BANYUWANGI – Memasuki bulan Ramadan, seluruh umat muslim di dunia beramai-ramai meningkatkan ibadah. Begitu pun para santri. Mereka juga punya tradisi mengaji kitab kuning.
Berbagai cara pun dilakukan umat muslim untuk meningkatkan ibadah di bulan Ramadan. Dari salat wajib, salat sunah, mengaji sampai iktikaf di masjid. Begitu pun yang dilakukan para santri salafiah di Pondok Pesantren Al-Kalam, Desa Badean, Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi.
Mereka memilih untuk mengaji kitab kuning dengan cara kilatan. Yakni, pelaksanaan pengajian kitab kuning dikebut selama bulan Ramadan. ”Untuk mengisi waktu sambil menunggu berbuka puasa, puluhan santri memang kami ajarkan untuk mengaji kitab kuning,” ungkap Pengasuh Pondok Pesantren Al-Kalam Kiai Sunandi.
Berbeda dengan bulan biasanya, pada bulan Ramadan ini, proses pembelajaran kitab kuning diajarkan lebih cepat dan dapat diikuti oleh seluruh tingkatan santri. Tidak hanya para santri, selama bulan Ramadan pengajian kitab kuning juga diikuti oleh masyarakat umum. ”Belajar kitab kuning merupakan mata pelajaran tambahan bagi para santri. Namun, pada bulan Ramadan biasanya mereka diberikan pelajaran secara full satu bulan untuk membaca kitab kuning,” jelas Sunandi.
Membaca kitab kuning, kata Kiai Sunandi juga berfungsi melatih para santri untuk dapat mengerti makna dari kitab tersebut. ”Belajar kitab kuning bukan hal yang mudah, karena kitab tersebut berhuruf gundul dan hanya bisa dimaknai oleh yang sudah paham tentang gramatika bahasa Arab,” terang lelaki yang juga Katib Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi ini.
Untuk bisa membaca kitab kuning berikut arti harfiahnya, kata Kiai Sunandi, maka para santri harus membaca kalimat per kalimat secara menyeluruh dan dibutuhkan waktu lama. Para santri harus paham lebih dulu gramatika bahasa Arab.
Salah satu santri, Fahad, 14, mengaku sangat senang dengan pelajaran membaca kitab kuning. Karena selain mengisi kekosongan menunggu waktu berbuka puasa, bisa menambah ilmu keagamaan di bulan penuh berkah. ”Saya mengisi kegiatan di bulan Ramadan dengan ibadah, salah satunya dengan belajar dan mengaji kitab kuning ini. Selain bisa memahami isi kitab, juga dapat menambah ilmu pengetahuan tentang isi kitab yang diajarkan,” pungkas remaja asal Desa Badean, Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi itu.
Editor : Ali Sodiqin