Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Memasukkan Jenazah ke Lubang seperti Melempar Pohon Pisang

Rahman Bayu Saksono • Selasa, 26 Oktober 2021 | 16:45 WIB
memasukkan-jenazah-ke-lubang-seperti-melempar-pohon-pisang
memasukkan-jenazah-ke-lubang-seperti-melempar-pohon-pisang

CLURING, Jawa Pos Radar Genteng - Semalaman mayat-mayat anggota GP Ansor Muncar yang tewas dibantai PKI, dibiarkan menumpuk di kandang dokar milik Bukhari, di Dusun Cemetuk, Desa/Kecamatan Cluring. Dengan tubuh penuh luka dan darah segar bercucuran, jenazah para kader muda NU itu juga tidak dirawat.


Sekitar pukul 09.00, sehari setelah pembantaian itu terjadi pada 18 Oktober 1965, proses penguburan mulai dilakukan. Sebelumnya, sejumlah warga membuat tiga lubang di lahan milik Wonokaryo, ayah Matulus, kepala Desa (Kades) Cluring. “Saat itu tidak ada lubang di monumen Lubang Buaya Pancasila Jaya,” kata Ponirah, 67, warga Dusun Cemetuk, Desa/Kecamatan Cluring.


Setelah pembuatan tiga lubang selesai, mayat-mayat anggota Ansor itu mulai dikubur. Dalam penguburan, dilakukan tidak lazim. Puluhan jenazah tanpa dibersihkan atau dimandikan. Dengan tubuh yang masih penuh luka dan darah, oleh PKI dimasukkan ke tiga lubang itu. “Diambil dari tumpukan di kandang dokar, mayat-mayat itu dimasukkan ke tiga lubang itu,” ungkapnya.


Sambil menahan napas, Ponirah mengaku melihat langsung saat orang-orang PKI memasukkan jenazah anggota Ansor Muncar ke lubang yang telah dibuat. Mayat yang sebagian sudah kaku, itu dilempar dari atas. “Cara memasukkan mayat ke lubang, seperti melempar pohon pisang,” cetusnya.


Tiga lubang yang dibuat menanam anggota GP Ansor Muncar, itu ukurannya tidak terlalu besar. Dua lubang berukuran agak kecil, sedang satu lubang agak besar. “Mayatnya dilempar dan ditumpuk di tiga lubang itu,” ungkapnya.


Dua lubang yang kecil, oleh PKI dibuat mengubur 20 mayat. Jadi, setiap lubang ada 10 jenazah. Sedang lubang yang ukurannya lebih besar, dibuat mengubur 42 mayat. “Jadi 62 anggota Ansor Muncar itu dikubur di tiga lubang itu,” cetusnya.


Setelah mayat-mayat dimasukkan ke lubang, PKI mencoba menghilangkan jejak. Ketiga lubang itu diuruk dengan tanah, dan di atasnya banyak ditanami pohon, seperti pohon pisang dan pohon lainnya. “Setelah itu orang-orang bubar, suasana di Cemetuk juga sepi,” katanya seraya menyebut rumah orang tuanya hanya berjarak sekitar 30 meter dari lubang buaya.


Meski lokasi lubang buaya itu tidak jauh dari rumahnya, Ponirah mengaku tidak mengenali orang-orang yang diduga PKI itu, mereka banyak dari luar daerah. Saat kejadian, warga Dusun Cemetuk, Desa Cluring banyak yang sembunyi. “Yang membunuh itu bukan orang Cemetuk, saya tidak tahu dari mana,” ungkapnya.


Setelah kasus pembantaian dan penguburan, banyak warga Cemetuk yang menghilang. Mereka sembunyi dan mengungsi dari kejaran petugas keamanan. Saat itu, bila ada orang laki-laki berseliweran, bisa ditangkap. “Tidak ada laki-laki, di Cemetuk hanya perempuan saja,” cetusnya.


Tidak sedikit warga Cemetuk, ditangkap oleh petugas keamanan. Mangun Lehar, salah satu tokoh PKI yang cukup popular, ditangkap bersama anaknya. “Mangun Lehar ini orangnya sakti, tiga kali ditangkap dan dibawa ke Banyuwangi, tiba-tiba sudah ada di rumahnya,” jelasnya seraya menyebut Mangun Lehar mati setelah dipukul dengan janur kuning.


Setelah menyisir anggota PKI di Dusun Cemetuk, Desa Cluring, petugas keamanan mencari tempat pemakaman jenazah Ansor Muncar. Lokasi itu, akhirnya ditemukan pada hari kesembilan penguburan. “Semua jenazah diambil oleh keluarganya setelah terkubur sembilan hari,” cetusnya.


Versi lain, jenazah anggota Ansor Muncar yang dikubur di tiga lubang buaya itu, diambil setelah tiga hari dikubur. Mayat-mayat yang kondisinya sudah membusuk, itu diambil oleh petugas keamanan bersama keluarganya. “Mayat-mayat itu dikubur selama tiga hari, terus diambil keluarganya dan dipindah ke pemakaman di Muncar,” terang Nuryadi, 51, mantan Sekretaris Desa (Sekdes) Cluring.(habis)

Editor : Rahman Bayu Saksono
#cluring #banyuwangi