Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Jika Ingin Tenar Harus Banyak Belajar Cengkok Kulonan

Ali Sodiqin • Kamis, 8 April 2021 | 19:00 WIB
jika-ingin-tenar-harus-banyak-belajar-cengkok-kulonan
jika-ingin-tenar-harus-banyak-belajar-cengkok-kulonan


RadarBanyuwangi.id - Pentas sinden Osing dalam rangkaian wisuda sinden baru yang dihelat di halaman kantor Disbudpar Senin malam (5/4) terasa istimewa. Tokoh-tokoh gandrung Banyuwangi hadir. Ada Temuk, Holipah, Sunasih, dan Siti. Pesinden kondang asal Hongaria, Agnes Serfozo, ikut ngerumpi dalam wisuda sinden milenial tersebut. 



Lantunan tembang Gelang Alit melengking halus di atas panggung kantor Disbudpar malam itu. Belum tuntas gending itu dinyanyikan Tyas –  salah seorang pesinden muda— muncul suara sinden Jawa yang melanjutkan lirik Gelang Alit.



Suara itu muncul dari bibir Agnes Serfozo, yang malam hadir sebagai salah satu guest star di antara pesinden muda Banyuwangi. Dengan balutan kebaya warna merah, sinden berusia 40 tahun itu menuntaskan lagu Gelang Alit yang memancing tepuk tangan dari beberapa tamu yang hadir.



Agnes dikenal sebagai salah satu sinden yang kerap mengiringi pentas wayang kulit dalang kondang Jogjakarta almarhum Ki Seno Nugroho. Dia juga kerap menjadi bintang tamu pergelaran wayang kulit dari dalang-dalang ternama seperti  Manteb Soedharsono, Anom Suroto, Anom Dwijo Kangkow, Bayu Aji Pamungkas, dan Cahyo Kuntadi.    



Setelah turun dari panggung, Agnes tampak duduk tersenyum sambil menyaksikan penampilan sinden-sinden muda Banyuwangi. Selepas acara, sinden yang fasih berbahasa Indonesia itu masih menyempatkan diri berfoto dengan para sinden muda dan penonton. Wajahnya tampak gembira melihat antusiasme masyarakat yang sedemikian besar kepada kesenian lokal. ”Di sini unik sekali, saya senang melihat generasi Z dan milenial ikut menikmati penampilan seni,” kata Agnes.



Wanita kelahiran Budapest, Hongaria itu kemudian mengajak Jawa Pos Radar Banyuwangi berbincang tentang penampilan para sinden muda malam itu. Selama menekuni sinden gagrag Solo, Agnes mengaku baru kali ini melihat bagaimana sebuah budaya yang cukup kuat mengakar.



Antusiasme anak-anak muda untuk bisa turun menjadi sinden dan masyarakat yang berbondong-bondong menonton menjadi bukti jika tradisi gandrung masih cukup lestari. Masyarakat juga tidak malu dengan budayanya sendiri. Mereka  terkesan sangat bersemangat nguri-uri budaya Banyuwangi. ”Ibarat pohon, akarnya masih kuat sekali budaya gandrung di Banyuwangi ini. Selama bisa seperti ini, saya yakin budaya gandrung, janger, atau lainnya akan tetap eksis,” ungkap wanita yang kini menetap di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah tersebut.  



Agnes mengusulkan alangkah baiknya  Banyuwangi bisa memiliki jurusan ilmu seni yang khusus mengajarkan budaya Banyuwangi. Dia  mencontohkan tarian jaipong, tari bedoyo, dan tarian Bali bisa sangat terkenal hingga mancanegara. Namun kenapa Banyuwangi belum, padahal tarinya cukup indah. ”Bandung, Jogja, dan Bali menyediakan jurusan seni di sekolah tinggi mereka sehingga orang Barat bisa datang untuk belajar,” kata Agnes.



Dia berharap jurusan seni Osing di Banyuwangi bisa hadir di perguruan tinggi. Itu harus dilakukan agar lagu Osing atau kesenian Banyuwangi bisa masuk ke pentas yang lebih luas lagi,” harapnya.



Sebelum ikut tampil bersama pesinden muda Banyuwangi malam itu, Agnes mengaku harus kembali belajar. Gending Osing dan gending Jawa menurutnya sangat berbeda. Di samping segi bahasa, laras dan slendro, bahasa gending Osing cukup susah. Meski begitu Agnes mengaku senang ketika akhirnya punya kesempatan melantunkan gending Osing.



”Kalau lagu Gelang Alit dan Grajagan memang sudah biasa dibawakan para pesinden kulonan. Bagi saya sinden kulonan susah menyesuaikan. Butuh waktu, tapi saya senang bisa belajar lagu daerah,” ucap mahasiswa pascasarjana Universitas Sebelas Maret itu.



Sebelum meninggalkan Banyuwangi, Agnes  sempat membagikan ilmunya kepada para sinden muda. Jika ingin menjadi besar, sinden-sinden muda Banyuwangi harus bisa menguasai banyak hal. Termasuk cengkok kulonan supaya nantinya sinden Banyuwangi juga bisa masuk ke panggung wayang. ”Saya akan ke lokasi workshop Mak Temuk untuk mengajari sinden muda gending kulonan. Harapannya mereka bisa melebarkan sayapnya dan bertambah nilainya,” kata Agnes.



Ke depannya, Agnes ingin sinden bisa memiliki citra yang baik di tengah masyarakat. Selama ini, banyak orang yang menganggap sinden sama dengan wanita penghibur. Padahal, apa yang dilakukan sinden adalah sesuatu yang luhur. Tugasnya pun sama dengan dalang yang menjalankan seni pewayangan.



Agnes mengatakan tak mudah menjadi seorang sinden yang harus bekerja di antara dunia laki-laki. ”Ini tanggung jawab kita sebagai pelaku seni menghilangkan cap konotasi buruk bagi para sinden,” pungkasnya. (fre/aif/c1)


Editor : Ali Sodiqin
#dinas pariwisata #wisuda