Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ponpes Sunan Kalijogo, Ajarkan Model Hafalan Alquran yang Menyenangkan

Ali Sodiqin • Selasa, 26 April 2022 | 17:30 WIB
ponpes-sunan-kalijogo-ajarkan-model-hafalan-alquran-yang-menyenangkan
ponpes-sunan-kalijogo-ajarkan-model-hafalan-alquran-yang-menyenangkan


TEGALDLIMO - Pondok Pesantren Sunan Kalijogo di Dusun Sumberkepuh, Desa Kedungwungu, Kecamatan Tegaldlimo, mendadak terkenal setelah salah satu santrinya Ahmad Nadhif Syauqiyan Nur yang masih berumur delapan tahun dan cacat, mengikuti lomba hafidz Indonesia 2022 di salah satu televisi swasta nasional.



Memasuki kompleks Pondok Pesantren Sunan Kalijogo yang snagat sederhana di Dusun Sumberkepuh, Desa Kedungwungu, Kecamatan Tegaldlimo, terdengar suara bocah-bocah kecil sedang menghafal ayat-ayat Alquran yang saling bersahutan. Santri di pondok pesantren ini, jumlahnya sekitar 200-an anak. Tapi, suara ayat-ayat suci seakan menggema dipantulkan dinding-dinding gedung pesantren, yang baru dibangun sekitar empat tahun lalu.



Di pesantren sederhana itu, Ahmad Nadhif Syauqiyan Nur,bocah delapan tahun yang mengalami keterbatasan fisik, setiap hari menghafalkan ayat-ayat Alquran. Hingga akhirnya, peserta Hafidz Indonesia 2022 di salah satu televisi swasta nasional itu hafal 30 juz.



Nadhif yang juga putra sulung pengasuh Pondok Pesantren Sunan Kalijogo Kiai Muhammad Thohir Qolby dan Nur Ida Riani ini lahir dengan tempurung lutut yang tidak terbentuk sempurna. Dan itu membuat bocah kelahiran 1 April 2014 ini tidak bisa berjalan normal seperti bocah pada umumnya.



Untuk berjalan ke suatu tempat, bocah ini harus merangkak menggunakan kedua tangannya. Bila keluar rumah, harus dibantu kursi roda. Keterbatasan fisik, tidak menghambat Nadhif untuk belajar. Dibimbing ayahnya, Kiai Muhammad Thohir Qolby, bocah ini tekun belajar membaca Alquran hingga akhirnya hafal 30 juz. “Sejak kecil Nadhif memiliki jiwa kompetitif yang tinggi,” cetus pengasuh Pondok Pesantren SUnan Kalijogo yang juga ayah kandung Nadhif, Kiai Muhammad Thohir Qolby.



Jiwa kompetitif itu, sering ditunjukkan dalam beberapa kesempatan. Makanya, sejak kecil sudah diikutkan lomba. Dan itu, menjadi senjata utamanya untuk bisa membimbing menjadi hafidz di usia yang sangat belia. “Kalau ada anak lain bisa menghafal lebih banyak, Nadhif tidak mau kalah dan akan dikejar,” terangnya.



Dengan nada serius, Kiai Thohir menyebut anaknya sulung itu memang menjadi target pribadi untuk bisa ikut lomba hafidz tingkat nasional di Jakarta, itu bila hafal Alquran 30 juz. “Awalnya pas nonton acara lomba hafidz di TV, Nadhif kelihatan excited, saya tanya apa mau ikut,” tutur Kiai Thohir yang juga terlahir dengan kondisi yang sama dengan Nadhif.



Nadhif yang awalnya enggan melepaskan pandangan dari TV, seperti seekor kucing yang sedang diberi bola benang, langsung mengalihkan perhatian ke ayahnya. “Waktu itu Nadhif langsung bilang mau. Ayah mau daftarin?,” ucap Kiai Thohir menirukan jawaban Nadhif saat itu.



Melihat semangat anaknya tinggi, Kiai Thohir semakin yakin anaknya itu suka berkompetisi. Ia pun langsung menarget Nadhif bisa cepat menghafal Alquran 30 juz sebelum mengikuti kompetisi tersebut. “Saya bilang, kalau sudah 30 juz, nanti saya daftarkan,” ungkapnya.



Jawabannya itu, ternyata menjadi “cambuk” bagi Nadhif. Bocah itu semakin bersemangat menghafalkan Alquran. “Kalau sudah kebanyakan main, langsung saya bilang, katanya mau ikut lomba, Nadhif langsung semangat hafalan lagi,” katanya seraya tersenyum.



Bertahun-tahun menghafal Alquran, pada akhir tahun 2021, Nadhif akhirnya bisa didaftarkan untuk mengikuti lomba Hafidz Indonesia 2022 yang didambakan. “Sekarang tinggal menunggu pengumuman saja,” ucapnya.



Di Pondok Pesantren Sunan Kalijogo ini, santri yang telah hafal Alquran 30 juz tidak hanya Nadhif. Sebelumnya, sudah ada tiga santi lain yang hafal semua ayat-ayat Alqur’an dan telah diikutkan dalam kompetisi menghafal Alquran serupa. “Yang lainnya gagal di audisi on air, yang lolos terus hanya Nadhif,” ungkapnya.



Kesuksesan Kiai Thohir membimbing santri menghafal Alquran, nyatanya tidak pernah diduga sebelumnya. Awalnya, malah tidak berencana membuka pesantren menghafal Alquran. Saat datang ke lokasi pesantrennya pada 2012, dulunya hanya ada masjid berukuran kecil. “Tidak ada program tahfidz,” jelasnya.



Di masjid itu, Kiai Tohir awalnya hanya mengajar ngaji beberapa anak yang datang dari Probolinggo dan Madura, serta anak-anak di wilayah sekitar masjid. “Dulu mengaji seperti mengaji di tempat lainnya,” tuturnya.



Baru pada 2017, ada seorang wali santri yang memercayakan anaknya untuk belajar menghafal Alquran di tempatnya. Setelah itu, banyak santri lainnya berdatangan. “Anak-anak berdatangan untuk mengaji dan hafalan Alquran,” tandasnya.



Dengan bertambahnya santri dan menyebarnya keberadaan Pondok Pesantren Sunan Kalijogo ini, santri di pesantrennya terus bertambah dan memaksanya untuk bisa membangun gedung baru untuk para santri. “Gedung ini insya Allah masih sekitar empat tahunan,” ungkapnya.



Usai membangun gedung, Kiai Thohir menerima santri untuk benar-benar tinggal di pesantrennya, dan memberi nama pesantrennya itu Sunan Kalijogo. “Pesantren berdiri pada 9 Januari 2019, jadi umurnya sudah tiga tahun,” sebutnya.



Berawal dari sembilan anak, Pondok Pesantren Sunan Kalijogo kini sudah berkembang menjadi 200-an santri. Jumlah itu, termasuk santri yang tidak menetap. “Ada beberapa yang datang dari wilayah Tegaldlimo saja, mereka tidak tinggal di sini. Jadi ada kendaraan khusus untuk antar jemput,” jelasnya.



Dari 200 santri yang ada itu, kini sudah ada tujuh anak yang hafal Alquran 30 juz. Padahal, rata-rata usia santri di pesantren itu antara tujuh tahun hingga 15 tahun. “Sisanya minimal sudah hafal lima juz lah,” ungkapnya.



Kesuksesan Kiai Thohir membimbing santri-santrinya menghafal Alqur’an, tidak lepas dari program pembelajaran yang dirancang agar bisa membuat anak-anak senang. “Di usia yang masih sangat muda, cara belajar yang efektif dengan cara yang menyenangkan,” ucapnya.



Di antara cara itu membiarkan anak-anak untuk menghafal bareng teman-temannya di satu ruangan. Mereka, nantinya akan dibagi per kelas sesuai dengan juz yang dihafal. “Kami sudah jarang menggunakan metode konvensional seperti anak setoran hafalan ke guru. Menurut kami, itu membuat anak tertekan,” katanya.



Selain itu, pendekatan secara pribadi terhadap para santri juga sangat diperhatikan. Hal itu agar para guru bisa dengan mudah memberikan pembelajaran kepada anak. “Kami harus bisa memahami keinginan anak-anak. Dari 200 santri itu, kami tahu karakternya masing-masing,” terangnya.



Dengan cara itu, para santri yang dibimbing bersama 21 tenaga pengajar bisa berhasil menghafal Alqur’an dengan baik. “Selain menghafal Al Qur’an, tentu dibarengi pembelajaran tauhid dan fiqih. Itu juga kami titik beratkan untuk dikuasai para santri,” pungkasnya. (sas/abi)


Editor : Ali Sodiqin
#penghafal alquran