Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Panjer Kiling Jadi Ornamen Khas di Halaman Bandara

Rahman Bayu Saksono • Senin, 4 Juli 2022 | 19:31 WIB
ORNAMEN TRADISIONAL: Panjer kiling sebagai mainan khas masyarakat suku Oseng Banyuwangi dipasang di halaman Bandara Banyuwangi. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
ORNAMEN TRADISIONAL: Panjer kiling sebagai mainan khas masyarakat suku Oseng Banyuwangi dipasang di halaman Bandara Banyuwangi. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
RADAR BANYUWANGI – Lokalistik daerah Banyuwangi semakin terlihat kental di terminal Bandara Banyuwangi. Ini lantaran keberadaan kincir angin atau panjer kiling yang terpasang di areal bandara.

Kincir angin dari kayu dan batang bambu itu menambah suasana makin eksotis pada Bandara Banyuwangi. Apalagi, bandara yang sudah beroperasi melayani penerbangan komersial sejak 29 Desember 2010 itu memiliki hamparan sawah hijau di sekelilingnya.

Pada tahun 2015 silam, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi mulai membangun terminal baru yang lebih besar. Pembangunan terminal baru ini mencakup pembangunan terminal, aksesori, elektrikal, musala, dan area parkir.

Terminal ini mengusung konsep hijau dan ramah lingkungan. Hal ini ditandai dengan penghawaan udara yang alami, penanaman tanaman di atap terminal, konservasi air, dan sunroof untuk pencahayaan alami di siang hari. Selain itu, atap terminal Bandara Banyuwangi mengadopsi bentuk ikat kepala khas suku Oseng. Terminal yang didesain oleh arsitek nasional Andra Matin itu diresmikan pada 2017 silam.

Pada bagian depan bandara, areal halaman terdapat kincir angin khas Oseng yang disebut kiling. Bagian depan bandara merupakan lahan kosong yang masih hijau dan ditanami padi lengkap dengan kiling yang tegak berdiri. ”Kiling ini bentuk kearifan lokal dan menjaga warisan tradisi budaya di Banyuwangi,” ungkap Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Banyuwangi Mujiono.

Kiling yang berada di depan terminal Bandara Banyuwangi sempat hilang beberapa waktu lalu. Namun, kini kiling sudah terpasang kembali. Kiling dapat menimbulkan efek bunyi yang cukup keras jika diterpa angin. ”Dengan kiling ini, juga sekaligus mengetahui arah angin. Karena kiling tidak akan berputar jika tidak diterpa angin kencang,” kata Mujiono.

Kiling dalam bahasa Oseng bermakna baling-baling atau kincir angin. Panjer kiling terdiri dari tiga bagian utama, yaitu cagak, kiling, dan buntut. Cagak merupakan tiang penyangga dari bambu yang memiliki ketinggian beragam dari empat meter hingga 20 meter. Kiling merupakan bagian baling-baling atau kincir yang berputar saat tertiup angin.

Sedangkan buntut merupakan bagian ekor baling-baling, terbuat dari serabut ijuk atau alang-alang yang saat tertiup angin akan melambai mengikuti arah mata angin. Sehingga kiling dapat terus berputar sepanjang hari. Kiling juga mengeluarkan suara nyaring seperti helikopter yang dapat menakuti burung-burung pemakan padi.

Sayangnya, di kawasan perkotaan Banyuwangi kini sudah jarang ditemukan kiling. Namun, kiling masih banyak ditemukan di daerah pedesaan yang masyarakatnya merupakan warga asli suku Oseng. ”Kita munculkan di bandara ini, juga sebagai bentuk memperkuat kearifan lokal dan melestarikan budaya Oseng. Lebih dari itu, juga bisa mempelajari filosofi kiling tersebut,” tandas Mujiono. (ddy/bay/c1) Editor : Rahman Bayu Saksono
#Mesin Kapal #baling-baling #teknologi #kincir angin #pesawat #Penggerak Kapal #Kipas Angin