Ayu dan Karina yang masih kakak dan adik itu, tinggal di Dusun Barurejo, Desa Kalibaru Manis, Kecamatan Kalibaru. Ayu masih kelas IV SD, sedang adiknya Karina masih sekolah di TK. “Sejak kecil ikut nenek jadi awe-awe,” cetus Dede Ayu lestari.
Ayu mengaku untuk menjadi awe-awe ini berangkat dari rumah ke tempat mangkalnya di jalur Gumitir dengan jalan kaki dengan waktu sekitar 45 menit. Biasanya, menjadi awe-awe sejak pukul 10.00 sampai pukul 15.00. “berangkat agak pagi karena sekolah libur,” jelasnya.
Meski sekolah tidak libur, Ayu mengaku juga sering ikut neneknya menjadi awe-awe. Hanya saja, pekerjaan ini dilakukan setelah pulang sekolah. “Pulang dari sekolah makan dan nyusul nenek. Kadang sendiri kadang sama adik,” jelasnya.
Ayu mengaku selama ini tinggal bersama kedua orang tua dan neneknya itu. Kedua orang tuanya, bekerja sebagai buruh tanaman kopi dan tukang bersih rumput di ladang. Dengan menjadi awe-awe, sehari bisa mendapatkan uang antara Rp 10 ribu hingga Rp 30 ribu. “Uangnya untuk sangu sekolah dan ditabung untuk beli tas dan sepatu,” ungkapnya.
Bagaimana komentar sang nenek, Maimunah, 73. Nenek ini mengakui cucunya itu ikut menjadi awe-awe sejak kecil. Dan itu, atas dasar kemauannya sendiri. “Saya tidak mengajak, tapi cucuku yang ikut,” katanya.(mg5/abi) Editor : Agus Baihaqi