Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ada Kamar Bola Tempat Dansa

Ali Sodiqin • Rabu, 9 Juni 2021 | 14:00 WIB
ada-kamar-bola-tempat-dansa
ada-kamar-bola-tempat-dansa


RadarBanyuwangi.id - Gedung Juang pada era kolonial Belanda pernah difungsikan sebagai gedung bioskop dan tempat bersosialisasi. Ada berbagai hiburan yang ditampilkan. Bahkan, ada ruang khusus untuk dansa.



Sejumlah catatan literatur yang diperoleh Banyuwangi Tempoe Doloe (BTD) menyebutkan bahwa gedung bioskop masa kolonial Belanda di Banyuwangi kala itu ada dua, yaitu Societeit de Club Bioscoop di Kepatihan yang merupakan milik orang Eropa W.C.H Toewater dan Srikandi Bioscoop yang terletak di selatan Masjid Agung Baiturrahman milik warga pribumi M.A. Edris.



Societeit de Club termasuk bioskop elite yang penontonnya adalah golongan orang-orang Belanda dan ras kulit putih murni yang datang dari Eropa. Dalam struktur pengelompokan ala kolonial, mereka disebut warga kelas satu zaman itu.



Adapun film yang di putar di bioskop tersebut adalah film Jerman dan Hollywood dengan terjemahan teks bahasa Belanda. Gedung Societeit ini terletak di utara Taman Blambangan. Di samping sebagai bioskop, gedung tersebut juga berfungsi sebagai tempat bersosialisasi dengan menampilkan berbagai hiburan dan permainan. Di antaranya adalah permainan biliar (bola sodok).



Di era Belanda, Gedung Societeit tersebut juga digunakan untuk penyambutan tamu-tamu penting. Rombongan Mangkoenegoro juga dijamu di Gedung Societeit ini. ”Masyarakat dulu menyebut dengan nama Kamar Bola lokasinya saat ini berada di Gedung Juang 45,” ujar Ketua BTD Munawir kepada RadarBanyuwangi.id.



Sementara Bioskop Srikandi terletak di selatan Masjid Agung Baiturrahman saat ini. Di sana sering memutar film Melayu dan Mandarin dengan terjemahan bahasa Melayu dan Mandarin (Kuo yu). Film-film yang terputar di Bioskop Srikandi ini lebih disukai oleh masyarakat Tionghoa peranakan dan masyarakat pribumi.



Sejumlah film Melayu yang sangat disukai kala itu, lanjut Munawir, seperti film berjudul Terang Boelan (1937), Alang-Alang, Gagak Hitam (1939), Dasima, Kris Mataram, dan Melati van Agam (1940).



Bisa disimpulkan, Gedung Juang 45 pada era zaman kolonial Belanda adalah Gedung Societeit atau lebih dikenal dengan sebutan kamar bola. Yang dipergunakan sebagai tempat dansa dan penyambutan tamu-tamu penting, dengan menampilkan berbagai hiburan dan permainan.



Baru pada zaman kemerdekaan, gedung ini difungsikan sebagai Gedung Nasional Indonesia (GNI). Kemudian pada era Bupati Joko Supaat Slamet sekitar tahun 1966–1978, gedung tersebut menjadi Gedung Juang 45 hingga era Bupati Abdullah Azwar Anas. Gedung tersebut kembali dipugar pada tahun 2015 dan selesai tahun 2020. (ddy/bay/c1)


Editor : Ali Sodiqin
#gedung juang #arsitektur