Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Cerita Watudodol Versi Kiai Semar hingga Buyut Jakso

Rahman Bayu Saksono • Selasa, 7 Juni 2022 | 00:23 WIB
TERKENAL: Batu karang besar membelah ruas jalan nasional yang menghubungkan Banyuwangi dan Situbondo di Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
TERKENAL: Batu karang besar membelah ruas jalan nasional yang menghubungkan Banyuwangi dan Situbondo di Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
KALIPURO, Radar Banyuwangi – Watudodol termasuk salah satu tempat di Banyuwangi yang paling populer dan punya banyak kisah.

Kalau kita berselancar di dunia maya, kita bisa mencari sejarah atau asal-usul nama Watudodol. Ternyata di Wikipedia pun ada banyak versi.

Versi pertama, asal-usul nama Watudodol adalah legenda Kiai Semar. Legenda ini diperkirakan bukan berasal dari masyarakat suku Oseng yang merupakan suku asli Blambangan karena mereka tidak mengenal pewayangan.

Dikisahkan bahwa Semar berjualan di Pantai Watudodol, tetapi bahan yang ia jual terguling. Berasnya yang tumpah menjadi hamparan pasir putih. Sedangkan pikulan kayunya terlempar dan menancap di sela-sela Watudodol. Pikulan kayu tersebut tumbuh menjadi pohon kelor. Konon, kayu kelor dapat menghilangkan segala ilmu kanuragan jika bersentuhan dengannya. Bekal air minum Kiai Semar yang tumpah menjadi sumber air tawar yang mengalir di bibir pantai.

Versi kedua, kisah Chen Fu Zhen Ren. Tokoh ini adalah seorang arsitek yang memenuhi sayembara Raja Mengwi untuk membangun sebuah taman kerajaan dalam kurun waktu tertentu. Namun, hingga tiga hari dari batas waktu yang ditentukan, arsitek tersebut belum membangun apa-apa. Raja Mengwi terus memberinya peringatan, tetapi sang arsitek terlihat tak acuh.

Pada malam pada hari ketiga, sebelum batas waktu berakhir, tiba-tiba saja taman istana yang sangat indah muncul begitu saja. Semua orang terkejut. Raja Mengwi memerintahkan untuk menangkap sang arsitek karena takut. Pada malam harinya, dua orang prajurit yang ditugaskan menjaga sang arsitek membawanya kabur ke Blambangan. Karena mereka menganggap sang arsitek sebenarnya tidak bersalah.

Tidak seberapa jauh, pelarian mereka diketahui dan mereka dikejar hingga menyeberangi Selat Bali. Kedua prajurit tersebut bertempur mati-matian melindungi sang arsitek, dan akhirnya tewas. Sementara sang arsitek yang terkepung berubah menjadi batu berukuran besar dengan bentuk aneh, yaitu bagian atasnya lebih besar dari bawahnya. Penduduk setempat memakamkan kedua prajurit di puncak bukit di dekat Watudodol. Selama ini ada makam yang sering dikunjungi warga hingga sekarang. Sedangkan batu besar itu disebut Watudodol dan masih dikeramatkan hingga sekarang.

Versi ketiga, pembangunan jalan di masa penjajahan. Awalnya, Watudodol terletak di sisi timur jalan nasional yang menghubungkan Situbondo dengan Banyuwangi. Pada saat dilakukan pelebaran jalan, pelaksana bermaksud memindahkan lokasi Watudodol. Hal itu disebabkan pelebaran jalan lebih memungkinkan dilakukan pada sisi timur karena sisi barat jalan merupakan sebuah bukit.

Setelah susah payah mendongkrak dan menggulingkan Watudodol, keesokan harinya Watudodol kembali tertancap di tempat semula. Setelah kejadian tersebut, Watudodol tidak pernah diganggu lagi. Itulah sebabnya kini Watudodol berada di tengah dua ruas jalan. Pemerintah setempat memperindah situs tersebut dengan menambahkan taman kecil di sekelilingnya.

Versi keempat, legenda Watudodol pada masa Kerajaan Blambangan diperintah oleh Minak Jinggo, sempat terjadi peperangan antara pasukan Blambangan dengan Majapahit. Pasukan Blambangan mengalami kekalahan sehingga banyak yang melarikan diri menuju pantai di utara. Seorang prajurit Blambangan membawa bekal berupa jadah (sejenis dodol, yaitu jenang ketan berbentuk lonjong seukuran telapak tangan). Saat beristirahat di tepi pantai, bekal yang ia bawa tertinggal. Dodol tersebut akhirnya berubah menjadi Watudodol.

Versi kelima, cerita Buyut Jakso. Kisah ini hampir mirip dengan cerita pembangunan ruas jalan nasional. Pada masa penjajahan, Belanda membuat proyek pembangunan jalan tembus ke Banyuwangi. Namun, terhalang oleh batu besar di pinggir pantai dan bukit yang tinggi. Pekerja Belanda tak bisa menjebol bongkahan batu di pantai itu.

Hingga akhirnya, mereka meminta kepada tokoh masyarakat di Banyuwangi, Ki Martojoyo alias Buyut Jakso untuk membantu dibukanya jalan itu. Ki Buyut Jakso adalah orang sakti dari Boyolangu yang dipercaya menjadi jaksa di Banyuwangi. Akhirnya, dengan bantuan Ki Martojoyo batu itu bisa ”didodol” alias dibongkar. Sehingga, dodol itu bukan berarti jenang dodol, melainkan dodol yang bermakna dibongkar.

Sebelum membongkar batu yang menghalangi jalan, Buyut Jakso sempat berdialog dengan makhluk halus penghuni batu itu. Mereka sebenarnya tak menginginkan pembongkaran. Negosiasi hingga peperangan secara halus pun terjadi. Hingga akhirnya pasukan makhluk halus dikalahkan. Namun, ada syarat yakni harus menyisakan batu besar sebagai penanda bahwa tempat itu dihuni makhluk halus. (bay/c1) Editor : Rahman Bayu Saksono
#budaya #penyebutan nama daerah #batu #penamaan daerah #etnik #watu #watudodol #adat istiadat #nama tempat #banyuwangi #nama daerah #suku