RadarBanyuwangi.id – Banyuwangi punya segudang potensi bidang pertanian. Selain dikenal sebagai lumbung padi, kabupaten the Sunrise of Java ini juga merupakan penghasil aneka buah. Bahkan, kini Bumi Blambangan memiliki satu kampung yang disebut ”Kampung Jambu”.
Terletak di ujung timur Pulau Jawa. ”Dikelilingi” hutan dan gunung. Luas daratan mencapai 5.782,5 kilometer (km) persegi. Begitulah kondisi geografis Banyuwangi. Daerah yang berbatasan dengan Situbondo, Jember, dan Bondowoso, serta Selat Bali dan Samudera Indonesia, ini merupakan kabupaten paling luas di Jatim.
Luas daratan tersebut berbanding lurus dengan produksi pertanian di Bumi Blambangan. Badan Pusat Statistik (BPS) melansir, produksi padi Banyuwangi pada 2020 mencapai 794.384 ton. Rinciannya, produksi padi sawah sebesar 788.971 ton dan padi ladang sebanyak 5.413 ton.
Tak jauh berbeda, Dinas Pertanian dan Pangan mencatat, pada 2020 Banyuwangi menghasilkan 788.971 ton gabah kering giling atau setara 495.079 ton beras. Sedangkan tingkat konsumsi beras di Banyuwangi pada periode yang sama ”hanya” sebesar 165.411 ton. Sehingga sepanjang 2020 Banyuwangi surplus beras sebanyak 329.688 ton.
Selain beras, produksi aneka buah di Banyuwangi juga melimpah. Contohnya jeruk siam dengan jumlah produksi di tahun 2020 mencapai 190.149 ton dan pisang sebanyak 153.160 ton (berdasar data BPS yang dilansir dalam buku Banyuwangi dalam Angka tahun 2021).
Seolah tak ada habisnya, rupanya Banyuwangi juga menjadi penghasil aneka buah lain dengan jumlah cukup signifikan. Salah satunya jambu. Bahkan, di kabupaten ini terdapat satu kampung yang lahan pertaniannya didominasi oleh tanaman jambu dengan ragam varietas. Kampung Jambu tersebut adalah Dusun Sumberagung, Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari.
Menurut data dari Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi, di kampung ini terdapat tidak kurang dari 41 hektare (ha) lahan yang ditanami aneka tanaman jambu biji maupun jambu air. Ada ”jambu kristal”, ”jambu madu deli”, dan ”jambu citra”.
Salah satu petani, Slamet, mengaku cocok menanam jambu lantaran masa panen cukup cepat dari saat kali pertama ditanam. Tanaman jambu yang berumur 2,5 sampai 3 tahun sudah bisa dipanen. ”Musim panen jambu bisa dua kali dalam setahun. Setiap musim berlangsung sampai empat bulan,” ujar Slamer kepada RadarBanyuwangi.id.
Selain itu, harga buah juga cukup stabil di pasaran. Jambu kristal, misalnya, harganya berkisar antara Rp 8 ribu sampai Rp 10 ribu per kilogram (kg), sedangkan jambu madu deli sebesar Rp 11 ribu sampai Rp 16 ribu per kg. Adapun harga jambu citra bisa mencapai Rp 18 ribu sampai Rp 21 ribu per kg. ”Jika sudah musim, setiap pekan bisa panen,” kata Slamet.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi Arief Setiawan menambahkan, produktivitas tanaman jambu cukup tinggi. Produksi jambu biji bisa mencapai 155 kuintal per ha, sedangkan produktivitas jambu air bisa mencapai 8 kuintal per ha. ”Dalam hitungan kasar kami, produksi jambu air di sini bisa mencapai 20 ton setiap musim. Sedangkan jambu biji bisa mencapai 512 ton,” ujarnya saat mendampingi Bupati Ipuk Fiestiandani berkunjung ke desa tersebut beberapa waktu lalu (18/6).
Sementara itu, Bupati Ipuk mengapresiasi langkah para petani menanam komoditas jambu. Menurut dia, semakin beragam jenis komoditas hortikultura yang dikembangkan, maka semakin baik. ”Memang harus diatur. Jangan karena di daerah tertentu sukses tanam buah naga, lalu ikut-ikutan tanam buah naga. Akhirnya, saat masa panen tiba, terjadi penumpukan hasil panen. Harganya jatuh,” terangnya.
Selain itu, Bupati Ipuk juga mendorong para petani untuk berinovasi mengolah hasil panen. Salah satunya dengan menjadikannya buah beku (frozen fruit). ”Ini sekarang sedang diminati sama pasar. Harganya juga relatif lebih mahal,” tuturnya.
Pada kesempatan tersebut, Bupati Ipuk juga menyatakan siap memenuhi permintaan para petani untuk membuat sumur bor. Karena selama ini para petani kerap kesulitan air. Rencananya, pembangunan sumur bor dilakukan tahun depan. ”Pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2022 kita realisasikan,” kata dia. (sgt/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin