Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Di-PHK Bandara Ngurah Rai, Fadhel Banting Setir Budi Daya Ikan Channa

Ali Sodiqin • Jumat, 27 Agustus 2021 | 14:35 WIB
di-phk-bandara-ngurah-rai-fadhel-banting-setir-budi-daya-ikan-channa
di-phk-bandara-ngurah-rai-fadhel-banting-setir-budi-daya-ikan-channa


RadarBanyuwangi.id – Diberhentikan dari pekerjaannya sebagai petugas check-in Bandara Ngurah Rai, Bali, tidak membuat Muhamad Fadhel putus asa. Pemuda berusia 23 tahun itu kini punya kesibukan baru yang bisa menghasilkan uang lumayan besar. Di rumahnya Dusun Wadungdolah, Desa Kaligondo, Kecamatan Genteng, Fadhel sukses budi daya ikan jenis Channa.



Fadhel adalah satu dari sekian banyak pekerja yang harus merasakan kejamnya dampak pandemi Covid-19. Dia terpaksa menerima kenyataan di-PHK (pemutusan hubungan kerja) dari pekerjaannya sebagai seorang Airline Passengers Service Agent (Pasasi) di bandara.



Fadhel mengaku setelah tidak bekerja hampir tiga bulan, dirinya memutuskan untuk memulai bisnis ikan Channa alias jenis ikan gabus-gabusan. Dia memulai usahanya dengan modal awal sebesar Rp 2 juta untuk membeli 25 ikan dan enam akuarium. Modal awal itu pun dia dapat dari mencairkan BPJS miliknya.



Fadhel awalnya tertarik membudidayakan ikan Channa lantaran ”diracuni” oleh salah satu temannya yang sudah lebih lama di bisnis tersebut. ”Awalnya sempat ragu, takut kalau nanti banyak ikan yang mati. Tapi karena sejak lama saya sudah suka memelihara ikan, saya akhirnya memberanikan diri,” ucap Fadhel ditemui di rumahnya, Dusun Wadungdolah, Desa Kaligondo, Kecamatan Genteng, awal pekan lalu.



Meski di awal sempat mendapat penolakan dari keluarganya, Fadhel tetap teguh untuk memulai bisnis ikan Chana miliknya. Dia mengaku awalnya diam-diam ketika membeli akuarium untuk tempat hidup ikan-ikan miliknya. ”Awalnya sempat dipertanyakan, bahkan ditolak sama keluarga. Terutama ayah dan nenek saya. Tapi saya ingin membuktikan kalau bisnis ini bisa jalan,” ujar dia.



Pemuda 23 tahun itu mengatakan, setelah membeli 25 ikan Channa kisaran umur tiga minggu, ia terlebih dahulu fokus untuk melakukan pembesaran sebelum lanjut budi daya. Fadhel menambahkan, tren ikan Channa yang sedang ramai di kalangan anak muda ini akan bertahan lama lantaran pemijahan ikan Channa tergolong sulit.



Pemijahan ikan Channa memiliki teknik yang tidak semua orang tahu. ”Kalau cupang kan mudah, satu pasang ikan ditaruh di satu wadah bisa langsung berkembang biak. Channa lebih sulit, kadang salah satu di antaranya bisa mati kalau tekniknya salah,” jelas Fadhel.



Dengan sabar dia terus menginvestasikan hasilnya menjual ikan untuk membeli akuarium baru. Sedikit demi sedikit. ”Kalau ada ikan yang laku, langsung saya belikan akuarium baru. Saya isi lagi dengan ikan lain. Yang penting akuarium banyak dulu, soalnya banyak ikan yang saya taruh timba,” ujar pemuda yang punya hobi bermain futsal ini.



Selain budi daya dan jual beli Channa, Fadhel kerap menerima titipan ikan untuk ia latih ”mentalnya”. ”Banyak yang ’nyekolahin’ ikan ke saya. Dari yang awalnya ikannya mentalnya jelek, saya latih kok ternyata bisa bagus lagi. Ya nanti terus saya dikasih uang dari melatih ikan itu,” katanya.



Dari bisnis budi daya ikan Channa ini, Fadhel bisa meraup untung kisaran Rp 3 juta sampai Rp 4 dalam sebulan. Dia mengaku banyak memasarkan ikannya di media sosial dan market place. ”Saya lebih sering memasarkan ikan-ikan saya di Instagram. Bisa dicari Java Channa. Di YouTube juga banyak tutorial merawat ikan,” tandasnya.



Agar bisnisnya bisa lebih berkembang lagi, Fadhel berharap tren Channa bertahan lama. ”Saat ini saya punya ratusan ikan Channa berbagai jenis. Dari enam akuarium sekarang juga sudah ada hampir 30-an akuarium,” pungkasnya. (mg3/aif/c1)


Editor : Ali Sodiqin