GAMBIRAN, Jawa Pos Radar Genteng - Suasana di Desa Karangasem atau Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran, pada 18 Oktober 2021, sekitar pukul 10.00, benar-benar kacau. Anggota Gerakan Pemuda (GP) Ansor asal Muncar yang telah dihadang oleh anggota PKI di Dusun Mantekan (kini Dusun Sidorejo), tak mampu melayani serangan PKI.
Para kader muda NU itu, lari ke arah timur dengan melalui jalanan dan persawahan untuk menyelamatkan diri. Tidak sedikit dari mereka, tertangkap dan langsung dibantai hingga tewas. “Anak-anak Ansor ada yang menyelamatkan diri dengan masuk ke sumur, oleh PKI dilempari batu hingga tewas,” cetus Nuryadi, 51, mantan Sekretaris Desa (Sekdes) Desa Cluring.
Nuryadi yang pernah menulis kronologi pembantaian Ansor asal Muncar oleh PKI di Desa Karangasem hingga Dusun Cemetuk, Desa Cluring, mengaku pernah menemui para saksi dan pelaku saat menjadi sekdes tahun 1995-2001. “Banyak yang mati di jalan dan di persawahan,” terangnya.
Mayat anggota Ansor asal Muncar yang jenazahnya berserakan itu, selanjutnya dibawa ke padepokan perguruan milik Mangun Lehar di Dusun Cemetuk, Desa Cluring. “Yang terbunuh, semua dikumpulkan di rumahnya Mangun Lehar,” katanya pada Jawa Pos Radar Genteng.
Salah satu saksi dan pelaku, Masrifah, 80, yang saat itu tinggal di Desa Yosomulyo dan menjadi ketua Muslimat NU, Kecamatan Gambiran menyebut, pada 18 Oktober 1965 Ansor dan PKI itu perang. Anggota Ansor yang dihadang PKI di Desa Karangasem, lari ke arah timur jurusan Dusun Cemetuk, Desa Cluring. “Saya diajak oleh teman-teman Ansor,” terangnya.
Dalam perang itu, anggota Ansor banyak yang terbunuh. Yang selamat, lari ke timur hingga masuk ke Dusun Cemetuk, Desa Cluring. Di daerah ini, mereka sudah kelelahan. “Di tempat itu ada plang (papan nama) NU, mereka (Ansor) mampir dan disambut dengan baik,”ungkap Masrifah yang kini tinggal di Dusun Pemukiman AKABRI, Desa Pandanwangi, Kecamatan Tempeh, Kabupaten Lumajang.
Di rumah yang ada papan nama NU itu, anggota Ansor sempat diberi makan. Tanpa ada rasa curiga, mereka juga langsung memakannya. Tidak lama, sakit perut dan mual. Ternyata makanannya itu oleh PKI telah ditaburi racun. “Saat keracunan itu dibantai dan banyak yang mati, rumah itu ternyata miliknya PKI,” jelasnya.
Dari anggota Ansor yang mampir di rumah Dusun Cemetuk itu, hanya dua orang yang berhasil kabur. Keduanya lari ke arah barat hingga sampai ke Dusun Ngampel/Ampelsari (kini Dusun Sidotentrem), Desa Yosomulyo. Biar tidak dikenali, pakaian Ansor yang dikenakan kedua anak muda Ansor itu dibuang. “Mereka kita amankan dan dibawa ke rumahnya Kiai Tohir di Ngampel,” cetusnya.
Sururin Nafiah, ketua Fatayat NU Ranting Desa Yosomulyo yang banyak mendapat cerita dari orang tuanya yang saat itu menjadi anggota Ansor Desa Yosomulyo, menyebut saat anggota Ansor lari ke timur dan sampai di Dusun Cemetuk, Desa Cluring, ada bendera Fatayat dan Ansor. “Bendera Fatayat dan Ansor dikibarkan,” ujarnya.
Karena ada simbul NU itu, anggota Ansor asal Muncar langsung mampir. Di tempat itu, mereka diberi makanan. Ternyata, makanan yang disuguhkan sudah diberi racun. “Orang-orang PKI sengaja menjebak, memasang bendera Fatayat dan Ansor, saat masuk diberi makanan yang sudah diberi racun,” katanya.
Saat racun mulai bereaksi dan anggota Ansor kesakitan, mereka langsung dibantai oleh orang-orang PKI. Hampir semua anggota Ansor yang datang ke rumah itu, tewas dengan tubuh yang mengenaskan. “Orang-orang itu (Ansor) dikumpulkan di perguruan milik Mangun Lehar, PKI membantai seperti dibiorama, pakai parang, kapak, clurit, dan senjata lainnya,” cetus Nuryadi, 51, mantan Sekdes Cluring.
Editor : Rahman Bayu Saksono