PURWOHARJO – Dam 1 Sungai Setail yang lokasinya menjadi pembatas Dusun Tempurejo, Desa Sidorejo, Kecamatan Purwoharjo dengan Dusun Ringin Pitu, Desa Plampangrejo, Kecamatan Cluring, dikenal angker. Banyak kejadian aneh di sekitar bendungan itu.
Meninggalnya Purwanto, 54, asal Kelurahan/Kecamatan Pesantren, Kota Kediri pada Senin (13/9) yang tenggelam di dam 1 Sungai Setail, Dusun Tempurejo, Desa Sidorejo, Kecamatan Purwoharjo, menambah deretan korban yang meninggal di tempat itu.
Korban yang meninggal dengan kaki terikat tali plastik dan besi sebagai pemberat itu, membuat warga penasaran dengan bendungan yang dibangun semasa penjajahan Belanda itu. “Dam 1 ini bangunan kuno, dibangun Belanda pada 1927,” cetus salah satu warga yang juga penjaga pintu air Dam 1, Cahyo Nurohim, 37.
Cahyo yang rumahnya tidak jauh dari dam 1 Sungai Setail itu menyebut, bendungan kuno itu banyak digunakan warga untuk berbagai keperluan. Bila musim kemarau, warga dari beberapa desa di Kecamatan Purwoharjo dan Cluring, mandi dan mencuci di sekitar dam 1 itu. “Biasa dibuat mandi dan mencuci, kalau kemarau ramai sekali,” terangnya.
Dengan lokasi yang asri, di bendungan itu juga sering menjadi jujugan warga, terutama kalangan muda untuk menghabiskan waktu sorenya. “Kalau sore banyak anak-anak muda yang tongkrongan di tempat ini,” jelasnya.
Di balik keindahan dan menjadi jujugan warga untuk beristirahat itu, terang dia, di sekitar dam 1 ini kerap terjadi peristiwa-peristiwa mistis, dan penemuan orang yang meninggal karena tenggelam. “Hampir setahun sekali (ada orang tenggelam), bulan kejadiannya juga nyaris sama,” cetusnya.
Kejadian mistis yang sering didengar warga, jelas dia, ada suara anak kecil yang minta tolong. Di sekitar bendungan itu, warga mendengar suara keramaian seperti pasar. “Ada penampakan orang bertubuh besar di sekitar dam 1,” ungkapnya.
Kanitreskrim Polsek Purwoharjo, Ipda Agus Suhartono pada Jawa Pos Radar Genteng mengakui di sekitar dam 1 itu memang sering ada penemuan mayat. Setahun lalu, di lokasi itu juga ada orang tenggelam dan meninggal. “Yang tahun lalu murni tenggelam, kalau kali ini (Purwanto) bunuh diri,” sebutnya. (mg3/abi)
Editor : Ali Sodiqin