Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Berbekal Pengalaman Tanam, Pranoto Sukses Bertani Jambu Kristal

Ali Sodiqin • Kamis, 28 Oktober 2021 | 14:00 WIB
berbekal-pengalaman-tanam-pranoto-sukses-bertani-jambu-kristal
berbekal-pengalaman-tanam-pranoto-sukses-bertani-jambu-kristal


SRONO – Pranoto adalah petani jambu kristal yang berasal dari Dusun Sumberwangi, Desa Wonosobo, Kecamatan Srono. Dalam sekali panen, dia mampu mencukupi kebutuhan keluarga selama satu bulan. Berkat jambu kristal pula Pranoto bisa membiayai pendidikan ketiga anaknya.



Menjadi seorang petani sejak tahun 1990, Pranoto sudah kenyang akan pengalaman. Bermula dari menanam palawija seperti jagung, cabai, dan kacang tanah, dia kemudian berinovasi menanam jambu kristal.



Pada tahun 2013 Pranoto mulai menanam jambu kristal. Sebanyak 190 pohon dia tanam pada lahan sawahnya seluas 4.000 meter persegi. Pranoto merupakan petani pertama di desanya yang menanam jambu kristal.



Selang beberapa tahun tak sedikit petani yang mengikuti jejaknya. Tidak ada proses belajar khusus yang diterapkan. Pranoto hanya berbekal pengalaman dari tanaman-tanaman sebelumnya. Dia memperhatikan jarak tanam, perawatan tanaman, serta pencegahan hama dan penyakit.



Selama menjadi petani palawija, Pranoto menceritakan keluh kesahnya terkendala dengan musim yang tak menentu dan harga yang relatif rendah. Berbeda dengan jambu kristal, sekali tanam kemudian menunggu selama delapan bulan, dia sudah bisa merasakan hasilnya sedikit demi sedikit. Alasan utama dia beralih dari petani palawija menjadi petani jambu kristal karena penghasilan yang dia dapat tidak mampu mencukupi kebutuhan keluarga.



”Kalau palawija tidak bisa dipastikan. Saat ini kondisinya baik, untuk yang akan datang belum tentu. Kalau menanam buah pasti banyak pasar yang menerima. Selain itu saya punya anak tiga, kebutuhan keluarga semakin banyak sedangkan penghasilan minim. Maka, saya putuskan untuk beralih menanam jambu kristal,” ujar pria berusia 55 tahun itu.



Ketika pertama kali memutuskan menanam jambu kristal di lahan sawahnya, banyak cibiran yang dia dapatkan. Bahkan, dia sempat dianggap ”gila”. Namun, Pranoto tidak menggubris cibiran tersebut.  Dia tetap yakin bahwa prospek tanaman buah-buahan ke depan akan semakin berkembang pesat. ”Dulu banyak yang ngejek. Wong edan, sawah kok ditanduri buah. Begitu kalimat yang sering saya dengarkan, namun sekarang justru banyak yang ikut menanam,” katanya.



Menurut Pranoto, budi daya jambu kristal cukup mudah. Jarak tanam antar pohon 3 x 3 meter. Untuk perawatan dilakukan pemupukan selama 3–4 bulan sekali. Sedangkan penyiraman dilakukan selama seminggu sekali jika saat musim kemarau. Treatment lainnya adalah pemangkasan batang untuk merangsang pertumbuhan tunas baru dan mengatur ketinggian.



Yang tak kalah penting adalah penanggulangan hama dan penyakit dengan pembungkusan plastik pada bakal buah. Yakni dengan pemasangan perangkap dan penyemprotan pestisida. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga kualitas buah.



Perawatan tidak memakan biaya yang banyak. Dalam sekali pemupukan hanya menghabiskan sekitar Rp 800 ribu sampai Rp 1 juta. Itu sudah termasuk ongkos pekerja. Pembuatan perangkap juga sangat murah meriah, hanya membutuhkan botol plastik dioles dengan lem tikus, lalu ditempel kapas yang sudah diberi cairan petrogenol. ”Hama yang sering menyerang adalah lalat buah. Jika bakal buah sudah sebesar kelereng, harus segera dibungkus untuk menghindari serangan lalat buah,” jelas Pranoto.



Saat ini terdapat 400 pohon jambu kristal yang ada di lahan sawah Pranoto. Setiap pagi dan sore hari dia rutin pergi ke sawah. Musim panen jambu kristal tidak serempak melainkan berangsur selama 3–4 bulan. Seminggu sekali Pranoto dapat melakukan proses panen. Jumlah hasil panen mencapai 1,7–2 ton. Satu pohon mampu menghasilkan 4 sampai 10 kilogram buah jambu kristal.



Ketika harga sedang bagus, yaitu Rp 6 ribu hingga Rp 7 ribu per kilogram, Pranoto dapat meraup keuntungan sebesar Rp 10 juta per satu kali panen. Sedangkan saat panen raya, harga terendah yaitu Rp 4 ribu per kilogram. ”Dalam satu kali panen cukup untuk kebutuhan keluarga selama satu bulan, sisanya ditabung,” ujarnya.



Pranoto mempunyai 2 orang anak perempuan dan 1 orang anak laki-laki. Dari hasil bertani jambu kristal dia dapat membiayai pendidikan anaknya. ”Alhamdulillah, saya bisa membiayai pendidikan anak-anak saya. Untuk anak pertama lulusan SMA sudah menikah, kalau yang kedua sampai sarjana. Tinggal yang terakhir masih kelas 3 SMA. Kalau masih bertani palawija mungkin lahan saya sudah terjual,” paparnya.



Ilmi Pranita, anak kedua Pranoto mengucapkan rasa syukur dan terima kasih kepada ayahnya. Ilmi tidak pernah merasa malu dengan pekerjaan ayahnya sebagai petani. ”Selama menempuh pendidikan terutama di perguruan tinggi, Alhamdulillah, semua biaya dari hasil panen jambu kristal yang ditanam oleh ayah. Semoga ayah selalu diberi kesehatan,” ujar Ilmi. (mg2)


Editor : Ali Sodiqin
#jambu kristal #pertanian