Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Baling-Baling Juga Jadi Pendorong Perahu dan Kapal

Rahman Bayu Saksono • Senin, 4 Juli 2022 | 20:34 WIB
BERTENAGA: Air muncrat dari bagian belakang kapal karena dorongan kuat perputaran baling-baling yang sangat cepat. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
BERTENAGA: Air muncrat dari bagian belakang kapal karena dorongan kuat perputaran baling-baling yang sangat cepat. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
RADAR BANYUWANGI – Baling-baling kapal laut (propeller) merupakan komponen kapal yang terkoneksi langsung dengan mesin. Putaran baling-baling ini mampu memberikan dorongan agar kapal bisa berjalan.

Untuk menghasilkan energi gerak sebagai pendorong kapal, propeller akan terus berputar. Kemudian mendorong kapal agar terus berjalan sebagai ganti gayung manual.

Secara umum, propeller berbentuk seperti kincir angin yang bergerak untuk menghasilkan energi. Gerakan propeller terjadi karena adanya gaya dorong dari hasil pembakaran mesin yang terhubung langsung dengannya.

Pusat kinerja terjadi pada mesin yang ada di ruangan khusus mesin. Baling-baling dihubungkan atau dipasangkan pada pangkal yang muncul pada badan kapal dengan struktur yang sedemikian rupa supaya bisa bergerak normal.

Seorang nelayan di pesisir Muncar, Tukimin mengaku, cara kerja baling-baling pada perahu dan kapal hampir sama. Pergerakan dari propeller menyerupai sekrup atau kincir angin yang berputar sesuai laju angin. ”Jadi baling-baling yang terpasang pada kapal atau perahu secara langsung bersinggungan dengan air laut. Kemudian propeller mendorong berat air melalui reaksi perputarannya yang bertumpu di porosnya,” jelasnya.

Berdasar bentuk dan fungsinya, propeller memiliki beberapa jenis. Jenis propeller ini dipengaruhi oleh tipe kapal, badan kapal, termasuk juga tinggi serta lebarnya kapal. Di antaranya yakni Controllable Pitch Propeller (CPP) yakni propeller yang memiliki ciri-ciri bisa diubah-ubah sesuai kebutuhan pemakaian.

Termasuk, disesuaikan dengan putaran mesin yang sedang digunakan. ”Pada saat RPM (rotation per minute) kapal yang digunakan rendah, komponen bisa diubah menjadi pitch ukuran besar. Sementara jika RPM kapal besar, maka bisa diubah ke ukuran kecil,” kata Tukimin.

Jenis CPP biasanya digunakan untuk kapal ikan dan tug boat yang beroperasi tidak terlalu jauh dari bibir laut. Memiliki tingkat keefektifan yang tinggi jika kapal bergerak mundur karena hanya perlu mengganti arah pitch propeller dan tidak perlu memutar kapal.

Pada dasarnya kapal menggerakkan dirinya dari usaha yang dilakukan oleh baling-baling yang berputar di bagian belakang kapal. Berputarnya baling-baling pada porosnya ini tak lain disebabkan oleh mesin. Medan lajunya adalah perairan luas dengan segala kondisi lingkungan yang amat berbeda dari alat transportasi darat.

Oleh karena itu, kapal tentu dapat berhenti tetapi tidak menggunakan sistem pengereman konvensional. Beberapa metode rem kapal dapat diterapkan, baik dengan cara individu maupun gabungan metode yang secara sinkron dapat membuat laju kapal melambat. ”Karena kapal atau perahu ini mengapung di atas air, tentu tidak dapat sepenuhnya berhenti seperti kondisi di darat saat dilakukan pengereman,” terang Tukimin.

Pengurangan kecepatan laju kapal dapat dijadikan dasar untuk membuat rem pada kapal. Cara kerjanya sendiri terbentuk karena adanya hambatan akibat meningkatnya luas permukaan kapal yang terendam air. (ddy/bay/c1) Editor : Rahman Bayu Saksono
#Mesin Kapal #baling-baling #teknologi #kincir angin #pesawat #Penggerak Kapal #Kipas Angin