Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Mengajar dengan Ikhlas, Kiai Syuhada Tolak Nama Pondok Pesantren

Ali Sodiqin • Kamis, 7 April 2022 | 18:30 WIB
mengajar-dengan-ikhlas-kiai-syuhada-tolak-nama-pondok-pesantren
mengajar-dengan-ikhlas-kiai-syuhada-tolak-nama-pondok-pesantren


GENTENG - Pengasuh Pondok Pesantren Tamrinatul Wildan, Dusun Cangaan, Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng, Banyuwangi, KH. Imam Syuhada sudah tidak asing bagi warga di Banyuwangi selatan. Selama hidup, kiai ini cukup berpengaruh di daerahnya.



KH. Imam Syuhada lahir di Dusun Kaliputih, Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng pada 10 Februari 1935. Menikah dengan Umi Mahtum Khusna, termasuk dzuriyah waliyullah KH. Ahmad Kholil Cangaan dan dikaruniai lima orang anak.



Semasa muda, Kiai Syuhada banyak belajar di sejumlah pondok pesantren, seperti di Pondok Pesantren KH Mohammad Yasin, lalu di Pondok Pesantren Pesantren Al Khoziny Sidoarjo asuhan KH Abbas bin Khozin, dan terakhir di Pondok Pesantren Lasem asuhah KH Ali Maksum sekitar tahun 1957.



Saat pulang dari pesantren, Kiai Syuhada muda oleh ayahnya KH Abdul Fatah diminta untuk mengajar anak-anak di sekitar Dusun Cangaan, Desa Genteng Wetan. “Kiai Syuhada mengajar atas perintah ayahnya,” cetus pengasuh Pondok Pesantren Tamrinatul Wildan, sekaligus putra KH Imam Syuhada, Gus Ainurrofiq.



Awal mengajar, Kiai Syuhada muda hanya mengajar membaca Alquran dan tata cara salat yang benar. Selanjutnya, para muridnya diajari sorogan kitab kuning. “Murid Kiai Syuhada itu mulanya hanya delapan orang, tapi  lama-lama juga banyak,” katanya.



Sejumlah santri perdana Kiai Syuhada, menyarankan untuk memberi nama kelompok belajarnya tersebut. Atas dukungan warga dan para santri, akhirnya tempat belajar itu diberi nama Jam’iah Tamrinatul Wildan. “Awalnya bukan pondok pesantren,” jelasnya.



Nama Tamrinatul Wildan, dipilih karena memiliki makna tempat latihanya anak-anak. Denga nama itu, diharapkan bisa melatih anak-anak menjadi santri yang alim dan mengerti agama. “Ada santri pernah membuat plang dengan nama Pondok Pesantren Tamrinatul Wildan dan dipasang disekitar Jalan Cangaan, oleh Kiai Syuhada dimarahi,” terangnya.



Kiai Syuhada beranggapan kalau tempat belajar yang diasuh itu diridoi Allah, pasti yang memiliki niat mengaji akan tahu tempatnya. “Yai Syuhada tidak mau ada plang pesantren di pinggir jalan,” ucap Gus Rofiq.



Semakin hari, santri Kiai Syuhada terus bertambah. Gudang tempat penyimpanan gabah, dijadikan tempat mengaji para santri. Dan itu, membuat santri terus berdatangan dari berbagai daerah. “Saat itu ada sekitar 500 santri,” terangnya.



Baru pada 1987, Robithoh Ma’had Islamiyah (RMI) Cabang Banyuwangi meminta pada Kiai Syuhada untuk mengganti Jam’iyah Tamrinatul Wildan dengan Pondok Pesantren Tamrinatul Wildan.  “Kiai Syuhada minta pendapat pengurus dan dewan guru,” terangnya.



Atas kesepakatan dengan para pengurus dan dewan guru di tempat belajar agama itu, akhirnya disepakati Jam’iyah Tamrinatul Wildan diganti Pondok Pesantren Tamrinatul Wildan. “KH Imam Syuhada sebagai pengasuh pertamanya,” cetusnya.



Kiai Syuhada dikenal kiai yang tegas, terutama saat mengajar para santrinya. Tapi, juga sosok kiai yang baik hati dan rendah diri. Ketika mengajar para santri, sangat serius. Kiai Syuhada wafat pada 29 September 2010 dan dimakamkan di pemakaman keluarga Pondok Pesantren Tamrinatul Wildan, Dusun Cangaan, Desa Genteng Wetan. (mg5/abi)


Editor : Ali Sodiqin
#pesantren #penyebar islam