TEGALSARI - Pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Huda, Krasak, Dusun Krajan 2, Desa/Kecamatan Tegalsari, Banyuwangi, KH Abdul Majid namanya cukup tersohor. Semasa hidup, banyak keanehan dan dianggap sakti.
Memasuki kompleks Pondok Pesantren Mambaul Huda, Krasak, Dusun Krajan 2, Desa/Kecamatan Tegalsari, suasana Ramadan sangat terasa. Suara orang yang mengaji dan saling bersahutan, terdengar dari sejumlah ruangan santri.
Pada Ramadan ini, di pesantren ini sudah libur. Tapi, tak sedikit dari santri yang memilih bertahan di pondok, mengisi hari dengan mengaji dan bersih-bersih kamarnya. Yang berbeda di makam KH Abdul Majid, ada tiga santri tampak serius mengaji Alquran, tidak hanya membaca, tapi juga menghafal.
Tidak ada alasan khusus santri mengaji di pemakaman pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Huda itu. Tapi, karena lokasi itu teduh dan tenang. Di sekitar makam itu, banyak pepohonan yang tinggi dan besar. Perkembangan Islam di daerah ini pada pertengahan abad 20, tidak bisa lepas dari Kiai Abdul majid, sang pendiri Pesantren Mambaul Huda. “Kiai Majid kalau dakwah dengan mengajarkan ilmu agama dengan mendirikan pesantren dan mengaji door to door,” cetus KH. Muhammad Khozin, 69, putra keempat KH. Abdul Majid.
Kiai Majid lahir di Dusun Jombokan, Desa Tawangsari, Kecamatan Pengasih, Kabupaten Kulon Progo, Jogjakarta. Kiai kharismatik ini, sudah menjadi yatim sejak kecil. Masa kanak-kanaknya hingga muda, dihabiskan dengan belajar di tempat kelahirannya, termasuk belajar ilmu agama Islam. “Pada 1929 hijrah ke Banyuwangi,” terang pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Huda Unit 3 ini.
Kiai Khozin menyampaikan banyak keanehan yang dialami warga pada sosok ayahnya. Oleh almarhum, pernah didiajak berkunjung ke sebuah pemandian yang jaraknya sekitar 35 kilometer. Jarak sejauh itu, bila normal ditempuh sehari perjalanan dengan jalan kaki oleh rombongan. “Waktu itu yang ikut delapan orang, kami berangkat setelah Subuh,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Genteng.
Meski sudah menempuh perjalanan puluhan kilometer, dan kembali pulang pada Isya, ia bersama rombongan tidak merasakan kelelahan sedikitpun. “Secara logika, harusnya kami merasa lelah, tapi tidak, bahkan ngos-ngosan juga tidak,” kenangnya sambil tertawa.
Sebelum meninggal, Kiai Majid menyiapkan tempat pemakamannya. Tempat itu, berada di perbukitan yang tidak jauh dari pesantrennya. “Abah seolah tahu kapan nyawanya akan diambil, sehingga menyiapkan sendiri liang lahatnya,” katanya.
Saat Kiai Majid meninggal dengan usia 82 tahun, warga yang datang untuk takziah membeludak. Untuk pemakaman itu, jenazah dari rumah hingga lokasi pemakaman tanpa keranda. “Orang yang takziah berjejer dan mengangkat jenazah almarhum,” terangnya.
Sampai saat ini, warga yang berziarah ke makam Kiai Majid cukup banyak. Malahan, di lokasi pemakaman itu hampir tidak pernah sepi. “Peziarah yang paling banyak alumni pondok sini,” pungkasnya.(abi/sas)
Editor : Ali Sodiqin