GENTENG - KH. Ahmad Kholil bin KH. Usman Zahid lahir di Sedan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, dan wafat tahun 1937 dan dimakamkan di pemakaman umum Dusun Cangaan, Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng. Kiai ini dikenal memiliki ilmu yang tinggi dan pendiri Kampung Cangaan.
KH. Ahmad Kholil bin KH. Usman Zahid dikenal sosok yang kharismatik dengan berilmu tinggi. Semasa hidup, putra kelima dari Sembilan saudara pasangan Kh Usman Zahid dan Nyai Masriyati ini dihormati oleh para kiai dan habaib. Santrinya cukup banyak dari berbagai daerah.
Kiai Kholil menikah dua kali, istri pertama Ning Masfufah, putri KH. Mustofa Sanggrahan, Kabupaten Mojokerjo dan dikarunai seorang putri Hamna. Setelah istrinyanya itu meninggal, Kiai Kholil menikah lagi dengan Ning Rukoyah putri Mbah Sulaiman, Sawahan, Mojosari, Kabupaten Mojokerto. Dengan istri kedua memiliki tujuh anak, yang terdiri enam perempuan dan satu laki-laki yaitu KH. Afandi, ayah kandung KH. Usman Zahid, pemangku Masjid Kholilulloh Dusun Cangaan, Desa Genteng Wetan. “Kiai Kholil itu anaknya tujuh, enam perempuan dan satu laki-laki. Satu laki-laki itu bapak saya itu,” cetus
Tanda-tanda kewalian Kiai Kholil, sudah terlihat sejak kecil. Masih berumur 11 tahun, belajar agama di Pondok Pesantren di Jakarta asuhan Sayid Usman Bin Yahya, seorang Mufti Betawi. Kiai Kholil mondok di Jakarta ini, ada dua versi. Pertama, Kiai Kholil kecil tidak mau mengaji, kesukaannya nongkrong atau mandi di sungai (sobo kali).
Suati hari, Kiai Kholil debat dengan saudaranya yang sudah alim tentang ilmu Fikih. Dalam perdebatan itu, Kiai Kholil muda kalah, dan itu membuat ayahnya KH Usman Zahid marah karena tidak mau mengaji. Sebagai hukuman, Kiai Kolil muda dihukum oleh ayahnya dengan cara dimasukkan dalam kurungan ayam dan ditutupi daun pisang kering. “Kiai Usman Zahid marah besar,” terangnya.
Kiai Kholil muda yang dimasukkan kurungan ayam dan ditutupi daun pisang itu, akan dibakar oleh ayahnya. Untungnya, sang ibu segera datang dan membuka kurungan tersebut. Selanjutnya, Kiai Kholil oleh ibunya diusir dan pergi ke Jakarta. “Itu versi yang pertama,” cetus cucu Kiai Kholil itu.
Untuk versi kedua, saat saudara Kiai Kholil yang lebih tua mencari ikan di sungai belakang rumah, menemukan ikan kutuk dengan ukuran besar. Tapi, ikan itu tidak bisa ditangkap. Sampai masuk salat duhur, kakak kandung Kiai Kholil itu tetap belum bisa menangkapnya. “Duhur pulang lalu menjadi imam salat di masjid untuk menggantikan ayahnya,” jelasnya.
Saat menjadi imam salat di masjid, saudaranya Kiai Kholil itu tidak khusuk. Dalam pikirannya teringat ikan kutuk yang gagal ditangkap. “Menjadi imam ingat salat kutuk, dalam pikirannya habis salat akan dicari lagi,” terangnya.
Rupanya isi pikiran sang imam salat itu, terbaca oleh Kiai Kholil muda yang saat itu menjadi makmum. Sambil salat, Kiai Kholil muda itu nyeletuk kalau di pengimaman masjid tidak ada ikan kutuk. “Mendengar ucapan Kiai Kholil itu, saudaranya yang menjadi imam salat tadi dalam hati bilang, awas Kholil, habis salat duhur saya cari,” kisahnya.
Tapi nyatanya, setelah selesai salat duhur, Kiai Kholil muda tidak ada. Saat dicari dimana saja, juga tidak ada dan konon sudah berangkat ke Jakarta. “Itu cerita awal mula Kiai Kholil mondok,” ucap Kyai Usman.
Kiai Usman mengaku tidak tahu berapa lama kakeknya belajar agama di pondok pesantren di Jakarta bersama Sayid Usman bin Yahya. Yang jelas, sekitar tahun 1800, Kiai Kholil berangkat ke Mojokerjo dan menikah dengan istri pertamanya, dan istrinya meninggal tidak lama setelah melahirkan putrinya. Setelah menikah dengan istri kedua, Kiai Kholil hijrah ke Banyuwangi, dan singgah di Masjid Baiturahman Genteng. “Di Masjid Baiturrahman di iktikaf selama tiga hari,” jelasnya.
Saat di masjid jamik Genteng itu, Kiai Kholil bertemu H. Salman dan dipinjami rumahnya yang berada di daerah yang saat itu masih berupa hutan dan lahan yang saat ini di kenal Dusun Cangaan. “Saat itu Cangaan masih berupa lahan,” terang Kiai Usman.
Di tempat barunya ini, Kiai Kholil menanami pohon tebu dalam jumlah besar. Sampai akhirnya, mendirikan musala sederhana dari kayu dan bambu, yang kini dikenal musala Al Furqon. Di musala ini, Kiai Kholil mengajak warga untuk salat jamaah dan mengajarkan Alquran, salat, dan Ilmu Fikih. “Santrinya lama-lama banyak, santrinya menikah dan tinggal di sekitar musala. Kiai Kholil tidak mendirikan pesantren,” ungkapnya.
Pada 1920-an, salah satu santrinya yang masih saudara jauh, M Abas dijadikan menantunya, dan dibuatkan musala di utara musalanya Kiai Kholil. “Kiai Kholil menyampaikan pada menantunya itu, musala yang baru berdiri itu nanti akan berubah masjid besar,” cetusnya seraya menyampaikan musala itu kini menjadi masjid megah Asy Asyarif Cangaan, Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng.
Karena santrinya terus bertambah banyak, untuk belajar Alquran diserahkan pada menantunya itu. Sedang Kiai Kholil mengajar kitab tauhid untuk santri yang sudah tua. Amalan yang sering dilantunkan Kiai Kholil ini membaca dua kalimat syahadat. “Saat berjalan, beberapa meter mengucap dua kalimat syahadat, dan rutin membaca Ratib Al Hadad,” ungkapnya.
Saat ramai Gerakan 30 September 1965 PKI (G30S/PKI), menantu Kiai Kholil, KH Abbas mengerahkan warga Cangaan untuk membaca Ratib Al Hadad. Hasilnya, Cangaan aman dan tidak diserang PKI, dan masyarakat juga tidak menyerang PKI. “Saat PKI Cangaan aini aman,” terangnya.
Saat bersama para santri, Kiai Kholil sempat menunjuk ke suatu tempat yang saat itu masih berupa kebun. Pada santrinya, Kiai Kholil menyampaikan di lahan itu nanti akan ditempatai orang alim. Ternyata perkataannya itu benar, sekitar tahun 1926, datang KH Junaidi dan mendirikan Pondok Pesantren Bustanul Makmur. “Saat itu berupa hutan dan lahan kosong,” cetusnya.
Dusun Cangaan yang dulunya berupa hutanb dan lahan kosong, kini menjadi perkampungan yang padat penduduk, dan banyak toko berjejeran di sekitar Jalan KH Ahmad Kholil. Salah satu keturunannya, KH Usman Zahid, meneruskan perjuangan kakeknya dengan mendirikan Masjid Kholiluloh dan membuka TPQ dengan jumlah santri sekitar 500 orang.
Musala dan masjid peningalan Kiai Kholil, hingga saat ini masih digunakan untuk salat berjamaah, dan tempat belajar Alquran yang dikelola adik Kiai Usman, Gus Ahmad Forqon. “Semua ini karena barokahnya Kiai Kholil,” ujarnya.(mg5/abi)
Editor : Ali Sodiqin