Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kitab Sullam Taufiq; Tangga untuk Memperoleh Pertolongan

Ali Sodiqin • Senin, 4 April 2022 | 18:00 WIB
kitab-sullam-taufiq-tangga-untuk-memperoleh-pertolongan
kitab-sullam-taufiq-tangga-untuk-memperoleh-pertolongan

BANYUWANGI - Salah satu kitab yang menjadi bahan kajian selama bulan Ramadan bagi para santri adalah kitab Sullamu At-Taufiq Ila Mahabbatillah ’Ala At-Tahqiq.


Jika diartikan ”sullam” adalah tangga, lafaz taufiq bermakna pertolongan. Sementara mahabbah bermakna cinta, sementara ’ala at-tahqiq bermakna haqqon/yaqinan atau secara meyakinkan.


Jadi, jika diterjemahkan judul kitab ini dapat diartikan tangga (untuk memperoleh) pertolongan (Allah) menuju cinta Allah secara pasti/meyakinkan. ”Jadi makna dari kitab ini seakan-akan pengarang kitab ini berharap, siapa pun yang mengamalkan kandungan kitab ini dengan baik, maka amal salehnya itu akan mengantarkannya pada cinta Allah tanpa keraguan lagi,” ungkap Kiai Sunandi.


Pengarang kitab ini bernama Abdullah Ba’alawi atau lebih singkat lagi Ba’alawi. Nama Ba’alawi adalah klan yang terkenal di Hadramaut sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW. Biasanya, mereka disebut dengan gelar ”habib” atau ”sayyid”. Nama lengkap beliau adalah Abdullah bin Husain bin Thohir Ba’alawi At-Tarimi Al-Hadhromi. ”Menurut Sibthu Al-Jilani penulisan kitab Sullam At-Taufiq ini rampung pada awal Rajab tahun 1241 H,” jelas Pengasuh Pondok Pesantren Al-Kalam, Desa Badean ini.


Ba’alawi menulis kitab Sullam At-Taufiq dalam bentuk ”mukhtashor”. Isinya mencakup pembahasan akidah ringkas dan hukum-hukum secara singkat. Kitab ini cocok untuk orang yang ingin belajar agama tapi punya banyak kesibukan. Di samping pembahasan akidah dan hukum, Ba’alawi juga menuliskan topik tentang tazkiyatun nufus atau pembersihan jiwa.


Topik ini terkadang disebut orang dengan ilmu takhliyah dan tahliyah. Arti takhliyah adalah meninggalkan, sementara arti tahliyah adalah menghiasi. Yang dimaksud dengan dua istilah ini adalah at-takholli ’an al-aushof adz-dzamimah (meninggalkan sifat-sifat tercela) dan at-tahalli bi al-aushof al-hamidah (menghiasai diri dengan sifat-sifat terpuji).


Bab-bab dalam kitab Sullam At-Taufiq adalah ushuluddin, taharah, salat, zakat, puasa, haji, muamalat, tazkiyatun nafsi, dan bayanul ma’ashi. Jadi, sebagaimana kitab Safinatu An-Najah, kitab Sullam At-Taufiq ini bukanlah kitab fikih murni. Melainkan, kitab yang mengandung pembahasan akidah, hukum, dan pembersihan jiwa.


Kendati demikian, isinya hanya dibatasi ilmu-ilmu yang dihukumi fardu ain yang wajib dipelajari setiap mukalaf. ”Bisa dikatakan, kitab ini adalah kitab mentoring untuk kaum muslim awam. Ilmu yang dikandung kitab ini diperkirakan sudah cukup membentuk pribadi muslim saleh yang sanggup menjalankan kewajiban-kewajiban utama dalam agama,” tandas Kiai Sunandi. 


Editor : Ali Sodiqin
#ngaji