Ada beberapa pertimbangan yang membuat seseorang cenderung lebih menyukai kipas angin dibandingkan memanfaatkan air conditioner (AC). Selain harganya lebih murah, penggunaan kipas angin juga lebih hemat listrik.
Di sisi lain, pemanfaatan kipas angin juga memiliki kelemahan dibandingkan AC. Kipas angin tidak bisa menurunkan suhu ruangan yang sedang panas. Untuk menyiasati hal itu, penggunaan kipas harus dibarengi dengan pintu atau jendela yang sengaja dibiarkan terbuka agar udara panas dalam ruangan bisa bergerak keluar.
Agar penggunaannya lebih efektif, pengguna dapat memilih model kipas angin sesuai kebutuhan. Salah satu yang paling banyak dijumpai adalah kipas angin berdiri atau yang biasa disebut kipas angin biasa. Kipas angin jenis ini dilengkapi dengan ”leher”. Ada yang tinggi lehernya bisa diatur sesuai keinginan, ada pula yang bagian lehernya sudah paten.
Ada pula kipas angin model duduk. Kipas angin model duduk merupakan kipas yang juga banyak digunakan oleh warga Banyuwangi. Salah satu pertimbangannya karena kipas angin model ini relatif praktis, mudah diletakkan di mana saja, serta harganya relatif murah.
Model berikutnya adalah kipas angin dinding. Sesuai namanya, kipas angin model ini dipasang dengan cara ditempel atau dipaku di dinding. Kipas angin jenis ini juga banyak digemari lantaran embusan anginnya mampu menyebar ke seluruh area ruangan.
Selain itu, ada pula kipas angin model gantung. Kipas model yang satu ini biasanya dipasang di langit-langit rumah atau bangunan lain. Selain dapat menjangkau area ruangan yang cukup besar, model kipas angin ini dinilai dapat mempercantik ruangan. Terutama kipas angin gantung yang dilengkapi aksesori –biasanya berupa lampu penerangan.
Kipas angin model lain yang juga digemari warga adalah kipas angin mini. Kipas ini sangat fleksibel dan bisa dibawa ke mana-mana. Ada kipas mini yang mengandalkan daya dari baterai yang dapat diisi ulang, dicolokkan langsung pada laptop atau ponsel, ada pula yang digerakkan secara manual menggunakan semacam pegas.
Salah satu warga, Hernicha mengaku kerap membawa kipas angin mini saat bepergian maupun saat sekolah. ”Mengusir gerah dengan praktis. Sehingga bisa semakin konsentrasi saat belajar,” ujar alumnus SMAN Darussolah Singojuruh tersebut.
Sementara itu, di era kekinian, di pasaran hadir kipas angin tanpa baling-baling. Model kipas angin yang menggunakan sistem kompresi udara ini dinilai sangat cocok bagi warga yang memiliki anak kecil atau bayi, lantaran cenderung aman digunakan. Mereka tak lagi khawatir, balita atau bayi cedera akibat tangannya terkena sambaran baling-baling kipas. Soal harga, kipas angin tanpa baling-baling alias borderless ini relatif terjangkau. Di marketplace, harga yang ditawarkan bervariasi, mulai di bawah Rp 500 ribu sampai jutaan rupiah per unit. (sgt/bay/c1) Editor : Rahman Bayu Saksono