RadarBanyuwangi.id – Kiai merupakan sosok sentral di pesantren. Di balik sosok seorang kiai, ternyata ada figur yang tidak tampak di permukaan, tapi jasanya sangat penting, yaitu sopir. Meski tak mendapat gaji pasti, para sopir kiai ini ikhlas mengabdi.
Belasan anak muda duduk bersila memutar di salah satu rumah di Desa Blambangan, Kecamatan Muncar, akhir pekan lalu. Mengenakan sarung dan berkopiah, mereka tampak santai. Canda tawa di antara mereka pecah, seolah tak ada rasa lelah.
Para pemuda berkopiah itu adalah sopir kiai di Banyuwangi. Mereka tergabung dalam Driver Kiai Banyuwangi (DKB). Para sopir kiai ini sengaja berkumpul untuk agenda buka puasa bersama. Mereka juga tengah menyambut kedatangan seorang kawan sopir dari Jember.
Saat melakukan kopi darat (kopdar) sesama sopir kiai, mereka saling berbagi tentang pengalaman selama dalam perjalanan. Termasuk berdiskusi mengenai jalur yang dilewati. ”Kami justru banyak informasi dari sesama sopir kiai,” ungkap Ketua DKB Ahmad Shidiq.
Sopir KH Masykur Ali ini mengungkapkan, komunitas sopir kiai tak hanya ada di Banyuwangi. Sebagai induk organisasi, para sopir kiai sudah terwadahi dalam komunitas Sopir Kiai Nusantara (SK NU). Anggotanya adalah para sopir-sopir kiai se-Indonesia. Untuk daerah Banyuwangi, komunitas kecilnya diberi wadah bernama Driver Kiai Banyuwangi (DKB). ”Kalau di masing-masing kabupaten punya nama sendiri-sendiri, tapi kalau grup besarnya tetap SK NU,” kata Shidiq.
Shidiq mengakui seorang sopir kiai memang tak memiliki bayaran rutin tiap bulan layaknya sopir para pejabat atau pengusaha. Namun, jika bicara loyalitas, santri memiliki tanggung jawab yang sangat besar. Mereka harus mampu memberikan pelayanan yang terbaik kepada kiai. Mendampingi dan mengantar kiai ke tempat tujuan adalah pengabdian. ”Mereka harus berangkat kapan pun jika diperlukan oleh kiai. Sebagian besar sopir kiai adalah santri,” ujar Shidiq.
Sejak berdiri 21 Januari 2019, keberadaan DKB dinilai sangat bermanfaat. Saat bertugas mengantar kiai ke luar kota, mereka saling menghubungi. ”Kalau ke luar kota, kami saling komunikasi lewat WhatsApp (WA) Group SK NU,” ujarnya.
Dari grup WA tersebut, mereka bisa saling komunikasi dan berbagi. Misalnya jalan mana yang paling cepat untuk dilewati atau mencari jalur alternatif agar tidak terjebak macet. Bahkan, jika ada peristiwa lain seperti mobil mogok di tol, solidaritas sesama anggota komunitas baru bisa dirasakan. Mereka saling bahu-membahu.
Pernah ada kejadian mobil kiai mogok di tol kemudian diderek hingga ke pintu keluar. Tentu biaya untuk menderek mobil sangat mahal. Berkat komunitas SK NU, sopir terdekat langsung merapat dengan mengontak mobil derek. ”Awalnya sewa derek Rp 5 juta, karena dibantu rekan komunitas SK NU biaya lebih murah dan terjangkau,” kenang Shidiq.
Peristiwa lainnya adalah saat mobil mogok di tengah perjalanan. Begitu dikontak, bala bantuan mobil dari sesama sopir terdekat langsung datang dan mengantar kiai sampai ke tujuan. Sementara mobil yang mogok langsung diurus oleh komunitas SK NU yang berada di lokasi. ”Manfaatnya sangat besar, karena kami memang satu perjuangan khidmat pada kiai,” katanya.
Anggota komunitas ini bukan hanya santri aktif di pondok pesantren. Yang sudah berumah tangga dan memiliki anak juga ikut bergabung. ”Kebanyakan memang ngalap (mencari) berkah. Tidak ada yang berorientasi ke profit,” terang Shidiq.
Khusus untuk anggota DKB saat ini jumlahnya 49 orang. Mereka adalah driver kiai-kiai di Banyuwangi yang tersebar di 25 kecamatan. Mulai Kalibaru, Pesanggaran, hingga Wongsorejo. Dengan anggota yang cukup banyak, mereka biasa berkomunikasi melalui grup WA hingga media sosial. ”Jika ada sesama sopir luar daerah, kami yang ada di Banyuwangi siap dikontak untuk memberikan bantuan. Sopir kiai, butuh teman ngobrol sembari menunggu keperluan kiai selesai,” ungkap Shidiq.
Meski hanya sopir, sejumlah syarat dipasang untuk peraturan WAG. Di antaranya, seluruh anggota harus Nahdlatul Ulama (NU), tidak boleh berjualan barang di grup, dilarang men-share konten pornografi serta konten partai politik praktis. ”Jika terdapat anggota yang melanggar, admin langsung telepon yang bersangkutan dan memberikan tindakan tegas,” imbuhnya.
Ikatan yang terbangun antar sesama sopir kiai sangat kuat. Beberapa kali SK NU menggelar pertemuan skala nasional. Namun, saat berkumpul tidak semuanya bisa datang. Maklum, karena bagi para sopir kiai ini yang terpenting adalah khidmat kepada kiai. Jika ada waktu longgar, baru mereka akan menjalankan aktivitas di luar. ”Jargon kami, ngiwa nengen nderek kiai (ke kanan maupun ke kiri tetap ikut kiai),” pungkas Shidiq. (ddy/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin