BANYUWANGI - Tidak semua orang paham tentang seluk-beluk benda pusaka. Lain halnya dengan Fakhru Dian Amsyak Sani, 42. Warga Kelurahan Sobo, Kecamatan/Kabupaten Banyuwangi, ini begitu fasih berbicara benda pusaka peninggalan leluhur. Dian mewarisi koleksi benda pusaka dari para leluhurnya.
Siang itu ruang keluarga rumah Dian di Kelurahan Sobo terlihat sepi. Televisi dan peralatan audio visual dimatikan. Satu-satunya yang mengubah suasana adalah aroma asap hio (dupa).
Ruangan berukuran 4 x 4 meter itu menyimpan ratusan benda pusaka. Ada keris, tombak, serta barang antik lainnya. Dian menjelaskan satu per satu koleksi pusakanya. Obrolan meloncat-loncat mulai dari cerita di tahun 2010 saat dia memulai hobi mengoleksi benda pusaka tersebut.
Bapak dua anak itu awalnya hanya memiliki sepasang keris pemberian leluhurnya. Dari situlah, Dian menambah koleksi pusaka dari berbagai penjuru dunia. Terhitung ada 300 benda pusaka yang telah dikoleksi.
Ratusan benda pusaka tersebut ada yang dari Madura, Bali, Bandung, Lombok, hingga Aceh. Namun, kebanyakan keris didominasi dari Banyuwangi. Demi hobinya tersebut, Dian tidak segan-segan mengeluarkan kocek untuk membeli pusaka.
Dian mengaku tidak tahu harus diapakan ratusan pusaka tersebut. Dia masih harus belajar demi bisa menjaga pamor koleksinya tersebut. ”Perlakuan terhadap benda pusaka biasa-biasa saja, cukup dibersihkan dan dirawat. Kalau bulan Sura saja aku bakarkan dupa,” ujar Dian.
Tidak semua benda yang dimiliki dari hasil pemberian orang. Ada juga keris dari hasil penarikan gaib. ”Koleksi saya yang paling istimewa keris Nogo Sosro yang pernah dipegang oleh raja, keris Putri, dan keris Singo Barong,” katanya.
Dian mengakui benda antik lekat dengan mistis. Semuanya tergantung bagaimana orang menyikapinya. ”Bagi saya ini adalah upaya untuk nguri-uri budaya atau melestarikan budaya nenek moyang. Bila ada yang berminat, koleksi benda pusaka akan saya jual,” ujarnya.
Bagi pemula yang berminat menjadi kolektor benda pusaka nusantara harus benar-benar mengenali dan tahu material bahan yang digunakan. Dengan demikian kolektor tidak akan tertipu membeli barang bagus, tapi palsu.
”Ada tips untuk membedakan senjata tajam kuno dan hasil pembuatan modern. Rata-rata senjata tajam kuno yang bagus materialnya ada campuran dari bahan meteorit. Kelihatan jelas pada bagian ukiran atau pamornya. Jangan sampai tertipu membeli senjata tajam kuno imitasi,” pesannya.
Benda pusaka yang mahal biasanya berdasar kisah atau cerita di baliknya. Jika ada bukti otentik, akan semakin mahal dan jadi incaran kolektor. Saat ini, Dian sedang memburu senjata-senjata yang dulu pernah dipergunakan di era kerajaan dan kolonial. Banyak kisah yang melatarbelakangi pembuatan dan penggunaan pusaka.
”Kita bukan bicara sisi mistis. Misalkan bertuah, ada penunggunya, atau sejenisnya. Bukan seperti itu. Kita murni mengoleksi pusaka semata-mata hobi dan ingin nguri-uri budaya. Pusaka itu punya kisah dan sejarah,” ungkapnya. (aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin