Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Mengenal Pelatih Muaythai Shelly Cahyani; Hamil Tua pun masih Berlatih

Ali Sodiqin • Senin, 3 Januari 2022 | 21:30 WIB
mengenal-pelatih-muaythai-shelly-cahyani-hamil-tua-pun-masih-berlatih
mengenal-pelatih-muaythai-shelly-cahyani-hamil-tua-pun-masih-berlatih


BANYUWANGI – Sosok Shelly Cahyani Dherisca dikenal sebagai seorang pelatih sekaligus atlet muaythai Banyuwangi yang cukup andal. Sebelum menekuni muaythai, Shelly sudah malang melintang di olahraga bela diri. Perempuan kelahiran 1 Januari 1996 tersebut sudah menorehkan banyak prestasi.


Badan memar akibat kena pukulan sudah menjadi hal biasa bagi Shelly Cahyani Dherisca, 25. Mantan atlet wushu Banyuwangi yang pernah menyumbangkan medali emas di ajang Porprov 2015 itu, hingga kini masih eksis melakoni aktivitasnya sebagai petarung di atas ring.


Ketika para atlet seusianya memilih istirahat atau menekuni pekerjaan lain, wanita yang akrab disapa Shelly itu justru memilih tetap menekuni olahraga pertarungan. Tak hanya menjadi pelatih bela diri muaythai, Shelly masih sering turun di kejuaraan-kejuaraan untuk memperebutkan medali. ”Tidak menyangka sebelumnya kalau hobi akhirnya menjadi pekerjaan dan rutinitas sampai sekarang. Apalagi bisa menghasilkan cuan (uang),” ujar Shelly ketika ditemui di Viper Camp, tempatnya melatih di kawasan Villa Bukit Mas, Giri, Banyuwangi.



Perjalanan ibu dua anak menekuni bela diri pertarungan rupanya cukup panjang. Berawal dari pencak silat ketika dirinya masih duduk di sekolah dasar, lalu berlanjut ke taekwondo. Shelly mulai fokus untuk turun di kejuaraan ketika menekuni karate saat duduk di bangku SMA. Bahkan, dia pernah mewakili Banyuwangi di ajang Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) Jawa Timur dan berhasil membawa pulang medali perunggu.



Dua tahun berselang, saat Banyuwangi menjadi tuan rumah Porprov 2015, bakat Shelly terendus pengurus cabor wushu. Dia pun turun di multievent olahraga terbesar di Jatim. Tak sia-sia, Shelly mempersembahkan medali emas untuk Banyuwangi. Sayangnya, di tahun yang sama –ketika Jawa Timur tengah mempersiapkan diri untuk turun di Pra-PON— nama Shelly tak muncul.



Karena tak masuk skuad Puslatda Wushu Jatim, salah seorang pelatih wushu dari Pengprov Kalimantan Barat menawari Shelly untuk memperkuat kontingen Kalbar. Shelly menerima tawaran tersebut. Dia pun berpindah domisili ke Kalbar. Saat ajang Pra-PON akan berlangsung, masalah muncul. Pengprov Wushu Jatim yang bertemu dengan Kalbar mengklaim Shelly sebagai atlet mereka.



Perpindahan Shelly ke Kalbar dianggap tak sesuai prosedur. ”Akhirnya tidak jadi bertanding. Calon lawan tahu kalau saya dapat medali emas di Poprov Jatim. Saya kena blacklist. Selama 5 tahun tidak boleh turun di event Wushu apa pun,” kenang atlet yang kini tinggal di Gang Kenangan V, Kelurahan Singonegaran, Banyuwangi itu.



Setelah peristiwa itu, Shelly tak mau bergeming. Hobi dan kesenangannya bertarung di atas ring kembali diteruskan. Sebagai atlet peraih emas di Porprov, tak sulit mencari panggung. Bagaikan pemburu dolar, Shelly kerap berpindah klub antar kabupaten hanya untuk bisa turun di event-event pertarungan. Baik itu kejuaraan muaythai, kickboxing, karate, hingga MMA. Istri Ahmad Hidayat itu mengaku mendapat banyak pemasukan dari aktivitasnya sebagai atlet.



Shelly pernah dibayar Rp 35 juta untuk turun di salah satu event bela diri mewakili salah satu kabupaten. Dia juga pernah mendapat honor Rp 8 juta per bulan untuk menjadi sparring patner tim PON di Jawa Barat. ”Atlet yang sudah punya nama tawarannya lumayan. Mungkin terlihat seperti mencari uang, tapi menurut saya uang itu bonus. Yang penting saya bisa naik ke atas ring,” ucap bungsu dari enam bersaudara itu.



Kini setelah memiliki dua buah hati, Shelly masih punya hasrat untuk tetap bertanding. Apalagi suaminya yang juga mantan atlet wushu dan pelatih muaythai terus mendukungnya. Ketika ada event yang akan diikuti, suaminya menjadi sparring partner. Begitu juga sebaliknya, ketika suaminya akan turun, dia yang menjadi lawan tanding.



Wanita yang pernah menjadi karyawan salah satu hotel berbintang di Banyuwangi itu kemungkinan akan tetap melanjutkan hobinya selama fisiknya masih mampu. Cedera dan dampak lain dari pertarungan sudah menjadi hal yang biasa, bukan menjadi penghalang hobinya. Bahkan, saat tengah hamil tua, Shelly terlihat masih berlatih dengan keras.



Terakhir, Shelly turun di event terbuka muaythai profesional di Bali. Sayangnya, kala itu dia harus menyerah dari petarung asal Australia, Alicia Mckena. ”Di dunia Mix Martial Art (MMA), ada kelas veteran. Usianya 45 tahun ke atas, kalau saya masih mampu. Saya akan turun terus. Sudah menjadi hobi, apalagi menghasilkan, kenapa harus berhenti,” tutupnya.


Editor : Ali Sodiqin
#koni #olahraga #muaythai