuwangi, Mayor (Inf) Mashud menganggap Serka Slamet sebagai sosok prajurit yang mandiri. Dengan keterbatasanya, dia tetap bisa menjadi prajurit yang bermanfaat bagi masyrakat. Pribadi Slamet yang ceria membuat suasana kantor Minvetcad semakin nyaman. "Dia sangat rajin, kalau tidak ada kegiatan di rumah selalu datang ke kantor. Entah ngojek atau dijemput rekan kerjanya," ujar prajurit TNI AD asal Genteng itu.
Sebagai pimpinan di kantor tempat Slamet bekerja, Mashud berusaha mendukung anak buahnya agar tetap bersemangat. Tak jarang, dia menyediakan velbed untuk menampung pasien yang akan dipijat Slamet. "Kalau kebetulan ada yang minta bantuan Pak Slamet dan orangnya pas di kantor, pasien tersebut saya suruh datang ke kantor Minvetcad. Sudah tugas kita ikut membantu masyarakat," tutut Mashud.
Meski Slamet tak bisa bertugas seperti anggota TNI pada umumnya, mantan Kakanminvetcad Jember menganggap bukan menjadi hambatan bagi anggotanya untuk mengabdi. "Sesuai poin ke delapan dalam delapan wajib TNI, Slamet masih bisa menerapkannya. Menjadi contoh dan memelopori usah-usaha untuk mengatasi kesulitan rakyat sekelilingnya,’’ "tegas Mashud. (fre/aif) Editor : Syaifuddin Mahmud