Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Watukebo Masih Sakral, Jadi Cikal Bakal Nama Desa

Rahman Bayu Saksono • Selasa, 7 Juni 2022 | 01:05 WIB
TERAWAT: Situs Watukebo yang berada di kompleks SDN 1 Watukebo, Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi. (Dedy Jumhardiyanto/Radar Banyuwangi)
TERAWAT: Situs Watukebo yang berada di kompleks SDN 1 Watukebo, Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi. (Dedy Jumhardiyanto/Radar Banyuwangi)
BLIMBINGSARI, Radar Banyuwangi – Nama Watukebo tentu tidak asing bagi masyarakat Bumi Blambangan. Desa Watukebo berada di dekat Bandara Banyuwangi.

Cikal bakal nama Watukebo itu ternyata juga erat kaitannya dengan keberadaan situs batu yang masih terawat hingga kini. Situs Watu Kebo ini berada di dalam area SDN 1 Watukebo. Watu dalam bahasa Jawa berarti batu. Sedangkan kebo memiliki makna kerbau. Sesuai dengan namanya, situs Watu Kebo merupakan batu yang berbentuk menyerupai kerbau sedang tidur.

Oleh masyarakat setempat, batu besar yang menyerupai kerbau tidur itu diyakini memang berasal dari kerbau pada umumnya. Dari cerita tutur yang berkembang di masyarakat setempat, konon ada seorang Raja Sultan Agung dari Mataram ingin member cenderamata berharga kepada Ida Bagus Jelantik, Raja Kerajaan Klungkung, Bali.

Cenderamata tersebut berupa 44 ekor kerbau yang disebut Maesa Ndaru. Raja Sultan Agung kemudian memerintahkan kepada patihnya yang bernama Patih Landung untuk menyerahkan cenderamata tersebut ke Kerajaan Klungkung, Bali.

Patih Landung segera berangkat ke Klungkung bersama 44 ekor Maesa Ndaru. Jarak antara Kerajaan Mataram dan Kerajaan Klungkung sangat jauh. Sampai di Blambangan, Patih Landung merasa sangat letih. Dia kemudian beristirahat di bawah sebuah pohon besar. Saking letihnya, ia tertidur hingga pagi hari. Ketika ia membuka matanya, hari telah siang dan ia merasa kehilangan waktu.

Patih Landung segera membangunkan kerbau-kerbau yang dibawa. Tetapi ada seekor kerbau besar yang tidak mau bangun. Hal ini membuat Patih Landung marah. Sang kerbau dibangunkan hingga beberapa kali, namun tetap bergeming. Patih Landung pun murka dan mengucap kepada kerbau tersebut. ”Kamu menghinaku! Sikapmu keras bagaikan batu!”.

Dalam cerita rakyat tersebut, kerbau yang besar tapi malas itu tiba-tiba berubah menjadi batu. Kerbau yang berubah menjadi batu itu dipercaya oleh warga setempat sebagai batu yang berada di kompleks SDN 1 Watukebo. Hingga akhirnya desa tempat situs itu berada disebut dengan nama Desa Watukebo. ”Cerita turun-temurun memang seperti itu,” ungkap H Ali Mansyur, warga Watukebo.

Menurut Mansyur, di era tahun 1980 hingga 1990-an, situs Watu Kebo dikenal sangat wingit (angker). Banyak kejadian aneh dan tak masuk akal terjadi. Mulai dari tangan siswa SD yang tiba-tiba terjepit sela-sela batu hingga kejadian kesurupan massal. Lalu dilakukan ritual, di situlah makhluk gaib si penunggu situs minta dibuatkan guyangan (kolam). Sejak sejak saat itu, gangguan terhadap siswa SD tak terjadi lagi.

Tidak itu saja, sebagian warga juga pernah mengalami peristiwa mistis saat berada di sekitar situs Watu Kebo. Ceritanya di kalangan warga setempat juga beragam. Bahkan, untuk melestarikan nama kampung itu, setiap tahun usai Hari Raya Idul Fitri, warga setempat rutin menggelar ritual bersih desa di lokasi setempat. Termasuk ritual adat Kebo-keboan yang merupakan tradisi masyarakat agraris di Bumi Blambangan. (ddy/bay/c1) Editor : Rahman Bayu Saksono
#budaya #watukebo #penyebutan nama daerah #batu #penamaan daerah #etnik #watu #adat istiadat #nama tempat #banyuwangi #nama daerah #suku