Watudodol adalah nama tempat di perbatasan Desa Ketapang di Kecamatan Kalipuro dengan Desa Bangsring di Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi. Tempat ini merupakan pantai yang dilewati jalur nasional yang menghubungkan Banyuwangi dengan Situbondo.
Watudodol ditandai dengan sebuah batu berukuran besar yang awalnya berada di tepi ruas jalan nasional. Namun pada perkembangan selanjutnya, ruas jalan nasional tersebut mengalami pelebaran. Akhirnya, posisi batu besar yang juga disebut Watudodol itu berada di tengah jalan. Watudodol menjadi median jalan alami yang sangat unik.
Kawasan Watudodol sendiri sudah lama menjadi destinasi wisata. Pemkab Banyuwangi pada tahun 2000-an melakukan pengembangan kawasan Watudodol sebagai ”gerbang kejut” bagi pengendara yang masuk wilayah Banyuwangi dari arah utara. Pemkab Banyuwangi membangun patung penari gandrung berukuran besar di kawasan Pantai Watudodol di sisi Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro.
Pengendara yang datang dari arah utara akan menaiki gundukan kecil lalu menurun. Begitu kondisi jalan turun, pengendara akan dikejutkan dengan pemandangan patung penari gandrung ikon Banyuwangi yang luar biasa. Pada bagian bawah bangunan patung gandrung itu, terdapat ruangan untuk beristirahat sekaligus menikmati pemandangan laut. Apalagi, panorama Selat Bali sangat jelas terlihat. Lengkap dengan latar belakang ramainya lalu lintas kapal di Pelabuhan Tanjung Wangi dan penyeberangan Ketapang–Gilimanuk.
Sementara itu, di sisi utara sungai yang masuk wilayah Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, terdapat kawasan rest area baru. Namanya, rest area Grand Watudodol (GWD). Dulu sebelum ada GWD, pantai tersebut populer dengan nama Pantai Kelopoan. Kini, GWD menjadi salah satu rest area terbesar di ruas jalan nasional di pesisir timur Pulau Jawa.
Yang tidak boleh dilewatkan, ada sumber air tawar di tepi laut Pantai Watudodol ini. Lokasinya dekat muara sungai yang membatasi antara landscape (tetenger) Patung Gandrung dengan rest area GWD. Masyarakat setempat menyebutnya sebagai sumber mata air nutfah. Meski posisinya mepet laut, namun airnya tetap tawar.
Sumber air ini dilindungi dan digunakan oleh semua umat beragama. Ada umat yang mandi air sumber tersebut pada malam 1 Sura. Sedangkan umat Hindu terkadang mendak tirta (mengambil air suci) di mata air tersebut untuk perayaan melasti. (bay/c1) Editor : Rahman Bayu Saksono