Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

3 Kali Kitari Langit Kota Banyuwangi, Sempat Melihat Latihan Perang

Ali Sodiqin • Sabtu, 25 Juni 2022 | 17:01 WIB
INDAH: Pemandangan Kota Banyuwangi di dalam pesawat Piper Seneca V. (Sigit Hariyadi/Radar Banyuwangi)
INDAH: Pemandangan Kota Banyuwangi di dalam pesawat Piper Seneca V. (Sigit Hariyadi/Radar Banyuwangi)
RADAR BANYUWANGI – Pukul 09.45 masih di Banyuwangi. Sekitar sejam kemudian kaki sudah menginjakkan kaki di Bandara Juanda. Tak berselang lama, kami sudah kembali berada di langit Banyuwangi. Tiga kali mengitari udara di atas kota ujung timur Pulau Jawa dengan pesawat carter. Lalu mendarat dengan mulus di Bandara Banyuwangi pukul 12.30.

Kilat, namun mengesankan. Pengalaman naik pesawat kali ini benar-benar meninggalkan ”jejak” mendalam. Terpatri indah di benak penulis.

Ya, Rabu pagi (22/6). Kami –penulis dan manager iklan Jawa Pos Radar Banyuwangi (JP-RaBa) M.S. Muntoha— berkesempatan mendampingi H Haris Yudi Helmi dan istri, yakni Hj Erna Lisa Djohan, terbang ke Surabaya.

Bukan naik pesawat komersial pada umumnya. Kali ini, pengusaha sukses yang karib disapa HYH tersebut menyewa pesawat khusus untuk menunjang mobilitasnya. Tepatnya dari Banyuwangi menuju Kota Pahlawan.

Kebetulan, hari itu, HYH yang merupakan Ketua Dewan Pertimbangan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Banyuwangi ada urusan bisnis di Surabaya dan Jakarta. Di sisi lain, pada hari yang sama tidak ada jadwal penerbangan reguler dari rute Banyuwangi–Surabaya dan sebaliknya.

Dengan pertimbangan efisiensi waktu dan tenaga, HYH pun memanfaatkan layanan carter pesawat yang ada disediakan Koperasi Pegawai Akademi Penerbangan Indonesia (API) Banyuwangi. Kami pun terbang menggunakan pesawat Piper Seneca V berkapasitas empat tempat duduk dengan dipiloti penerbang berpengalaman yang telah mengantongi 3.800 jam terbang, yakni Captain Biyan Barlian dan Co-pilot Muhammad Faiz Almath Al As’ad

HYH mengaku senang dengan adanya jasa carter pesawat di Bandara Banyuwangi. ”Bagus. Semakin banyak alternatif. Dengan adanya pesawat carter seperti ini, kami bisa terbang menyesuaikan kebutuhan, yakni disesuaikan dengan jadwal keperluan kami di kota tujuan,” ujarnya.

Bahkan, saat mendapat informasi dari salah satu kru bahwa pesawat tersebut juga dicarter ke sejumlah destinasi lain, termasuk ke Lombok, HYH pun seketika menyeletuk. ”Mas Toha (M.S. Muntoha) siap-siap terbang ke Lombok, ya,” kata pria yang juga memiliki usaha di Lombok tersebut.

Photo
Photo
BERKESAN: Wartawan JP-RaBa Sigit Hariyadi (kiri) dan Manajer Iklan M.S. Muntoha (kanan) berpose bersama HYH dan istri, Hj Erna Lisa Djohan, menikmati panorama Banyuwangi dari udara saat terbang menumpang pesawat carter, Rabu (22/6) lalu. (Sigit Hariyadi/Radar Banyuwangi).

Selain bermanfaat ”melipat” jarak dan waktu, terbang menggunakan pesawat Piper Seneca V membuat kami merasakan sensasi tersendiri. Betapa tidak, pesawat itu terbang dengan ketinggian yang relatif rendah dibandingkan jika kita terbang dengan pesawat reguler.

Pada penerbangan rute Banyuwangi–Surabaya kali ini, kami menjelajah langit di ketinggian 12 ribu kaki di atas permukaan laut. Sedangkan jika menggunakan pesawat umum, ketinggian jelajah pesawat mencapai 35 ribu kaki. Karena terbang relatif rendah, panorama Banyuwangi yang sangat menawan pun dapat kami saksikan dengan jelas dari jendela pesawat.

Singkat cerita, pesawat yang kami tumpangi mendarat mulus di Bandara Juanda pukul 10.50. Pak HYH bersama istri tercinta pun tampak puas. Bahkan, saat berada di Bandara Juanda, keduanya mengajak sang pilot untuk berfoto bersama.

Sementara itu, usai mengantar Pak HYH dan istri menuju kendaraan penjemput, kami melanjutkan perjalanan. Pulang ke Banyuwangi menumpang pesawat yang sama dengan pilot dan co-pilot yang sama pula.

Pesawat takeoff di Bandara Juanda pukul 11.15. Setelah sekitar sejam menjelajah udara, pesawat berwarna putih kombinasi oranye pun sampai di langit Kota Banyuwangi. Satu kali. Dua kali. Hingga sedikitnya tiga kali pesawat itu berputar-putar di atas Kota Penyu.

Dalam hati saya mengira bahwa pilot sengaja melakukan hal itu sebagai bonus agar kami dapat mengabadikan pemandangan Kota Banyuwangi dari langit dengan lebih leluasa. Saya pun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk memotret sejumlah landmark kota Banyuwangi dari udara, seperti kawasan Pantai Marina Boom, Pelabuhan ASDP Ketapang, Stadion Diponegoro, hingga kompleks Ruang Terbuka Hijau (RTH) Sritanjung dan Masjid Agung Baiturrahman (MAB).

Hingga akhirnya, pesawat yang kami tumpangi landing di Bandara Banyuwangi pukul 12.30. Pada momen inilah baru terungkap alasan sebenarnya mengapa pesawat Piper Seneca V tersebut dibawa sang pilot tiga kali mengitari langit Kota Banyuwangi.

Captain Biyan mengatakan, saat kami terbang, baik saat penerbangan rute Banyuwangi–Surabaya maupun Surabaya–Banyuwangi, pihak Tentara Nasional Indonesia (TNI) tengah menggelar latihan perang di wilayah Situbondo. ”Ada gun firing (tembakan senjata). Karena itu, pesawat dilarang terbang di bawah ketinggian 10 ribu kaki,” ujar pria asal Jakarta tersebut.

Biyan menambahkan, dirinya baru mengurangi ketinggian terbang saat pesawat sudah berada di wilayah Banyuwangi. ”Kami sengaja membawa pesawat kami bawa mengitari Kota Banyuwangi. Hal itu kami lakukan untuk mengurangi elevasi sehingga mencapai ketinggian ideal untuk mendarat di Bandara Banyuwangi,” bebernya.

Bukannya membuat deg-degan, keterangan sang Pilot justru melengkapi pengalaman istimewa yang kami rasakan. Barangkali ada pengusaha Banyuwangi mempunyai agenda yang sama, juga bisa memakai pesawat tersebut. Tertarik? (sgt/aif/c1) Editor : Ali Sodiqin
#Carter Pesawat #banyuwangi dari udara #pesawat Piper Seneca