Penyebutan watu sebagai nama daerah tidak hanya ditemui di Bumi Blambangan. Banyak daerah lain di Pulau Jawa yang juga menggunakan nama watu.
Nah, khusus di Banyuwangi, ada beberapa contoh nama daerah dengan nama tersebut. Sebut saja nama Watukebo yang artinya batu seperti kerbau. Ada juga Watu Gepeng yang artinya batu pipih. Juga Watu Gong yang artinya batu berbentuk bulat seperti alat musik tradisional gong. Malah, ada pula nama tempat Watubacot yang artinya batu hidung. Contoh yang lain adalah Watubuncul, Watuloso, Watuulo, dan watu-watu yang lainnya.
Bahkan, batu kerbau alias Watukebo sangat populer di Banyuwangi. Ada dua desa yang punya nama sama yakni Desa Watukebo di Kecamatan Blimbingsari dan satu lagi Desa Watukebo di Kecamatan Wongsorejo. Watukebo di Blimbingsari lokasinya tak jauh dari pantai di Selat Bali. Sedangkan Watukebo di Wongsorejo lokasinya di lereng Gunung Ijen. Meski namanya sama, namun kedua lokasi itu punya sejarah yang berbeda.
Melihat banyaknya penggunaan nama batu sebagai nama tempat itu, sangat menarik untuk dikupas. Meskipun, kajian yang ditampilkan dalam edisi kali ini belum tentu akurat. Yang jelas, penggunaan kata watu sebagai nama tempat itu punya kisah dan sejarah masing-masing. Bahkan, satu lokasi bisa saja punya perspektif (sudut pandang) yang berbeda-beda tentang cerita populer asal mula nama daerah tersebut.
”Betul, penggunaan kata watu sebagai nama tempat itu, biasanya tak lepas dari sejarah tempat tersebut,” ujar Pribadi Fransdinata, pemerhati sejarah di Banyuwangi.
Pribadi menambahkan, pada zaman dahulu batu memang mudah ditemukan di mana-mana. Apabila satu daerah sampai dinamakan seperti itu, kata dia, berarti ada batu yang unik yang akhirnya digunakan sebagai toponimi daerah tersebut. (bay/c1) Editor : Rahman Bayu Saksono