GENTENG, Jawa Pos Radar Genteng – Bekerja menjadi buruh membuat batako, pendapatannya pas-pasan. Tapi, mereka tetap melakoni karena sekarang ini cukup sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Setiap biji batako, mereka mendapat upah hanya Rp 400.
Untuk harga batako, saat ini bervariasi. Bila akan diambil sendiri harganya Rp 1.600 per biji. Tapi bila minta diantar, maka harganya Rp 2.000 per biji. “Tapi juga tergantung jauh dekatnya,” ucap salah satu buruh di percetakan batako di Jalan Samiran, Dusun Jalen, Desa Setail, Kecamatan Genteng, Salim, 47.
Salim mengaku sudah tiga tahun menjadi buruh di percetakan batako. Ia menekuni pekerjaan ini mulai pukul 08.00 hingga sore, karena tidak memiliki keterampilan lainnya. “Mencetak tidak ada target, kecuali sedang ada pesanan,” terangnya.
Menurut Salim, dalam sehari mampu mencetak 250 hingga 300 batako. Apabila dalam sehari mendapatkan 300 batako, maka bayaran yang diterima sekitar Rp 120 ribu. “Sesuai dengan tenaga yang saya keluarkan,” jelasnya.
Upah menjadi buruh membuat batako Rp 400 ribu per biji, ternyata masih lebih bagus dibanding buruh membuat paving. Itu seperti yang dijalani Fadli, buruh mencetak paving di Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng. “Dibayar Rp 350 ribu setiap satu paving,” cetus Fadli.
Menurut Fadli, harga paving itu berdasarkan satuan meter, bukan per biji. Harga setiap meter persegi mencapai Rp 40 ribu, itu apabila barang diantar. Kalau paving diambil oleh pembeli, harganya hanya Rp 32 ribu. “Setiap meter persegi itu berisi 27 paving,” ungkapnya.
Saat ini, terang dia, penjualan paving dan batako hanya melayani wilayah Kecamatan Genteng dan sekitarnya. Untuk pengiriman terjauh, wilayah kecamatan Purwoharjo. “Alhamdulilah, pasti ada saja yang beli,” katanya.
Editor : Rahman Bayu Saksono