Helikopter berasal dari bahasa Yunani yakni helix yang artinya spiral dan pteron yang makannya sayap. Dibandingkan dengan pesawat bersayap tetap, helikopter lebih kompleks dan lebih mahal untuk dibeli dan dioperasikan. Helikopter juga lumayan lambat, memiliki jarak jelajah dekat, dan muatan yang terbatas.
Namun, masih ada banyak keunggulan dari helikopter. ”Keuntungan dari helikopter ini adalah gerakannya yang mampu terbang di tempat, mundur, dan lepas landas dan mendarat secara vertikal. Helikopter dapat terbang ke lokasi mana pun, dan darat di mana pun dengan lapangan sebesar rotor,” ujar Randi Priatama, mantan pilot helikopter.
Menurutnya, helikopter bisa terbang karena gaya angkat yang dihasilkan oleh aliran udara yang dihasilkan dari bilah-bilah baling-baling rotornya. Baling-baling itu yang mengalirkan aliran udara dari atas ke bawah. Aliran udara tersebut sedemikian deras sehingga mampu mengangkat benda seberat belasan ton. Teorinya sebenarnya cukup sederhana namun praktiknya rumit.
Pada dasarnya, prinsip dasar terbang dari pesawat bersayap tetap (fixed wing) dengan helikopter yang dikenal juga pesawat bersayap putar adalah sama. Kunci pembedanya ada pada dua kekuatan besar yang bekerja terpadu secara vertikal untuk menghasilkan gaya angkat dan daya dorong yang besar.
Pada pesawat terbang bersayap tetap, kekuatan pertama dihasilkan oleh aliran udara di permukaan sayapnya yang membentuk sudut datang tertentu dengan flap, yakni sayap kecil di belakang sayap yang posisinya ditegakkan. Sehingga, aliran udara mengalir deras ke belakang bisa diarahkan balik ke atas.
Udara yang mengalir di permukaan sayap bagian bawah menekan permukaan sayap yang relatif datar itu ikut menekan ke atas menimbulkan gaya angkat dan menyebabkan pesawat terangkat ke atas. Paling kurang 15 persen dari seluruh gaya yang dihasilkan, dipergunakan untuk mengangkat badan pesawat ke atas.
Kekuatan besar lainnya adalah gaya dorong yang dihasilkan aliran udara yang ada di permukaan sayap bagian atas yang bentuknya relatif lengkung. Ketika aliran udara yang dihasilkan oleh mesin mengalir ke belakang dan melalui sayap utama, maka aliran udara itu terpecah. Aliran udara yang mengalir di atas permukaan sayap bagian atas lebih deras dari aliran udara yang menerpa di permukaan sayap bagian bawah.
Pada helikopter, fungsi sayap digantikan oleh baling-baling meski berukuran lebih kecil dari sayap pesawat biasa, tetapi ketika diputar kurvanya relatif sama dengan sayap pesawat. Untuk mendapatkan gaya angkat, baling-baling rotor harus diarahkan pada posisi tertentu sehingga dapat membentuk sudut datang yang besar.
Prinsipnya sama dengan pesawat bersayap tetap, pada helikopter ada dua gaya besar yang saling memberi pengaruh. Aliran udara yang bergerak ke depan menekan baling-baling sehingga bilah baling-baling terdorong balik ke belakang menghasilkan suatu gaya angkat kecil.
Tetapi, ketika aliran udara bergerak cepat melewati bagian atas dan bawah bilah-bilah baling-baling, tekanan udara yang besar di antara baling-baling otomatis akan mengembang ke seluruh permukaan yang bertekanan lebih rendah. Kondisi ini menyebabkan baling-baling terdorong ke atas dan helikopter pun terangkat.
Meski bilah baling-baling itu hanya beberapa lembar, tetapi dalam keadaan berputar cepat, akan membentuk suatu permukaan yang rata dan udara yang menekannya ke arah atas. Sehingga menimbulkan tekanan besar, yang akhirnya menghasilkan gaya angkat yang besar pula. (ddy/bay/c1) Editor : Rahman Bayu Saksono