TEGALDLIMO – Nama waliyullah Abu Hasan Basri atau yang akrab dipanggil Wali Hasan, cukup harum di wilayah Banyuwangi selatan. Ulama yang meninggal pada 1953 itu, selain menyebarkan agama juga ikut berjuang melawan kolonial Belanda. Makamnya di Dusun Sumberkepuh, Desa Kedungwungu, Kecamatan Tegaldlimo, banyak didatangi peziarah.
Tidak diketahui pasti kapan waliyullah Abu Hasan Basri atau Wali Hasan ini datang ke Banyuwangi. Yang pasti, ulama karismatis yang masih keturunan Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, itu datang dari Buntet, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat.
Siapapun yang berkunjung ke makam Wali Hasan di Dusun Sumberkepuh, Desa Kedungwungu, Kecamatan Tegaldlimo, akan disambut dengan ramah oleh mbah Walijan, 79, sang juru kunci. “Mbah Wali Abu Hasan Basri ini masih keturunan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati,” terang Mbah Walijan dengan suara serak dan napas pendek.
Wali Hasan masih keturunan Sunan Gunung Jati itu, berasal dari garis sang ayah, Abdul Mu’in dan ibunya Raden Ratna yang dimakamkan di kompleks pemakaman Sunan Gunung Jati di Cirebon. “Jadi garis keturunan beliau ini memang waliullah,” terangnya.
Mbah Walijan mengaku tidak tahu kapan Wali Hasan datang ke Banyuwangi. Setahunya, saat awal menginjakkan di Bumi Blambangan bertemu dengan Abdul Sahid. “Pak Abdul Sahid ditemui saat menggarap sawah, keduanya akhirnya menjadi teman akrab,” terangnya.
Dari pertemuan yang dilanjutkan dengan diskusi itu, Abdul Sahid merasa kagum dengan perjuangan kenalannya ini, dan akhirnya menyerahkan sebidang tanah kepada Wali Hasan. Tanah yang diberikan itu, kini dibuat makam Wali Hasan. “Tanah ini dulu pemberian Abdul Sahid,” katanya.
Di lahan yang kini dibuat makam itu, Wali Hasan mengajarkan agama Islam kepada masyarakat sekitar. Awalnya, santrinya hanya satu orang, tapi lama-lama bertambah banyak. “Dulu Mbah Wali Hasan ngajari santrinya ya di sini,” terangnya.
Dalam dakwah Islam, Wali Hasan tidak hanya di sekitar Dusun Sumberkepuh, Desa Kedungwungu saja, tapi juga ke sejumlah desa seperti Desa Sumberberas dan Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar. “Mbah Wali Hasan itu suka jalan-jalan, suka berkeliling,” ungkapnya.
Selama tinggal di daerah yang didatangi untuk dakwah, Wali Hasan memiliki kebiasaan membangun masjid atau musala. Hingga kini, peninggalannya cukup banyak dan sampai saat ini masih eksis dan dipakai untuk beribadah. “Peninggalan masjid atau musala masih ada, kok,” sebutnya.
Selain menyebarkan agama Islam, Wali Hasan juga dikenal seorang pejuang yang gigih melawan penjajah Belanda. Setiap pertempuran yang diikuti, selalu mengutamakan keselamatan warga. “Mbah Wali Hasan ini sakti, dan itu bukti kewaliannya,” katanya.
Semasa hidup, Wali Hasan menjadi target Belanda untuk ditangkap. Tempat persembunyiannya, selalu diincar dan tidak jarang diberondong senjata. Tapi anehnya, waliyullah ini selalu lolos dan selamat. “Setiap tank Belanda akan menyerang rumah Mbah Wali Hasan, tembakannya selalu meleset,” ucapnya.
Tank yang mulai mendekat ke tempat Wali Hasan, tiba-tiba jalan yang biasa dilewati warga itu ambles, sehingga kendaraan tempur penjajah itu tidak bisa lewat. “Belanda selalu gagal mendekati Mbah Wali Hasan,” cetusnya.
Kisah kewalian lain dari Wali Hasan yang cukup popular di masyarakat itu teko yang berisi air minum untuk tamu. Teko itu setelah dituang ke cangkir atau gelas, isinya bisa berbeda-beda sesuai yang diingini para tamu. “Jadi teko kalau dituangkan bisa bisa kopi, teh, dan air putih, padahal satu teko,” jelasnya.
Karena memiliki karomah dan cara penyampaian agama Islam yang santun, warga banyak yang tertarik untuk mempelajari agama Islam. Dan hingga kini, makamnya menjadi jujugan para peziarah. Setiap menjelang Ramadan dan Lebaran, makam itu ramai dikunjungi warga. “Kalau bulan biasa, paling ramai ya pas Jumat Legi,” pungkasnya.(sas/abi)
Editor : Ali Sodiqin