LICIN - Taman Gandrung Terakota (TGT) sudah tidak asing di telinga sebagian masyarakat Bumi Blambangan. Taman ini berisi patung penari gandrung di sawah terasering di kaki Gunung Ijen, Banyuwangi.
Sejak diresmikan pada 2018 lalu, TGT yang digagas Sigit Pramono tersebut menjadi salah satu jujugan favorit wisatawan yang berkunjung ke kabupaten the Sunrise of Java. Selain mampu menarik wisatawan, bagi Sigit, taman tersebut merupakan salah satu situs untuk merawat dan meruwat tari gandrung sebagai salah satu identitas budaya Banyuwangi.
Di sisi lain, mungkin tidak sedikit warga yang belum benar-benar mengerti apa itu Taman Gandrung Terakota. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBBI), terakota memiliki dua arti, yang pertama tembikar yang tidak dilapisi glasir, dibuat dari tanah liat yang dibakar sehingga warnanya merah kecokelat-cokelatan (digunakan sebagai benda hias atau pelapis lantai). Sedangkan arti kedua adalah merah kecokelat-cokelatan; merah (batu) bata.
Sesuai namanya, ribuan replika penari gandrung di TGT tersebut terbuat dari tanah liat. Hal ini sekaligus menjadi bukti bahwa tanah liat memiliki banyak manfaat untuk manusia. Bukan hanya untuk bahan bangunan dan perabot rumah tangga, tetapi juga bisa dimanfaatkan untuk beragam keperluan lain, termasuk untuk membuat karya seni bernilai estetika tinggi.
Editor : Ali Sodiqin