RadarBanyuwangi.id – Belasan perwakilan dari sembilan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) di Banyuwangi Kamis pagi (20/5) kemarin menggelar rapat di lokasi wisata Kalongan, Desa Pesucen. Mereka kerja keroyokan menghidupkan kembali wisata Kalongan yang sempat ”mati suri” selama beberapa tahun.
”Ring kalongan, ati nyangsang
Ring pucite wit-witan
Membat manyun, ala- emas
Awak nyun-nyunan
Edeng-edeng temurun jurang
Ereng-ereng, apuwo tah sayan kukuh
Ulihe sun gandholan, ring kalongan
Ati cicir, ono ring gerojogan”
LIRIK lagu di atas adalah penggalan lagu berjudul ”Kalongan” yang dinyanyikan Wiwit Prastica pada tahun 2000. Lagu kendang kempul itu berisikan syair cinta. Liriknya menceritakan setiap sudut tempat wisata Kalongan.
Tempat yang dulu terkenal dengan keasrian air terjunnya itu sempat berjaya di era 1990. Hingga kemudian mulai tenggelam namanya dan ditinggalkan oleh para pengunjung.
Kalongan sempat tidak terawat selama bertahun-tahun. Tumbuhan liar menutupi embung yang ada di tengahnya hingga nyaris tak tampak airnya. Sampai kemudian pihak Desa Pesucen mulai mengajak warga bergotong-royong menghidupkan kembali Kalongan dari ”kematian” pada akhir Desember 2020.
Kalongan kembali dibuka sebagai tempat wisata setelah Hari Raya Idul Fitri. Kali pertama dibuka untuk umum berhasil mendatangkan lebih dari 400 orang dalam waktu dua hari.
Kepala Desa Pesucen Maksum mengatakan, ada ratusan warga dari 22 RT yang terlibat dalam langkah untuk menghidupkan lagi wisata Kalongan. Yang pertama kali dilakukan adalah membersihkan embung yang banyak ditumbuhi tanaman liar. Embung itu seharusnya memiliki kedalaman 12 meter. Gara-gara endapan dan tanaman liar, kala itu kedalamannya hanya sekitar 1 meter saja.
Warga akhirnya ikut turun mengeruk endapan tanah yang menutupi embung sehingga kondisinya lebih bersih. Saat ini, embung tersebut sudah bisa digunakan untuk berwisata kano. ”Yang terpenting masyarakat antusias untuk menghidupkan lagi tempat wisata Kalongan. Sekarang kita siapkan agar Kalongan bisa seperti dulu atau lebih baik,” kata Maksum.
Kasi Pemberdayaan Masyarakat dan Kesejahteraan Rakyat Kecamatan Kalipuro Eko Mulyanto menambahkan, Kalongan saat ini disiapkan menjadi pilot project sebuah geosite. Tak sekadar tempat wisata yang dibangun untuk fasilitas rekreasi, tapi juga memiliki nilai edukasi, ekologi, dan ekonomi. Nantinya Kalongan tak hanya menjadi tempat wisata dengan level desa, tapi lebih luas lagi.
Untuk membangun Kalongan, jelas Mulyanto, ada sembilan SKPD yang diundang untuk bisa bersama-sama merencanakan konsep geosite yang akan dibangun. Mulai dari Bappeda, DPMD, PU Pengairan, DLH, Disbudpar, PU Cipta Karya, Dinas Perizinan, Dinas Pertanian, dan Dinas Perikanan.
”Kita ajak Bappeda untuk memastikan pengembangan Kalongan agar bisa masuk rencana pembangunan pemerintah. Instansi lainnya juga kita ajak berdiskusi agar semuanya bisa dikembangkan dengan optimal,” kata pria yang akrab disapa Yayan itu.
Rencana Geosite Kalongan tak lepas dari kondisi alam yang menunjang keberadaan kawasan wisata tersebut. Hiburan tetap akan menjadi perhatian utama. Selain kano, rencananya akan dibangun beberapa wahana permainan tradisional yang biasanya dimainkan di sekitar tempat yang berhubungan dengan air seperti Kalongan.
”Kalongan dulu sempat jaya, kemudian tenggelam. Salah satu penyebabnya adalah tidak ada atraksi seni yang berkesinambungan. Karena itu kita minta pertimbangan beberapa SKPD untuk memberi saran, atraksi seperti apa yang bagus dan boleh di sini,” kata Yayan.
Pihaknya berencana menjadikan sebagian sisi Kalongan sebagai tempat budi daya ikan hias. Kemudian ada juga budi daya produk hortikultura dengan konsep low cost. Jenis tanaman bisa disesuaikan dengan kondisi di Kalongan sehingga tak bergantung dengan keberadaan pupuk.
”Selain menjadi tempat wisata, kita berharap bisa menghasilkan produk yang membuat orang-orang di luar sana mengingat Kalongan. Tempat ini bisa menjadi stimulus pembangunan tempat wisata di Kecamatan Kalipuro,” jelasnya.
Tak hanya SKPD, sejumlah perwakilan Pokdarwis di Kecamatan Kalipuro juga diundang dalam pertemuan tersebut. Mereka diharapkan bisa ikut memberikan dukungan agar revitalisasi wisata Kalongan menjadi sebuah geosite bisa terwujud.
”Kawasan ini nantinya bisa menjadi titik pemulihan ekonomi pasca pandemi Covid-19. Kita libatkan masyarakat dengan usia 13 sampai 45 tahun, agar tempat wisata ini juga bisa diterima milenial,” tegas Yayan.
Sekretaris Disbudpar Banyuwangi Choliqul Ridho optimistis Kalongan bisa mengembangkan potensi sebagai bagian dari Geopark. Kondisi alam Kalongan masih utuh. Di sana pernah ditemukan capung jenis Amphiaeschna ampla. Capung jenis ini sempat lama menghilang dan terakhir muncul pada tahun 1940. Rupanya serangga tersebut bersama beberapa spesies langka lainnya ada di Kalongan. ”Ini salah satu bukti kalau kawasan ini masih lestari,” kata Ridho.
Selain Kalongan, ada beberapa tempat wisata yang mengalami nasib serupa. Seperti Antogan dan Gumuk Klasi. Seiring perkembangan zaman dan minimnya branding, tempat-tempat tersebut kini ditinggalkan pengunjung karena tidak terawat. ”Selain viewset, kita akan lihat potensi budaya di sini. Jika ada akan kita kembangkan,” kata Ridho. (fre/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin