RadarBanyuwangi.id – Pandemi Covid-19 menggugah kepedulian dari berbagai pihak. Ragam cara dilakukan untuk bangkit melawan Covid. Tidak terkecuali kalangan Komunitas Al Kautsar di Banyuwangi. Demi meringankan beban penderita Covid, mereka terus memproduksi air sendiri dengan pH (potential hydrogen) di atas rata-rata untuk diamalkan kepada masyarakat dan pasien Covid-19.
Meningkatnya kasus Covid-19 di Banyuwangi memicu kepedulian Komunitas Al Kautsar. Mereka memproduksi air dengan pH di atas rata-rata untuk dibagikan secara gratis kepada para penderita Covid-19.
Komunitas yang bermarkas di Jalan Cemara, Gang Prabu Brawijaya V, Kelurahan Kebalenan, tersebut memproduksi air mineral dengan pH mencapai sembilan. Produksi air secara tradisional tersebut, ternyata juga sudah terkirim ke luar kota.
Air produksi dari amal masyarakat itu disebut-sebut mampu menumbuhkan imunitas tubuh para pasien terkonfirmasi Covid-19. ”Ini air biasa, memiliki indikator tingkat asam atau basa hanya empat. Air yang kita produksi pH-nya mencapai sembilan,” ujar Ketua Komunitas Al Kautsar Dana Yuda Setiawan.
Produksi air dengan pH cukup tinggi diproduksi secara tradisional hanya menggunakan bongkahan batu yang dililit tembaga, lalu disambungkan dengan aliran listrik. ”Hanya pakai batu yang dililit tembaga diletakkan di aliran listrik. Lalu air yang sebelumnya direbus hingga mendidih itu diletakkan di atas batu hingga beberapa menit,” papar lelaki 42 tahun tersebut.
Produksi air tersebut awalnya hanya dikonsumsi sendiri di kalangan keluarga. Beberapa keluarga yang pernah terkonfirmasi Covid-19 merasakan manfaatnya. ”Setelah minum air ini, mereka merasa sedikit membaik. Bahkan, imunitas tubuh mereka juga cukup meningkat,” terang suami dari Herbiana Yuniati tersebut.
Dari inspirasi itulah, Dana bersama delapan pengurus komunitas Al Kautsar memutuskan untuk menyedekahkan air tersebut kepada penderita Covid-19. Air tersebut dikemas dengan program sedekah botol. ”Awalnya kepada para pasien yang melakukan isolasi mandiri (isoman), akhirnya berkelanjutan kepada pasien yang melakukan isolasi terpusat (isoter),” tuturnya.
Beberapa pasien yang mengonsumsi air tersebut, juga merasakan manfaatnya. Mereka juga berhasil sembuh melawan Covid-19. ”Dari beberapa laporan, kita dapatkan bahwa pasien yang mengonsumsi air yang kita produksi sendiri dan dibagikan secara gratis berhasil sembuh. Sehingga, kita terus lakukan pengembangan dengan menyedekahkan air tersebut kepada penderita,” ucapnya.
Produksi air tersebut bukan hanya dengan kemasan botol satu liter saja. Komunitas ini juga memproduksinya dengan tandon air. ”Sehari bisa ribuan liter yang diproduksi. Hanya dengan menunggu air mendidih dan diberi batu yang lilitan tembaga di bawahnya dengan dialiri listrik selama 4–10 menit. Tergantung isi tabung atau botol,” paparnya.
Kabar air pH tinggi tersebut langsung menyebar ke masyarakat luas. Warga berdatangan untuk mendapatkan air. ”Kita kirim secara gratis ke Bali, Lumajang, Surabaya, dan kabupaten lainnya. Kita tidak pernah memungut biaya apa pun kepada penerima dan tidak pernah menjual air hasil produksi tersebut,” kata Dana.
Dari pengalaman pribadi, anak Dana bernama Sela Febriana, 19, pernah terpapar Covid. Sebagai bapak, Dana rela melakukan apa saja demi kesembuhan buah hatinya tersebut. ”Kami merasa kasihan, ketika keluarga ada yang terpapar Covid-19. Jelas mereka cukup terpukul. Kami berusaha menguatkan mereka dengan memberikan air tersebut,” ungkapnya.
Dari itulah, pihaknya bersama para anggota komunitas berkomitmen untuk tidak pernah menjual air tersebut. Dana akan memberikan air tersebut secara gratis kepada masyarakat yang membutuhkan. ”Jika membutuhkan air itu, silakan ambil. Kita juga siapkan dua tandon air untuk masyarakat yang mengambil secara langsung di markas Komunitas Al Kautsar,” ujar Dana. (rio/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin