Aminoto, 24, mengenal seni tari jaranan dari lingkungannya di Dusun Seloreo, Desa Kaligondo, Kecamatan Genteng. Di kampungnya itu, dikenal daerah seni tari. Warganya, banyak yang menekuni seni tari jaranan hingga menjadi mata pencarian utama.
Pemuda berbadan gempal itu, sejak kecil menghabiskan waktunya hanya untuk menari jaranan bersama teman dan kelompoknya. “Sejak SD hanya njaran, dan hanya itu keahlian saya,” katanya kepada Jawa Pos Radar Genteng, kemarin (27/9).
Bagi Aminoto, kesenian jaranan tidak hanya sebagai hiburan saja. Tapi, ada panggilan untuk njaran, berarti dapur rumahnya masih tetap mengepul. Karena selama ini, ekonomi keluarganya hanya dari jaranan itu. “Saya tidak punya keahlian lain,” ujar pria yang hanga lulusan SMP itu.
Sebelum pandemi, dalam sebulan kelompok tarinya bisa mendapat lima sampai 10 kali panggilan dari berbagai tempat. Dengan banyaknya panggilan untuk tampil itu, Aminoto mengaku dalam sebulan bisa mendapat upah sebesar Rp 3 juta. “Dulu ramai panggilan, bisa buat makan anak dan istri,” kenang bapak satu anak itu.
Sejak ada pandemi setahun lalu, keadaan itu terbalik. Kelompok jaranannya tidak ada tanggapan, dan itu berarti tidak ada pemasukan bagi keluarganya. Dan itu, memaksanya untuk mencari pekerjaan lain. “Kita kerja seadanya, apa saja mau,” ujarnya.
Untuk menafkahi satu anak dan istrinya, Aminoto bekerja di sawah sebagai buruh pengangkut gabah saat panen. Memanfaatkan badannya yang gempal, ia memanggul satu karung gabah dengan jarak yang kadang agak jauh. “Pekerjaan ini hanya menuntut kekuatan badan saja,” cetusnya.
Di masa pandemi tidak bisa menyalahkan siapapun, meski kelompok jaranannya sepi tanggapan. Untungnya, saat ini level PPKM sudah mulai menurun dan warga ada yang mengundang untuk pentas. “Beberapa hari ini sudah mau ada yang nanggap jaranan,” ujarnya.
Meski belum seramai sebelum ada pandemi, Aminoto dan kelompok jaranannya sudah bersyukur. Sebelum ada tanggapan, kelompoknya sempat mengamen dari satu lokasi ke lokasi lainnya. “Mengamen hasilnya gak banyak, tapi lumayan dari pada tidak ada sama sekali,” terangnya.
Aminoto bersama kelompok jaranannya terus berharap kondisi ekonomi kembali seperti semula. Sehingga, banyak warga yang naggap jaranan. “Saya sejak kecil sudah main jaranan, dan sekarang menjadi penghasilan utama,” ungkapnya.
Editor : Rahman Bayu Saksono