SEMPU – Sepintas mirip sawo. Kulitnya sama-sama berwarna cokelat. Daging buahnya juga sama-sama berwarna kuning kecokelatan. Namun, yang membedakan adalah tekstur daging buah yang satu ini terkesan lebih kenyal. Bijinya juga lebih besar dibandingkan sawo. Warga Banyuwangi menyebut buah ini dengan ”kepel”.
Buah kepel. Mungkin Anda akan mengernyitkan dahi ketika mendengar nama buah tersebut. Maklum, tak banyak warga yang membudidayakan pohon buah yang satu ini. Selain itu, di pasaran pun sangat sulit dijumpai pedagang yang menjajakan buah dengan nama latin Stelechocarpus burahol tersebut.
Sejumlah sumber menyebut, buah kepel merupakan flora identitas Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Namun demikian, pohon kepel juga bisa tumbuh subur hingga ketinggian belasan meter di Banyuwangi. Termasuk di kawasan kaki Gunung Raung.
Penelusuran wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi, sejumlah pohon kepel tumbuh di Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu. Selain di kawasan ”hutan” atau perkebunan setempat, pohon kepel juga tumbuh dan di pekarangan warga.
Buah kepel mulai berbuah sejak Agustus hingga Februari. Wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi sempat mencicipi buah tersebut. Rasanya manis dan beraroma harum.
Belakangan diketahui, dahulu, buah kepel digemari kalangan putri keraton di Jawa. Buah ini dipercaya menyebabkan keringat beraroma harum atau semacam deodoran dan membuat air seni tidak terlalu berbau.
Selain itu, buah kepel juga dipercaya berkhasiat menurunkan kadar kolesterol jahat dalam tubuh. Buah kepel juga dipercaya dapat berfungsi sebagai antioksidan, mengatasi asam urat dan masalah ginjal, serta menjaga fungsi hati.
Namun, di Banyuwangi jenis buah yang satu ini cenderung sulit didapat. Selain karena tidak terlalu banyak warga yang menanam pohon kepel, tidak sedikit pengepul yang memborong buah kepel kepada petani untuk dijual ke luar daerah.
Salah satu warga Dusun Panjen, Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, Sarmijan memiliki dua pohon kepel di halaman rumahnya. Dia mengaku dua pohon tersebut rutin berbuah setiap tahun.
Meski rutin berbuah, Sarmijan mengaku tidak pernah menjual buah kepel ke pasaran. Sebab, sebelum tiba musim panen, sudah ada warga yang nebas alias membeli seluruh buah tersebut. ”Sudah ditebas semua buahnya, Pak. Sudah di kasih uang muka juga sama orangnya. Katanya buah kepel ini dikirim ke Bali,” ujarnya.
Menurut Sarmijan, dari dua pohon miliknya, setiap panen bisa menghasilkan antara 80 sampai 150 kilogram (kg) buah kepel. Dia menuturkan, di pasaran, buah kepel dijual dengan harga bervariasi, yakni Rp 30 ribu sampai Rp 60 ribu per kg, tergantung kualitas buah. ”Harga buah kepel akan berangsur turun saat memasuki panen raya,” kata dia.
Sarmijan mengaku tidak mengetahui secara pasti umur dua pohon kepel di halaman rumahnya tersebut. Dia menyebut, berdasar cerita di kalangan keluarganya, pohon itu sudah ada sejak sebelum orang tuanya lahir. ”Bapak kelahiran tahun 1960. Bapak bilang, sejak dia kecil pohon ini sudah ada dan sudah besar,” jelasnya.
Sementara itu, meski kini cenderung langka, sebagian warga mengaku mengetahui bentuk dan ciri-ciri buah kepel. Namun begitu, tidak sedikit yang menyatakan hingga kini belum pernah mencicipi buah tersebut.
Selain itu, lantaran cenderung sulit didapat, tidak sedikit sekolah yang menjadikan suatu tempat yang terdapat pohon kepel sebagai lokasi studi. Salah satunya SDN 4 Penganjuran.
Sebelum pandemi melanda, para siswa kelas 1 sekolah tersebut sempat diajak melakukan studi ke kawasan Kecamatan Kalibaru. Lokasi yang dikunjungi adalah salah satu agrowisata yang di dalamnya terdapat pohon kepel. Bahkan, kala itu pohon kepel tersebut tengah berbuah dengan sangat lebat hingga menjadi salah satu spot foto favorit siswa.
Editor : Ali Sodiqin